Rabu, 15 April 2026

Opini

Diplomasi Kuliner Aceh, Sebuah Keniscayaan

Maraknya pembukaan warung, kedai, kafe atau resto berlabel Aceh di Kota Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia, menjadi suatu sinyal bahwa kuli

Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/facebook j kamal farza
J Kamal Farza, advokat dan pegiat Sahabat Kuliner Aceh, Jakarta 

Oleh J Kamal Farza

Advokat dan Pegiat Sahabat Kuliner Aceh, Jakarta

BENCANA gempa dan tsunami Aceh 26 Desember 2004 lalu, menjadi momentum paling baik dan strategis bagi pengenalan kuliner Aceh bukan saja di level lokal dan nasional, melainkan lebih jauh level internasional.

Ribuan pegiat kemanusiaan yang datang ke Aceh bersama bala bantuan untuk korban bencana, menetap dan bekerja di Aceh selama satu sampai lima tahun, membuat mereka terbiasa dengan makan masakan Aceh. Sebagian sahabat saya orang non Aceh mengatakan, “Masakan Aceh hanya dua pilihan, enak dan enak bangets!”

Paska bencana tsunami dan para pegiat kemanusiaan mulai kembali ke negeri asalnya, mereka mulai mencari kuliner Aceh di kotanya.

Sebagian menemukan warung, kedai atau restoran Aceh, sebagian lagi harus berusaha menelepon sahabatnya di Aceh untuk menanyakan resep masakan tertentu.

SMKN 3 Banda Aceh Gelar Expo, Dari Kuliner, Busana Sampai Kecantikan

Bahkan sebagiannya harus mengeluarkan modal untuk mulai berbisnis, membuka resto Aceh di kotanya.

Kuah beulangong, mi Aceh, kari bebek, ayam tangkap dan kupi Aceh, adalah kuliner yang paling mereka gemari dan cari.

Tak jarang, kalau jarak tinggal mereka dengan Aceh misalnya hanya dua atau tiga jam penerbangan, mereka datang kembali ke Aceh hanya untuk mengobati kangen dengan masakan Aceh.

Gelombang massa (pegiat kemanusiaan) yang datang ke Aceh membantu rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh, membawa pengaruh pada pengenalan kuliner Aceh secara lebih masif pula bagi mereka.

VIDEO Pameran Kuliner & Kerajinan Murid SD di Bireuen

Selama lebih kurang lima tahun para pekerja kemanusiaan dan rehab rekon Aceh memberi pengaruh tersebut.

Selain itu, pengaruh dari masifnya warung kopi di Aceh dengan sebutan “Kota Seribu Warung” memberi kesan tersendiri bagi siapa pun yang pernah datang ke Aceh, baik sebagai pekerja rehab-rekon, turis, dan penziarah.

Kedai kopi sudah menjadi destinasi baru bagi para wisatawan baik lokal maupun internasional.

Oleh karena itu, bidang usaha kafe & resto Aceh, dengan menu berbahan kopi dan masakan khas Aceh merupakan salah satu bidang usaha yang berkembang secara sangat pesat bukan saja di Aceh tetapi di berbagai kota di Indonesia terutama di Jakarta di tengah kondisi perekonomian Indonesia yang bergerak maju saat ini.

Keunikan dari kopi dan masakan Aceh ini juga dapat dijadikan sarana untuk memuaskan konsumen, karena akan menghasilkan image positif yang akan selalu diingat oleh para konsumen.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved