Opini

Lesson Learned dari Gempa Turki

Sejak kejadian gempa Izmit (Turki) tahun 1999 para ahli sudah memperkirakan akan tingginya risiko kerusakan akibat gempa di Turki, karena Turki terlet

Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Dr Ir Bambang Setiawan ST MEng Sc, Ketua Jurusan Teknik Kebumian Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala 

Oleh Dr Ir Bambang Setiawan ST MEng Sc

Ketua Jurusan Teknik Kebumian Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala

DATA sejak 1980 hingga Juli 2022 dari sebuah lembaga internasional yang bergerak di bidang statistik menyatakan bahwa gempa yang diikuti dengan tsunami di Samudera Hindia pada Desember 2004 menjadi bencana alam paling banyak menyebabkan kematian di dunia.

Jumlah pasti korban yang meninggal dari kejadian tersebut tidak mungkin dihitung, tetapi diperkirakan lebih dari 220.000 nyawa hilang.

Indonesia dalam hal ini Provinsi Aceh dan sekitarnya adalah kawasan yang paling parah terkena bencana itu, dengan lebih dari 130.000 orang dipastikan tewas dan 37.000 orang hilang.

Bencana alam yang paling mematikan kedua selama periode 1980 hingga Juli 2022 adalah gempa di Haiti pada tahun 2010.

Ahli: Gempa Turki Setara dengan Ledakan 300 Bom Atom Secara Bersamaan

Kondisi lapangan terdampak yang sangat sulit akibat kerusakan yang parah pada bangunan dan infrastruktur di lokasi kejadian menyebabkan kesulitan yang luar biasa dalam menentukan jumlah korban yang pasti.

Estimasi oleh beberapa pihak menyatakan jumlah korban tewas akibat gempa Haiti bervariasi antara 100.000 dan 316.000 jiwa.

Tingginya jumlah korban dari kejadian gempa Haiti tahun 2010 ini menjadikannya masuk dalam daftar bencana alam paling mematikan di dunia antara tahun 1980 dan 2022, dan dipandang sebagai gempa paling mematikan sejak tahun 1900.

Enam puluh persen rumah sakit di negara Haiti dan delapan puluh persen sekolah negara itu hancur.

Gempa itu adalah gempa bumi terburuk yang melanda kepulauan Karibia dalam 200 tahun, dengan kekuatan sebesar M7,0 dan epicentre hanya berjarak sekitar 25km dari ibukota Haiti, Port-au-Prince.

VIDEO Nasib Masyarakat Aceh di Turki Pasca Gempa Magitudo 7,8 Scala Richter

Beberapa pihak memperkirakan praktik konstruksi yang buruk menjadi penyebab banyaknya kematian.

Temuan lapangan menunjukkan bangunan di Haiti tidak tahan gempa dan tidak dibangun sesuai dengan standar aturan bangunan (building code) yang ada.

Proses pembangunan yang buruk ini kemungkinan besar diakibatkan oleh kurangnya tenaga ahli atau profesional bangunan yang mumpuni dan berlisensi.

Di sisi lain, kepadatan penduduk yang tinggi di kawasan terdampak juga menjadi penyebab tingginya jumlah korban jiwa. Hampir seperempat penduduk negara itu tinggal di daerah Port-au-Prince.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved