Mihrab
Jangan Salah Melihat Peradaban Islam
Anggapan tentang Islam tidak bisa menciptakan kestabilan dan kemaslahatan dalam kehidupan ini amat sangat berbahaya
Ia lebih mengedepankan akalnya dari pada Syari’at,” ujar pengurus Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh ini.
Islam menjadikan dunia ini sebagai ladang tempat bercocok tanam.
Dunia sebagai tempat bekal ketika berada di akhirat kelak.
“Dunia ini sebagai manifestasi yang dapat membawanya ke alam pasca dunia yaitu akhirat.
Kebaikan yang dilakukan di dunia akan menjadi salah satu sebab nilai kebaikan di akhirat,” jelasnya.
Ilmu pengetahuan dan ilmuwan dalam Islam
Fakhrurrazi mengatakan, antara ilmu dan Tuhan tidak bisa dipisahkan (integratif).
Tradisi mengilmukan ilmu dikalangan umat Islam saat ini masih dalam tahap pencarian bentuk yang belum sempurna secara tidak dikotomis.
Baca juga: Mekkah Gelar Festival Malam Ramadhan, Museum Biografi Nabi Muhammad dan Peradaban Islam Dibuka
“Umat Islam pernah menjadi umat yang berilmu dan berperadaban tinggi, peduli terhadap tradisi keilmuan seperti yang pernah ada pada masa Bani Ummayyah dan Bani Abbasiyah,” sebutnya.
Potret tersebut merupakan patron sejarah peradaban Islam dengan kemegahan, kesejahteraan dan kemajuan dalam segala sektor kehidupan dimulai dari abad 7 sampai dengan 13 M.
Fakhrurrazi menegaskan ummat Islam harus memahami bahwa dikotomi Agama dan Ilmu Pengetahuan tidaklah ada dalam khazanah epistemologi Islam.
Keduanya berjalan dalam satu rel kesatuan, tujuan akhir keduanya agar terwujudnya masyarakat yang bertuhan sekaligus berilmu untuk memberikan rasa keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran bagi segenap ummat manusia di muka bumi. (ar)
Baca juga: Yayasan Peradaban Islam Diketuai Bachtiar Nasir Wakaf 5.000 Quran untuk Abdya, Diterima Bupati Akmal
Baca juga: Aceh Pusat Peradaban Islam Terawal di Asia Tenggara
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Dosen-Universitas-Bina-Bangsa-Getsempena-UBBG-Banda-Aceh-Fakhrurrazi-SpdI.jpg)