Opini

Buruk Rupa Demokrasi Digital

Pilpres Amerika Serikat tahun 2016 adalah contoh fenomenal dari pengaruh teknologi informasi dalam pemilu yang menurut pihak AS dilakukan oleh Rusia.

Editor: Ansari Hasyim
hand over dokumen pribadi
Dr M Rizwan Haji Ali MA, adalah Dosen Ilmu Politik, Fisipol, Universitas Malikussaleh. 

Oleh Dr M Rizwan Haji Ali MA

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik, Fisipol, Universitas Malikussaleh

SEJUMLAH ahli berpendapat bahwa inovasi teknologi dapat mempengaruhi demokrasi.

Bahkan keyakinan in telah menjadi sebuah paradigma baru dalam relasi teknologi dengan demokrasi yang disebut sebagai the technological determinism paradigm (paradigma determinisme teknologi) yang antara lain dikemukakan oleh J Ellul (1990) dalam bukunya The Technological Bluff.

Pilpres Amerika Serikat tahun 2016 adalah contoh fenomenal dari pengaruh teknologi informasi dalam pemilu yang menurut pihak AS dilakukan oleh Rusia.

Peristiwa yang disebut sebagai “Russian interference” itu menjadi bukti bahwa penggunaan sarana teknologi informasi lewat internet dengan memanfaatkan facebook, twitter dan instagram telah berhasil menyebarkan propaganda untuk menjatuhkan Hillary Clinton, membantu Donald Trump dan memperburuk wajah demokrasi AS (Times, 2019).

Studi-studi yang ada menunjukkan bahwa teknologi digital dapat memperkuat demokrasi jika media melakukan pemberitaan yang berimbang terhadap semua partai politik dan calon, memudahkan akses kepada seluruh masyarakat untuk memanfaatkan sarana digital seperti media sosial, serta tersedianya sarana digital yang memadai untuk pemungutan dan penghitungan suara.

Warga Israel Protes Kebijakan Baru Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Ancam Demokrasi dan Kebebasan

Namun, semua aspek digital ini baru berhasil dipraktikkan jika didukung oleh faktor sosial politik yang kondusif (Mathe, 2020).

Namun, masalahnya adalah teknologi ini secara intrinsik terkonsentrasi pada segelintir orang yang memiliki kekuasaan formal maupun kekuasaan finansial.

Kelompok elite yang memiliki kekuasaan ini secara otomatis memiliki posisi politik yang lebih baik daripada pihak lain dalam memastikan hasil akhir dari proses demokrasi elektoral (Winner, 1986).

Karena mereka dapat mempengaruhi pilihan masyarakat dengan mudah lewat teknologi dan uang. Tidak dapat dibantah bahwa persenyawaan teknologi dan uang akan menjadi alat ampuh dalam menentukan pilihan akhir masyarakat dalam pemilu.

Melemahkan demokrasi

Pada 2020 Pew Research Center sebuah lembaga riset di Washington, mempublikasi artikel berjudul Many Tech Experts Say Digital Disruption Will Hurt Democracy.

Artikel tersebut menyebutkan bahwa banyak ahli memprediksikan penggunaan teknologi oleh manusia akan memperlemah demokrasi karena beberapa alasan.

Pertama, cepat dan luasnya cakupan distorsi informasi dari kenyataan yang ada. Hal ini ditandai dengan semakin maraknya berita bohong (hoaks) dan disinformasi.
Kedua, melemahnya jurnalisme karena rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap independensi wartawan, dan semua pihak bisa menggunakan media sosial untuk menyampaikan informasi tanpa merasa perlu melakukan klarifikasi.

Maksiat Demokrasi

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved