Ramadhan 2023

Puasa Ramadhan tapi Meninggalkan Shalat, Bagaimana Hukumnya?

Kendati menemui Ramadhan, namun, banyak dari kalangan umat Islam yang berpuasa, namun tidak salat lima waktu, bagaimana hukumnya?

Penulis: Firdha Ustin | Editor: Amirullah
Tribunnews
Ilustrasi Seorang sedang shalat 

Puasa Ramadhan tapi Meninggalkan Shalat Wajib, Bagaimana Hukumnya?

SERAMBINEWS.COM - Puasa Ramadhan dan salat lima waktu merupakan kewajiban umat Islam.

Selama bulan suci Ramadhan, umat Islam wajib melaksanakan ibadah puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari.

Hal itu sebagaimana disampaikan dalam firman Allah SWT dalam surat Al Baqarah ayat 183, yang artinya:

"Hai orang-orang yang beriman diwajibkan bagimu ibadah puasa, sebagaimana diwajibkan bagi orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa."

Kendati menemui Ramadhan, namun, banyak dari kalangan umat Islam yang berpuasa, namun tidak salat lima waktu.

Lantas, bagaimana hukum puasa seseorang jika masih meninggalkan shalat?

Baca juga: Sudah Hari ke 23 Puasa Ramadhan, Lakukan 4 Amalan Ini untuk Mendapatkan Kemuliaan Lailatul Qadar

Terkait itu, Rais Syuriyah PBNU, KH. M. Cholil Nafis menjelaskan, hukum puasanya tetap sah, karena syarat sahnya puasa tidak berkaitan dengan pelaksanaan salat lima waktu.
 
"Puasanya tetep sah, karena sahnya puasa tidak terkait dengan salat, hanya saja perlu dievaluasi, apakah puasanya ini punya pengaruh atau tidak dengan ketaatannya (kepada Allah SWT)," jelasnya dalam program Edukasi Syariah Bimas Islam, dikutip Serambinews.com dari Instagram Bima Islam, Sabtu (15/4/2023).
 
KH. Cholil Nafis melanjutkan, shalat merupakan tiang agama, dan puasa adalah cara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
 
Puasa, lanjutnya, mengajarkan manusia untuk mengendalikan diri agar mampu menjauhi segala yang dilarang oleh Allah SWT dan menjalankan segala yang diperintahkan-Nya.

Karenanya, puasa seharusnya dapat memperkuat keimanan kepada Allah SWT, bukan menjadi alasan untuk melonggarkan ibadah wajib lainnya, terutama salat fardu.
 
Terakhir, KH. Cholil Nafis berpesan agar kedua ibadah wajib tersebut dijalankan dengan maksimal. "Baiknya berpuasa dan rajin salat," pungkasnya.

Baca juga: Jangan Asal, Adakah Shalat Lailatul Qadar yang Dilakukan usai Tarawih & Witir? Simak Kata Buya Yahya

 

Janjikan Hadiah Agar Anak Semangat Puasa Penuh, Hati-hati Ternyata Ada Dampak Buruknya

Pada saat bulan Ramadhan, sebagian besar orang tua Muslim mulai mengajak anak-anaknya untuk belajar ber puasa.

Ini sesuai dengan anjuran para ulama agar mengajarkan anak-anak menjalankan ibadah puasa sebelum mereka memasuki usia baligh.

Mendidik anak untuk mulai mengenal puasa dan mengajarkan ber puasa sejak dini merupakan stimulan yang akan menjadi bekal mereka di masa depan.

Apalagi, orang tua pasti senang dan bangga jika anaknya sukses belajar puasa sampai sehari penuh.

Pasti Ayah dan Bunda bangga melihat pencapaian anaknya berhasil puasa seharian penuh. Dalam situasi seperti ini, umumnya orang tua memberi reward atau hadiah ke anak.

Lantas, bolehkah menjanjikan hadiah agar anak semangat puasa?

Baca juga: Cara Mendapatkan Malam Lailatul Qadar Diungkap Buya Yahya, Jatuh pada 10 Hari Terakhir Ramadhan

Menurut dosen Pascasarjana Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ), Dr. Nur Rofiah, Bil.Uzm, sebenarnya memberi hadiah pada anak yang berhasil puasa sebulan penuh tentu saja bagus.

Meski bagus, para orang tua harus tetap hati-hati karena ternyata ada dampak buruknya, yaitu si anak menjadi puasa tidak karena Allah.

"Tapi harus diwaspadai dampak buruknya, yaitu anak menjadi puasa tidak karena Allah tetapi karena ingin hadiah," katanya dikutip Serambinews.com dari akun Instagram Bima Islam Kemenag RI, Jumat (14/4/2023).

Maka ia menyarankan sebaiknya hadiah itu diberikan secara spontan saja dan jangan pernah orang tua menjanjikan sejak awal.

"Karenanya hadiah itu perlu diberikan dengan cara-cara misalnya bersifat spontan, jadi jangan dijanjikan sejk awal," sambungnya.

Selain itu, penting sekali orang tua memberikan pemahaman kepada anak bahwa ibadah puasa merupakan kewajiban agama, sehingga diberi hadiah atau tidak, anak mesti melakukannya.

Baca juga: Ciri-Ciri Orang yang dapat Malam Lailatul Qadar, Buya Yahya: Tidak Maksiat hingga Penuh Kasih Sayang

Kemudian ini juga sangat penting dilakukan, yaitu, ketika orang tua ingin memberi hadiah kepada anak atas pencapaiannya puasa satu bulan penuh, anak laki-laki dan perempuan haruslah sama tanpa dibanding-bandingkan.

"Kalau misalnya anak laki-laki yang puasa sebulan penuh itu diberi hadiah, maka anak-anak perempuan yang tidak puasa hanya karena menstruasi juga mesti diberi hadiah yang sama ," pungkasnya.

(Serambinews.com/Firdha Ustin)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved