Senin, 27 April 2026

Jurnalisme Warga

Ketika Ibu Ribuan Anak Yatim Berpulang

Saya sebut saja nama ibu diamksud, yakni Ibu Ainul Mardhiah. Kami akrab memanggilnya dengan sebutan ‘Wak Non’

Editor: mufti
IST
AIDIL ADHAA 

M. AIDIL ADHAA, Lc., putra Pante Garot, Pidie, mengabdi di STIS dan Dayah Ummul Ayman III, melaporkan dari Samalanga, Kabupen Bireuen

“TUJUAN hidup adalah mengabdi untuk umat.” Kalimat ini tak jarang saya dengar dari Guru Besar saya, Teungku H Nuruzzahri (Waled Nu di Samalanga) pada majelis-majelis pengajian yang diasuhnya.

Selain mengajar, bentuk lain pengabdian untuk umat melalui Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Ummul Ayman adalah Waled menggratiskan seluruh biaya pendidikan bagi santri-santri yatim dan yatim piatu. Saya termasuk satu orang dari ribuan santri yatim Ummul Ayman lintas 1990-2023 ini.

Hingga saat ini, saban tahun, YPI Ummul Ayman masih menampung 313 orang santri yatim dan yatim piatu. Dengan kegigihan Waled dalam mengajar dan membekali akhlakul karimah, banyak di antara mereka yang sudah berhasil dan sukses di bidangnya masing-masing.

Dalam hal mengayomi santri yatim dan yatim piatu di bidang penyediaan makanan, Waled meminta bantuan jasa kepada seorang ibu asal Aceh Utara sebagai juru masak di dapur umum. Di Ummul Ayman ada empat dapur yang disediakan untuk santri. Khusus santri yatim dan yatim paitu, dapur umum adalah pilihan yang paling tepat.

Saya sebut saja nama ibu diamksud, yakni Ibu Ainul Mardhiah. Kami akrab memanggilnya dengan sebutan ‘Wak Non’ --yang selanjutnya saya tulis dengan ‘Wak’ saja. Bahkan tak jarang juga di antara santri yatim piatu yang menyapanya dengan ‘Mak Non’, panggilan akrab sebagai pengganti ibunya yang telah meninggal dunia.

Saban subuh, Wak berjalan dari rumahnya yang berada di luar kompleks dayah menuju ke dapur yang berada di dalam kompleks dayah. Berjarak sekitar 100 meter.

Di usia mudanya, Wak selalu berjalan dengan tegap dan penuh semangat. Namun, beberapa tahun terakhir ini, Wak tak sekuat dulu. Tongkat di tangan kiri menemani jalannya setiap subuh melewati Musala Arrahmah Dayah Ummul Ayman.

Fisiknya terlihat begitu lelah. Namun, senyumannya selalu semringah menyapa kami para santri. Selama berada di dapur, Wak sibuk menyiapkan menu makan para santri mulai dari mengiris sayur mayur hingga mengaduk kuah di kuali besar.

Inspirasi dari Wak Non

Suatu ketka, saya sengaja bertamu ke dapur umum. Wak Ainon terlihat begitu energik. Tangan kirinya memegang tongkat. Sementara tangan kanannya mengaduk kuah di kuali besar itu. Sembari mengaduk, saya asyik mengajaknya berbicara. Sesekali ia tersenyum mendengar guyonan yang saya lemparkan.

Saya rasa, ribuan anak yatim dan yatim piatu alumni Ummul Ayman tak ada yang tak pernah merasakan menu makanan ‘aduhai’ racikan Wak Non ini.

Selama 28 tahun mengerahkan tenaga di dapur dayah itu bukanlah waktu yang sedikit. Sejak 1995, Wak bersama almarhum sang suami, Tgk Amirullah serta empat putra-putrinya berdomisili di dalam kompleks dayah. Namun, belasan tahun setelahnya, Waled menghadiahkannya sebuah rumah untuk ditempati.

Sepeninggal suaminya, Wak Non tinggal bersama empat putra-putrinya. Perjuangan seorang ibu dalam membesarkan empat orang putra-putrinya seraya memasak untuk ratusan santri yatim dan yatim piatu Ummul Ayman ini tentu tak mudah.

Perjuangan Wak mengabdi ke santri-santri tentu tak semudah yang dibayangkan. Terkadang, dahulu kala, ketika pasokan airnya habis, Wak sendiri yang mengangkutnya dari bak air yang lumayan jauh dari dapur kala itu.

“Kaye-kaye taguen bu lon angkat keudroe laju, Tgk Aidil. Wate nyan lon mantong muda that [kayu-kayu bakar saya angkat sendiri saja, Tgk Aidil. Waktu itu saya masih muda [baca: masih kuat sekali],” ujarnya mengingat masa-masa lalunya.

Wajahnya riang. Seakan tak pernah merasakan beban menjalani hari-hari berat itu.

Saban hari, di luar bulan Ramadhan, Wak memasak untuk sekitar enam ratus orang santri dan juga dewan guru. Di hari-hari selama bulan Ramadan, Wak hanya memasak untuk 300 ratus santri dan dewan guru saja.

Memang, selama Ramadan, para santri dan dewan guru ada juga yang menetap di dayah dengan mengikuti program-program pengembangan diri yang telah diagendakan sebelumnya.

Meski lelah dengan aktivitas harian tersebut, namun Wak benar-benar menikmati profesinya itu. Profesi mulia yang terkadang luput dari perhatian mayoritas orang. Dengan sifat kasih sayang dan sabar yang Wak terapkan, Wak mampu mengendalikan emosi di saat ada santri-santri yang mendatanginya dan meminta nasi di luar jadwal pengambilan nasi.

Wajahnya yang selalu terlihat ceria menyambut ‘santri telat’ itu dengan penuh senyuman. Wak memaklumi segala tingkah laku santri yang tak disiplin itu dan menerimanya dengan penuh kasih sayang.

Tak jarang kata-kata ‘aneuk lon (anandaku)’ terdengar ketika memanggil santri seraya memperingatkan agar esoknya harus tepat waktu.

Wak adalah sesosok inspiratif bagi kehidupan kita. Jalan hidupnya yang telah digariskan Allah dalam pengabdian, ia jalani dengan penuh hati. Dalam beberapa kali mengobrol dengannya, Wak selalu mengulang-ulang kebahagiaannya mengabdi untuk Waled dan anak-anak yatim Dayah Ummul Ayman.

Saya pernah bertanya kepadanya terkait harapannya kepada para alumni dapur umum Ummul Ayman. Wak menjawab,“Harapannya sesekali berkunjunglah ke dayah. Silaturahmi ke Waled. Juga lihat-lihatlah dapur. Sekarang sudah banyak perubahannya. Hana sama lagee awai le [tidak sama lagi seperti dahulu],” ujarnya.

Harapan Wak ini saya artikan sebagai pengingat untuk kita semua agar tidak pernah melupakan jasa kedua orang tua, guru dan orang-orang yang pernah berkontribusi di dalam kehidupan kita.

Sejak tanggal 14 Maret lalu, Wak jatuh sakit. Beliau dilarikan ke salah satu rumah sakit di Bireuen. Di dayah, para santri selalu membaca Surah Yasin dan berdoa untuk kesembuhan pejuang anak yaim tersebut.

Namun, Jumat, 17 Maret, Allah lebih menyayangi Wak dengan memanggil almarhumah ke hadirat-Nya. Senja itu tak begitu cerah. Seantero Dayah Ummul Ayman menggema dengan pembacaan Surah Yasin. Syaikhuna Waled langsung memimpin pembacaan tersebut.

Setelah isya, jasad Wak terbaring di saf depan musala Arrahmah. Terbungkuskan kain kafan dan dimasukkan dalam keranda. Waled langsung mengimami dan berpidato setelahnya. Dalam pidato sedihnya, Waled menyaksikan Wak adalah termasuk orang baik.

Lalu mayat dibawa ke pemakaman, di Desa Mideun Jok, tepatnya di arah barat Dayah Mudi Mesra. Pukul 23.00 proses pemakaman selesai. Wak berbaring untuk selamanya.

“Minta doa kepada semuanya semoga saya mampu mengabdi (kepada anak yatim) untuk selamanya. Sampe akhe hayat teuh beu di sinoe sabe (sampai akhir hayat bisa selalu di sini).”

Harapan Wak itu selalu terngiang-ngiang di ingatan saya. Senja hari Jumat 17 Maret itu, Allah mengabulkan permintaannya. Wak pergi untuk selamanya, meninggalkan kenangan dan jejak-jejak baik untuk kita.  

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved