Opini
Lesson Learned dari Gempa Turki
Sejak kejadian gempa Izmit (Turki) tahun 1999 para ahli sudah memperkirakan akan tingginya risiko kerusakan akibat gempa di Turki, karena Turki terlet
Ambil contoh gempa Alaska 28 Maret 1962 dengan magnitude M9,2 skala Richter. Jika dibandingkan dengan gempa Aceh tahun 2004 (M9.1 skala Richter), gempa Alaska tersebut tidak terlalu merusak.
Tsunami yang diakibatkan oleh gempa Alaska ini hanya merenggut 128 nyawa dan menyebabkan kerusakan keseluruhan sekitar US$311 juta.
Gempa tersebut dirasakan terutama di Alaska, serta beberapa tempat di Kanada, sementara tsunami yang ditimbulkannya menyebabkan kerusakan hingga ke kepulauan Hawaii, Amerika.
Kerusakan paling parah terjadi di kota Anchorage yang berjarak 120 Km, barat laut dari pusat gempa. Getaran dari gempa itu sendiri dilaporkan berlangsung cukup lama yaitu selama tiga menit.
Sementara gempa Aceh tahun 2004 yang memiliki magnitude lebih rendah (M9.1) memberikan dampak lebih parah dimana 200.000 nyawa hilang dengan total kerugian ekonomi hingga 10 miliar USD, dimana jumlah korban dan nilai kerugiannya jauh lebih signifikan dari gempa Alaska.
Perbedaan dampak tersebut diakibatkan karena sedikitnya orang atau harta benda di sekitar lokasi gempa Alaska atau dengan kata lain, lebih rendahnya tingkat terpaparnya lokasi kejadian.
Sejauh mana orang, bangunan, infrastruktur atau aset ekonomi yang terpapar dan benar-benar berisiko umumnya ditentukan oleh seberapa rentannya mereka, karena mungkin saja terpapar tetapi tidak rentan.
Namun, banyak bukti yang menunjukkan bahwa tingginya tingkat risiko bencana lebih merupakan akibat dari terpapar daripada akibat dari kerentanan, termasuk kejadian gempa dan tsunami Aceh 26 Desember 2004, gempa Haiti 2010, dan bisa jadi gempa Turki 2023 dimana gempa ini telah menyebabkan kerusakan yang cukup parah pada 10 kota utama di dekatnya.
Sejalan dengan waktu tingkat eksposur (level of exposure) terhadap bahaya akan senantiasa mengalami perubahan. Banyak faktor yang menyebabkannya.
Manusia, bangunan, infrastruktur, atau aset ekonomi lainnya menjadi terkonsentrasi di daerah yang terpapar akan berbagai bahaya alam melalui berbagai proses seperti pertumbuhan populasi, migrasi, urbanisasi, dan pembangunan ekonomi.
Risiko terhadap bencana gempa di Indonesia yang masih sangat tinggi, dimana bencana gempa ini akan mengakibatkan lebih dari 86 juta jiwa terpapar, lebih dari 460 triliun kerugian pada fasilitas fisik, dan lebih dari 182 triliun kerugian secara ekonomi (RBI, 2016).
Provinsi Aceh merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang sangat dikhawatirkan terhadap bencana gempa ini, dimana banyak peneliti yang mengidentifikasi secara pasti akan keberadaan tiga zona sumber gempa (subduksi Lempeng tektonik Indo-Australia terhadap Lempeng Eurasia, patahan Sumatra, dan patahan Andaman Barat-Mentawai) yang akan berpengaruh kuat pada kerusakan infrastruktur dan korban jiwa khususnya di Kota Banda Aceh yang menjadi ibu kota dari Provinsi Aceh.
Kota yang terletak di pesisir ujung utara Pulau Sumatera ini dengan populasi 255.029 jiwa dengan kepadatan penduduk 4.160 jiwa/km2 (BPS, 2022) dan berbagai kegiatan pembangunan yang terus dilakukan tentunya akan memiliki level of exposure terhadap bahaya gempa yang meningkat. Oleh karena itu, pengurangan risiko terhadap bahaya gempa melalui berbagai tindakan mitigasi bencana harus terus dilakukan.
• Polres Pijay Salur 5 Ton Beras Bagi Korban Terdampak Banjir, Melalui 8 Polsek
• Di HPN 2023, Wabup Pijay Terima Penghargaan PWI Peduli, Begini Penjelasan Kontribusi Jasanya
• Pacar Nikita Mirzani Disunat dan Mulai Hapalkan Surat Pendek dari Google
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Bambang-Iriawan-87898.jpg)