Opini

Polio Masih Mengancam Anak Aceh

Virus polio dapat hidup selama beberapa waktu di air dan tanah. Perilaku buang air besar (BAB) sembarangan berperan dalam penyebaran polio.

Editor: Ansari Hasyim
Hand-over dokumen pribadi
Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama Aceh, Wakil Ketua IDAI Cabang Aceh, dan Pengurus IDI Wilayah Aceh 

Oleh dr Aslinar SpA M Biomed

Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Abulyatama Aceh, Wakil Ketua IDAI Cabang Aceh, dan Pengurus IDI Wilayah Aceh

AWAL bulan November tahun 2022 kita semua dikejutkan dengan berita ditemukannya kasus polio di Aceh, tepatnya di desa Mane Kabupaten Pidie, Aceh.

Awal mula ditemukannya kasus tersebut yaitu pada seorang anak dengan keluhan lumpuh dan dirawat di rumah sakit tepatnya di RSUD Chik Ditiro Sigli dan kemudian dilakukan pemeriksaan sampel tinja. Hasil menunjukkan positif virus Polio.

Kemudian dilakukan penelusuran terhadap anak yang lain di desa yang sama, ditemukan empat kasus positif polio. Total kasus polio di Kabupaten Pidie yaitu sebanyak lima kasus.

Vaksinasi Polio Tahap Dua Bireuen Dimulai, Petugas Medis di Kecamatan Turun ke Desa-desa

Selain di Pidie, kasus polio dengan kondisi anak lumpuh layu akut juga ditemukan di Aceh Utara dan Bireuen. Dengan demikian sudah ada tujuh kasus polio baru ditemukan di Aceh, tiga orang di antaranya dengan kelumpuhan.

Sebagaimana diketahui bahwa Indonesia sudah mendapatkan sertifikat bebas polio pada 27 Maret 2014, namun bagaimana mungkin kasus polio ini kembali ditemukan di negara kita?

Badan Kesehatan Dunia WHO (World Health Organization) sudah mengeluarkan rilis pada 19 Desember 2022 dalam Disease Outbreak News (DONs) yang berjudul 'Circulating vaccine-derived poliovirus type 2 (cVDPV2)-Indonesia'.

Antara lain berisi WHO menyatakan bahwa risiko penilaian atas temuan polio di Indonesia masuk risiko tinggi. WHO menilai risiko tinggi di tingkat nasional karena rendahnya cakupan vaksinasi polio di Aceh dan provinsi lain di Indonesia.

Apa itu polio?

Poliomielitis merupakan suatu penyakit yang sangat menular, terutama menyerang anak yang berusia di bawah 5 tahun dan bisa menyebabkan terjadinya kelumpuhan.

Kelumpuhan pada penyakit polio ini bersifat permanen atau dikenal dengan istilah irreversible. Bagian ekstremitas atau anggota gerak juga ikut mengecil (atropi).

Vaksinasi Polio Tahap Dua Bireuen Dimulai

Kata polio berasal dari bahasa Yunani yang berarti abu-abu dan saraf tulang belakang. Secara klinis pertama sekali ditemukan oleh Michael Underwood yang menemukan kasus kelumpuhan anggota gerak bawah pada seorang anak di Inggris.

Di Amerika kasus pertama ditemukan pada tahun 1843 dan kejadian polio terus meningkat sampai menjadi epidemi pada awal abad 20.

Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus polio. Virus ini dapat menyebabkan kelumpuhan total, hanya dalam hitungan jam, karena menyerang sistem saraf.

Penularan virus polio dari seseorang ke orang yang lain yaitu melalui fekal-oral, yang berarti bahwa virus yang masuk melalui mulut, akan berkembang biak di usus dan keluar melalui kotoran atau feses saat buang air besar (BAB).

Kotoran yang mengandung virus tersebut akan menginfeksi lingkungan sekitar dengan kebersihan yang jelek.

Misalnya buang air besar di sungai atau pampers berisi kotoran yang dibuang sembarangan. Penularan yang lain yang lebih jarang, melalui air atau makanan yang terkontaminasi dan kemudian berkembang biak di usus.

Virus polio dapat hidup selama beberapa waktu di air dan tanah. Perilaku buang air besar (BAB) sembarangan berperan dalam penyebaran polio.

Dari observasi yang dilakukan di desa Mane Kabupaten Pidie, bahwa Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) penduduk yang masih kurang, masih ada penduduk yang menerapkan BAB terbuka (di sungai).

Meskipun tersedia toilet, lubang pembuangan langsung mengalir ke sungai. Air sungai dipakai sebagai sumber aktivitas penduduk, termasuk tempat bermain anak-anak.

Gejala awalnya penyakit polio yaitu berupa demam, lelah, nyeri kepala, muntah, kaku kuduk, dan nyeri pada anggota tubuh.

Satu dari 200 kejadian infeksi virus tersebut menyebabkan kelumpuhan irreversibel (biasanya pada tungkai). Dan sebanyak 5-10 persen kasus di antaranya meninggal akibat terjadinya kelumpuhan pada otot pernapasan.

Menegakkan diagnosis penyakit polio yaitu dengan pemeriksaan penunjang berupa serologis terhadap sampel feses (tinja) dari pasien yang dicurigai sebagai penderita polio.

Respons imunisasi dalam rangka Penanggulangan KLB di Aceh yaitu diadakan Sub Pekan Imunisasi Nasional (Sub PIN), dua kali putaran.

Tujuan dilakukan respons imunisasi secara cepat adalah untuk mencegah transmisi virus polio terutama kepada kelompok yang rentan.

Vaksin polio oral yang sesuai untuk strain virus polio bisa menginduksi kekebalan mukosa usus dan tetap menjadi vaksin pilihan untuk menghambat transmisi virus polio dengan cepat dan menghentikan wabah.

Sub PIN putaran pertama dimulai tanggal 28 November di Pidie, selanjutnya di kabupaten/kota lain seperti Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Sabang dimulai pada 5 Desember 2022.

Sedangkan untuk kabupaten/kota lainnya dimulai pada 12 Desember 2022.

Berdasarkan rilis dari website Dinas Kesehatan Aceh, selama pelaksanaan Sub-PIN Polio putaran pertama di Aceh, sebanyak 1.142.432 anak sudah mendapat imunisasi polio di Aceh.

Capaian tersebut sudah mencapai 98.8 persen dari total anak yang harus diimunisasi berdasarkan data riil di lapangan.

Namun berdasarkan data sasaran Pusdatin yang dikeluarkan oleh Kemenkes RI, capaian Sub-PIN Polio di 23 Kabupaten/kota di Aceh baru mencapai 93.8 persen.

Selanjutnya dilakukan sub PIN putaran 2 yang dimulai pada 30 Januari 2023. Untuk tahap pertama, ada 13 kabupaten/kota yang melaksanakan Sub-PIN Polio putaran kedua. Ke-13 Kabupaten/kota ini adalah Pidie, Pidie Jaya, Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Timur, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Tamiang, Aceh Singkil dan Aceh Selatan.

Bagi 10 kabupaten/kota lainnya yang melakukan sweeping putaran pertama hingga 13 Januari 2023, maka pelaksanaan putaran kedua akan dimulai pada 13 Februari 2023, yaitu masing-masing Aceh Besar, Simeulue, Kota Lhokseumawe, Bireuen, Banda Aceh, Aceh Utara, Sabang, Aceh Jaya, Langsa dan Subulussalam.

Masing-masing putaran Sub PIN dilaksanakan dalam waktu satu minggu dengan jarak minimal antar putaran adalah satu bulan.

Target cakupan sekurang-kurangnya adalah 95 % untuk masing-masing putaran. Sasaran Sub PIN adalah seluruh anak usia 0 bulan sampai dengan 12 tahun, termasuk pendatang, tanpa memandang status imunisasi sebelumnya.

Kasus polio kembali muncul setelah puluhan tahun zero kasusnya, hal tersebut disebabkan karena menurunnya capaian imunisasi di Indonesia termasuk di Aceh yang memang sangat rendah angka capaiannya.

Untuk mencegah penyakit polio ini, selain dengan PHBS, yang sangat utama adalah pemberian imunisasi polio. Vaksin polio diberikan 4 kali masing-masing berupa vaksin polio oral (tetes) usia 1, 2, 3 dan 4 bulan dan vaksin polio suntik (IPV) usia 4 bulan.

Semoga para orang tua semakin tinggi tingkat kesadarannya untuk membawa anaknya imunisasi. Jangan sampai menyesal di kemudian hari karena anaknya terpapar dengan penyakit berat yang harusnya bisa dicegah dengan imunisasi.

Imunisasi adalah ikhtiar kita para orang tua untuk memberikan perlindungan kepada buah hati kita semua. Sesal kemudian tentu tidak berguna.

Sedia payung sebelum hujan, berikan imunisasi lengkap sebelum anak terpapar dengan banyak virus jahat. Karena polio masih mengancam anak-anak kita!

VIDEO - Wawancara Khusus Bersama Irwanda Setelah Diperiksa KPK

Terungkap Alasan Thariq Halilintar dan Fuji Putus, Haji Faisal Berharap ThoFu Balikan Lagi

Ferry Irawan Ngotot Pidanakan Venna Melinda, Kuasa Hukum Beberkan Alasan Kliennya

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved