Breaking News

Kisah Viral

Kisah Jason Arday, Pria tak Bisa Bicara dan Menulis hingga 18 Tahun, Tapi Kini Bergelar Profesor

Dia mengingat bagaimana dirinya sangat tergerak oleh penderitaan orang lain dan merasakan dorongan yang kuat untuk melakukan sesuatu.

Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/BBC News Indonesia
Prof Arday berkata, saat belajar untuk gelar PhD di malam hari dia "menikmati" kritikan yang ditujukan pada karya-karyanya. 

Memulai peran barunya sebagai profesor pada 6 Maret nanti, Prof Arday berniat meningkatkan representasi etnis minoritas di perguruan tinggi.

"Pekerjaan saya akan fokus pada bagaimana kita dapat membuka pintu bagi lebih banyak orang dari latar belakang yang kurang beruntung dan benar-benar mendemokratisasikan pendidikan tinggi," katanya.

Pada 2018, Prof Arday menerbitkan makalah pertamanya dan mendapatkan jabatan dosen senior di Universitas Roehampton sebelum pindah ke Universitas Durham, di mana dia menjadi profesor sosiologi.

Pada 2021, ia menjadi profesor sosiologi pendidikan di Fakultas Pendidikan Universitas Glasgow, menjadikannya, pada saat itu, salah satu profesor termuda di Inggris.

"Semoga berada di tempat seperti Cambridge akan memberi saya pengaruh untuk memimpin agenda itu secara nasional dan global," katanya.

"Membicarakannya adalah satu hal; melakukan itu yang penting."

Dalam karyanya saat ini tentang neurodivergence dan mahasiswa kulit hitam, dia bekerja sama dengan Dr Chantelle Lewis dari Universitas Oxford.

"Cambridge telah membuat perubahan signifikan dan telah mencapai beberapa pencapaian penting dalam upaya mendiversifikasi pendidikan," kata Prof Arday. "Tapi masih banyak yang harus dilakukan - di sini dan di seluruh sektor.

"Universitas ini memiliki orang-orang dan sumber daya yang luar biasa; tantangannya adalah bagaimana kami menggunakan modal itu untuk meningkatkan berbagai hal untuk semua orang dan bukan hanya bagi segelintir kalangan.

"Melakukan hal ini dengan benar adalah sebuah seni - membutuhkan diplomasi nyata dan setiap orang harus merasa terinspirasi untuk bekerja sama.

"Jika kita ingin menjadikan pendidikan lebih inklusif, alat terbaik yang kita miliki adalah solidaritas, pengertian, dan cinta". (*)

JOS Turut Berperan Dongkrak Omzet Bisnis UMKM di Subulussalam dengan Teknologi Digital

Selamatkan Tenaga Honorer, Menpan-RB: Pemerintah Buka Opsi Tidak Akan Berhentikan

Cara Alami Mengatasi Telat Haid Tanpa Obat, Jangan Stres dan Rajin Meditasi

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved