Internasional

Arab Saudi Beri Bantuan ke Ukraina Rp 6 Triliun, Bukan Senjata, Tetapi Untuk Kemanusiaan

Kerajaan Arab Saudi memberi bantuan melalui  sebuah perjanjian kepada Ukraina sebesar $400 juta atau sekitar Rp 6 triliun,

Editor: M Nur Pakar
AFP
Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan bertemu dengan Presiden Volodymyr Zelenskyy di Kiev pada Minggu (26/2/2023). 

SERAMBINEWS.COM, RIYADH - Kerajaan Arab Saudi memberi bantuan melalui  sebuah perjanjian kepada Ukraina sebesar $400 juta atau sekitar Rp 6 triliun,

Bantuan dan perjanjian itu dilaksanakan saat Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan bertemu dengan Presiden Volodymyr Zelenskiy di Kiev pada Minggu (26/2/2023).

Kunjungan mendadak Pangeran Faisal ke Kiev mendapat pujian dari Amerika Serikat (AS).

Pertemuan juga dilaksanakan dengan Kepala Staf Ukraina, Andriy Yermak, mitranya dari Ukraina Dmytro Kuleba, serta lainnya.

Pangeran Faisal menjadi pejabat Arab Saudi berpangkat tertinggi yang mengunjungi Ukraina dalam 30 tahun terakhir ini, seperti dilansir Bloomberg, Selasa (28/2/2023).

Perjalanan itu dilakukan setelah Arab Saudi dituduh oleh AS berpihak pada Rusia dalam invasi tahunannya ke Ukraina melalui kebijakan minyak.

Baca juga: KSRelief Arab Saudi Salurkan Bantuan Pangan ke 4 Negara, Penerima Lebih Dari 28.000 Orang

Arab Saudi mengarahkan kelompok produsen OPEC+ dengan Moskow.

Washington mengatakan pengurangan produksinya telah merugikan ekonomi global.

Arab Saudi menolak tuduhan ini, dengan mengatakan kebijakannya untuk menyeimbangkan pasar minyak global dan bukan politik.

Keretakan itu memperburuk hubungan AS-Saudi tahun lalu, tetapi ketegangan sejak itu mereda.

Perjanjian tersebut menetapkan bagaimana Ukraina akan menghabiskan sekitar $410 juta untuk bantuan kemanusiaan yang disahkan oleh Arab Saudi pada Oktober 2023.

Sebagai bagian dari itu, Arab Saudi mengatakan akan membiayai produk minyak senilai $300 juta untuk Ukraina sebagai hibah.

Baca juga: KSRelief Arab Saudi Beri Bantuan Musim Dingin Bagi Pengungsi di Jordania dan Lebanon

Perjalanan itu juga merupakan yang pertama ke Ukraina oleh seorang pejabat tinggi dari negara Arab sejak invasi Vladimir Putin dimulai pada 24 Februari 2022.

“Kami memperlakukannya sebagai bukti penting dukungan negara kami, terutama pada hari-hari ini, di tengah satu tahun agresi skala penuh Federasi Rusia,” kata Yermak.

“Dialog ini dan pertemuan ini sangat penting bagi kami." jelasnya.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved