Sejarah Aceh

Kesaksian Kelam Para Warga Aceh di Masa Darurat Militer 20 Tahun yang Lalu: Dihabisi Secara Sadis!

Banyak dari warga mengungkapkan kekejaman aparat militer saat melakukan operasi militer di Aceh: penghilangan paksa, pelecehan, pembunuhan sadis.

Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Amirullah
AFP FOTO/ HOTLI SIMANJUNTAK
Dua wanita Aceh berpapasan dengan tentara Indonesia yang sedang berpatroli di kendaraan pengangkut personel lapis baja (APC) di Banda Aceh, 18 November 2003. Perang terakhir Indonesia dengan pemberontak separatis Aceh, GAM akan memasuki bulan ketujuh 20 November, dengan hampir 1.600 orang tewas termasuk ratusan warga sipil dan tidak ada habisnya pertumpahan darah di depan mata. 

Jadi mereka malah menembak penduduk desa. Adikku ditembak di rumah kami. 

Pukul 06.00 dia bangun untuk mandi sebelum shalat. Dia pergi ke luar dan mereka (tantara) segera menembaknya. 

Saya bangun saat itu. Saya ingin membawa tubuhnya ke dalam tetapi saya tidak bisa. 

Ketika mereka pergi saya baru bisa melakukan itu. Ada berbagai jenis tentara di sana, ada yang dari daerah dan ada yang dari luar. 

Ada lebih dari lima puluh mereka. Saya meninggalkan Aceh keesokan paginya.

Abang laki-laki saya berumur 35 tahun, dan dia memiliki seorang istri dan dua orang anak.” ungkapnya.

Seorang laki-laki dari Peureulak, Aceh Timur, menggambarkan sebuah pembunuhan pada bulan Agustus 2023:

“Sekitar dua bulan lalu di [dirahasikan], Peureulak, ada insiden. Tadi pagi dengan alasan sweeping GAM, tapi ternyata tidak ada GAM

Saya melihatnya sendiri. TNI masuk kampung, terlihat sekitar 20  tentara, di belakang mereka saya tidak tahu. 

Mereka mencari GAM. Mereka bertanya kepada orang-orang di desa, tetapi GAM tidak ada. 

Ada seorang pria, berusia sekitar 20 tahun. Seorang tentara memanggilnya dan menanyakan sesuatu padanya. 

Mungkin jawabannya salah, saya tidak mendengar. Tentara lain kemudian menembaknya di kepala dan lagi di sisi kanan atas tubuhnya dengan senjata, sebuah M16. 

Saya berada sekitar seratus meter jauhnya. Saya berada di rumah dan melihatnya melalui jendela. 

Segera setelah prajurit itu selesai menembak, dia memerintahkan penduduk desa untuk menguburkan jenazahnya. Tentara kemudian pergi mencari GAM di tempat lain,” kesaksiannya.

Seorang laki-laki berusia 35 tahun juga dari Peureulak di Aceh Timur menceritakan tentang penembakan saudaranya pada akhir Juli 2023.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved