Kamis, 23 April 2026

Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan Ekonomi Aceh Naik jadi 4,2 Persen, Ekonom: Prestasi bagi Pemerintah Aceh

Sebelumnya, ungkap Rustam Effendi,  daya serap anggaran hanya mencapai 85 persen. Dan yang membuat pertumbuhan ekonomi pada dua tahunnya rendah, di sa

Penulis: Herianto | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/HERIANTO
Ekonom Universitas Syiah Kuala (USK) Dr Rustam Effendi SE M Econ, CFRM, CHRA menyatakan, Pemerintah Kabupaten/Kota pada tahun anggaran 2023 ini, harus lebih berhati-hati lagi, dalam mengambil kebijakan pelaksanaan anggaran belanja APBK 2023. 

Laporan Herianto l Banda Aceh

SERAMBINES.COM, BANDA ACEH - BPS Aceh merilis angka pertumbuhan ekonomi (PDRB) Aceh pada akhir tahun 2022 kemarin, sudah mencapai sebesar 4,2 persen, dibandingkan akhir tahun 2021 hanya sebesar 2,79 persen, naik sebesar 1,42 persen.

 “Ini merupakan prestasi bagi Pj Gubernur dan Sekda Aceh, karena kenaikan yang cukup mengejutkan. Alasannya, pada masa pandemi Covid 19 tahun 2020, pertumbuhan ekonomi Aceh masih minus 0,37 persen,” kata Ekonom USK, Dr Rustam Effendi kepada Serambi, Senin (6/2/2023) di Banda Aceh.

Kemiskinan, UMKM dan Investasi Aceh

Membaiknya pertumbuhan ekonomi Aceh pada akhir tahun 2022 ini, menurut Ekonom USK, Dr Rustam Effendi, pasca pergantian kepemimpinan Aceh pada 5 Juli 2022 lalu dari Gubernur Nova Iriansyah kepada Pj Gubernur Aceh, Achmad Marzuki dan dua bulan kemudian dilanjutkan pergantian Sekda dari Taqwallah kepada Bustami Hamzah.

Sistem pelaksanaan proyek APBA 2022 dan penyerapan anggarannya semakin besar.

Kondisi itu, kata Rustam Effendi, membuat peredaran uang di daerah menjadi besar. Ini dibuktikan oleh penyerapan dana APBA 2022 kemarin mencapai sebesar 94 persen lebih dari pagunya Rp 16 trilliun lebih.

Sebelumnya, ungkap Rustam Effendi,  daya serap anggaran hanya mencapai 85 persen. Dan yang membuat pertumbuhan ekonomi pada dua tahunnya rendah, di samping pengaruh pandemi covid 19, kemudian banyak belanja publik dialihkan untuk penangnan pandemi covid 19.

Penyanyi Iran, Pencipta Lagu Demonstrasi Anti-Pemerintah Meraih Grammy Awards 2023

Belanja publik yang awalnya akan digunakan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat, karena dialihkan untuk kegiatan penanganan pandemi covid 19, di akhir tahun jadi Silpa. Silpa Aceh dua tahun berturut-turut nilainya, masing-masing mencapai Rp 3,9 triliun.

Karena banyak belanja publik menjadi Silpa pada akhir tahun, wajar  pertumbuhan ekonomi Aceh tahun 2020 minus 0,37 persen dan tahun 2021 hanya tumbuh sebesar 2,79 persen.

Setelah kepemimpinan beralih dari Nova Iriansyah kepada  Achmad Marzuki dan Bustami Hamzah, belanja publik dalam APBA 2022, ditingkatkan dengan cara melakukan RAPBA Perubahan 2022.

Perubahan APBA 2022,  telah membuat belanja publik menjadi besar, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah jadi tinggi, ditambah nilai ekspor non migas Aceh naik cukup tinggi pada tahun lalu, membuat kenaikan pertumbuhan ekonomi dari sebesar 2,79 persen naik menjadi sebesar 4,21 persen.

Andil terbesar yang mendorong pertumbuhan ekonomi (PDRB) Aceh akhir tahun 2022 menjadi 4,21 persen, kata Rustam Effendi, berdasarkan data yang diterbitkan BPS Aceh, antra lain dari sektor perdagangan besar dan eceran, penjualan sepeda motor dan reparasi memberikan andil sebesar 0,94 persen, kemudian sektor pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 0,92 persen.

Kemudian lapangan usaha transportasi dan pergudangan sebesar 0,46 persen, informasi dan komunikasi 0,46 persen, akomodasi dan makanan minum 0,37 persen, pertambangan dan penggalian 0,33 persen, jasa kesehatan dan sosial sebesar 0,33 persen.

Industri pengolahan sebut Rustam Effendi, tumbuh sebesar 0,19 persen, real estate juga tumbuh sebesar 0,17 persen  dan lainnya.

Sementara dari jasa konstruksi pertumbuhannya masih minus 0,24 persen dan jasa keuangan juga masih minus 0,10 persen.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved