Jurnalisme Warga

Puisi dan Dilema Literasi

Saya takjub sendiri. Apalagi ketika guru saya yang dua tahun lagi akan pensiun bertanya, "Pak Edi, bagaimana caranya menulis puisi? Apakah harus berim

Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Edi Miswar Mustafa, Koordinator FAMe Pidie Jaya dan Anggota Ikatan Guru Indonesia (IGI), melaporkan dari Meureudu, Pidie Jaya. 

Oleh Edi Miswar Mustafa

Koordinator FAMe Pidie Jaya dan Anggota Ikatan Guru Indonesia (IGI), melaporkan dari Meureudu, Pidie Jaya

DI sekolah saya, SMA Negeri 1 Meureudu, untuk meningkatkan kemauan berliterasi para siswa, saya mencetuskan ide menulis puisi dan membuat buku antologi puisi guru.

Rencananya, per guru menulis 5 puisi. Jika guru berjumlah 67 orang, kemudian dikali 5, berarti puisinya: 335 puisi! Wow!

Ide itu saya sampaikan di grup WA sekolah. Besoknya di sekolah, kepala sekolah kami, Bu Husna MPd, memberikan lampu hijau untuk gagasan tersebut.

15 Kumpulan Puisi Hari Guru, Cocok untuk Peringati Hari Guru Nasional 2022, Dijamin Gurumu Terharu!

Saya langsung membayangkan efek dari gerakan menulis puisi ini. Nanti buku itu dicetak, lalu launching di sekolah dengan mengundang Kepala Cabang Dinas Pidie dan Pidie Jaya Razali MPd dan wartawan.

Saya takjub sendiri. Apalagi ketika guru saya yang dua tahun lagi akan pensiun bertanya, "Pak Edi, bagaimana caranya menulis puisi? Apakah harus berima ab-ab atau aa-aa?"

Dengan penuh rasa terima kasih dan pikiran bahwa kebolehan berpuisi saya sangat terbatas, saya menjawab, "Itu puisi lama, Bu. Puisi modern tidak seribet itu. Sejak Chairil Anwar, tata wajah atau tipografi puisi tidak mesti ab-ab atau aa-aa atau mesti sekian larik dalam sebait. Itu aturan lama. Sederhananya puisi itu hanya ungkapan perasaan."

Tanya jawab saya terus berlanjut mengenai puisi dengan beberapa guru. Bahkan sengaja saya buat polling atau jajak pendapat di grup WA sekolah. Pertanyaannya: mengapa tidak menulis puisi? Pilihan jawaban: tidak mengerti puisi, tidak punya kata-kata indah, puisi hanya untuk guru bahasa Indonesia atau guru bahasa lainnya, puisi permainan cinta monyet kala SMP dan SMA, haram berpuisi ketika sudah berkeluarga.

Jajak pendapat ini ada dua hal yang ingin diketahui. Pertama, apakah guru terkendala untuk menulis puisi? Kedua, tidak mau berkontribusi untuk kemajuan literasi sekolah? Pertanyaan pertama, saya kira hanya butuh sekali pertemuan untuk menyampaikan puisi atau hanya sekadar berbagi ilmu lewat grup WA sekolah (semacam intisari berpuisi). Namun, jika kendala kedua, saya tidak punya solusi. Tidak ingin berusaha memajukan literasi dengan alasan bahwa itu tugas guru bahasa Indonesia dan guru bahasa lainnya, menurut saya, hanya alasan yang dicari-cari.

Puluhan Siswa SMKN 1 Jeunieb Bireuen Ikut Lomba Kaligrafi dan Baca Puisi

Namun, saya yakin, hanya segolongan kecil guru yang tidak ingin atau tidak punya visi melihat pendidikan maju. Itu pun karena persoalan pribadi yang mungkin sedang sesak dan bertubi-tubi dialaminya. Memajukan pendidikan (dalam hal ini budaya literasi hanya salah satu aspek) adalah keinginan semua orang, terutama guru sebagai ujung tombak pendidikan.

Jika kendala pertama 'tidak mengerti puisi', sebenarnya, perlu diketahui, meskipun puisi karya sastra tertua dan sudah ada sejak ribuan tahun lalu, puisi secara sederhana dapat dipahami sebagai 'ungkapan perasaan seseorang'.

Di grup WA sekolah sengaja saya kirimkan puisi anak saya yang baru berusia sepuluh tahun dan kelas III SD. Semua dapat melihat bahwa apa yang disampaikannya sangat biasa dan umum sekali. Namun, pada usia tersebut, keluguan itulah ciri kemampuan berpikirnya.

Bayangkan kalau para guru hendak menyampaikan persoalan-persoalan di sekolah lewat puisi. Akan banyak terlukis senyum di wajah para guru manakala membaca puisi bertema anak terlambat sekolah, anak merokok di belakang WC, anak pura-pura menulis catatan padahal tidak, dan sebagainya.

Andai terlaksana, saya akan sangat bahagia menikmati pembacaan puisi-puisi tersebut saat peluncuran buku puisi. Semua hal di dunia pendidikan dibahas dalam puisi. Lewat puisi, perasaan sehalus apa pun dapat diungkapkan. Tentu saja, puisi yang bijak, puisi yang saat diciptakan dengan niat tidak akan memutus silaturahmi sesama guru. Jikapun ada protes dalam puisi, nada protes itu disampaikan dengan kata-kata yang amelioratif atau halus. Kita mengatakan kambing bunting itu biasa, tapi mengatakan ibu itu bunting, ini yang namanya peyoratif atau kasar.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved