Opini
Diplomasi Kuliner Aceh, Sebuah Keniscayaan
Maraknya pembukaan warung, kedai, kafe atau resto berlabel Aceh di Kota Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia, menjadi suatu sinyal bahwa kuli
Ikhtiar untuk membangun usaha bisnis ini dengan memiliki ciri khas dari menu-menu yang akan disajikan nanti, dengan menginovasikan biji kopi menjadi espresso yang dapat dibuat berbagai variasi untuk menu-menu minumannya, baik yang panas ataupun yang dingin.
Sedangkan untuk menu-menu makanannya, diolah oleh seorang chef profesional yang sudah berpengalaman, yang dikontrak dan dibawa dari Aceh dengan menu khas Ayam Tangkap dan Kuah Beulangong, tetapi tetap berpegang pada alur konsep yang sudah ditetapkan, sehingga terciptalah makanan yang enak dan sehat.
Mi Aceh dalam daftar
Setelah dua dasawarsa paska bencana gempa dan tsunami, kuliner Aceh kini menjadi salah satu pilihan menu ketika kita mendatangi kafe dan resto, bukan saja di Aceh tetapi juga di banyak kota di Indonesia, terutama Kopi Aceh, Kopi Gayo, Sanger, Ayam Tangkap dan Mi Aceh.
Beberapa pekan lalu saya masuk sebuah kafe di sebuah mall di Kota Palembang. Ketika melihat daftar menu yang mereka berikan, saya melihat ada Mi Aceh dalam daftar menu.
Lalu saya memilih menu itu, dan ternyata ketika dihidangkan, rasanya memenuhi standar untuk disebut Mi Aceh.
Penasaran, saya mengajak pramusaji untuk mengobrol. Beberapa pertanyaan saya, seperti apakah pemilik resto, chef atau pengelola resto itu orang Aceh, semuanya dijawab dengan satu kata: Tidak
Maraknya pembukaan warung, kedai, kafe atau resto berlabel Aceh di Kota Jakarta dan kota-kota besar lain di Indonesia, menjadi suatu sinyal bahwa kuliner Aceh diterima dan kini menjadi satu pilihan menu di antara ribuan makanan yang ada.
Sahabat Kuliner Aceh, sebuah komunitas untuk mempromosikan dan mendiplomasikan kuliner Aceh di Jabodetabek sendiri menargetkan memindahkan gelar Kota Seribu Warung untuk Banda Aceh menjadi, Kota Seribu Warung Aceh di Jabodetabek.
Sayangnya, semua warung-warung Aceh yang ada dan bertumbuh di Jabodetabek itu, sama sekali luput dari perhatian, sentuhan, dan bantuan dari Pemerintah Aceh, dari zaman dulu sampai kini.
Pemerintah Aceh belum melirik itu sebagai potensi bisnis yang menjadi andalan dalam memakmurkan warga Aceh.
Pengalaman selama ini, Kantor Penghubung Aceh di Jakarta, lebih tertarik menyediakan dana untuk memfasilitasi pemulangan jenazah orang Aceh yang meninggal di Jakarta daripada menyediakan dana untuk memberikan bantuan modal bagi pegiat bisnis kuliner Aceh.
Ini berbeda sekali dengan masa awal pertumbuhan Warung Padang di perantauan.
Mereka bukan saja mendapatkan bantuan modal atau tambahan modal, tetapi juga mendapatkan bantuan teknis, edukasi, dan promosi dari pemerintah provinsi urang awak itu.
Maka tak heran misalnya, Kota Sawahlunto di Sumatera Barat menjadi daerah dengan tingkat kemiskinan terendah seluruh Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/j-kamal-farza.jpg)