Jurnalisme Warga
Sjamaun Gaharu, dari Pendidik hingga Militer
Gajinya memang kecil, tapi ada kelebihannya yang lebih penting daripada sekadar kekayaan materi.
T.M. ICHSAN, pegiat sejarah dan penulis buku “Memori Kolektif Aceh”, melaporkan dari Banda Aceh
Sjamaun Gaharu lahir di Teupin Raya, Pidie, pada 10 November 1913. Setelah menempuh sekolah desa tiga tahun di Pidie, ia melanjutkan pendidikannya tahun 1923 di Inlandsche School, Kutaraja (sekarang Banda Aceh). Seterusnya ia masuk ke Sekolah Guru Normaal School di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Saat di Siantar, ia menjadi pemain inti tim sepak bola sekolahnya, bahkan memperkuat klub Pematang Siantar.
Perjuangan melalui pendidikan
Sepulangnya dari Siantar, suatu waktu, ia dihampiri oleh Teuku Muhammad Hasan Geulumpang Payong atau Teuku Hasan Dik (Uleebalang III Mukim Geulumpang Payong dan Pendiri Taman Siswa di Aceh), salah seorang yang berjasa bagi karier perjuangannya. Dikutip dalam memoar Sjamaun (1995: 13), Teuku Hasan Dik mengatakan, “Sjamaun, engkau sudah bisa menjadi guru. Bila kerja jadi guru pemerintah (Belanda) gajimu besar. Engkau akan terkenal dan kaya. Kini saya minta padamu, jangan menjadi guru pemerintah, mengajarlah kau di Taman Siswa (sekolah bentukan Ki Hajar Dewantara, milik Indonesia). Gajinya memang kecil, tapi ada kelebihannya yang lebih penting daripada sekadar kekayaan materi. Rasa kebangsaanmu akan besar. Cinta kepada tanah air akan menyala di hatimu. Rasa ini akan diperlukan pada suatu masa kelak.”
Kemudian ia diajak ke rumah Teuku Nyak Arif di Keudah Singel, tersirat dalam hatinya, “Inilah Bapak Pergerakan Aceh yang paling berani melawan Belanda! Lutut saya bergoyang juga karena takut.” Teuku Nyak Arif menambahkan, “Kita harus melawan Belanda, Belanda harus lenyap dari bumi Aceh. Banyak cara yang bisa kita lakukan, salah satu cara ialah dengan pendidikan. Kemudian dengan mulut dan akhirnya pedang!”
Selanjutnya, Teuku Nyak Arif memerintahkan, “Mengajarlah di Taman Siswa, walau gajimu kecil. Ingat, Taman Siswa adalah dapur yang dapat menempa anak-anak kita menjadi pahlawan bangsa di kemudian hari.” (1995: 14) Sejak 1932 ia pun mengajar di Taman Siswa. Pada 1938 Sjamaun melanjutkan pendidikan ke Bogor, di Opleiding voor Landbouw-Onderwizer (sekolah pertanian) dan mengajar di Standaard School Landbouw Klas di Bireuen.
Membina militer
Karier militer Sjamaun Gaharu juga tidak terlepas dari peranan Teuku Hasan Dik, seperti diungkapkannya (1995:35), “Dari Teuku Hasan Dik, saya mendengar Jepang akan membuka latihan untuk tentara khusus pemuda Indonesia. Teuku Hasan Dik menganjurkan agar saya mengikuti itu. Dengan latihan itu, saya akan dapat bekal ilmu militer. Beliau juga mengisyaratkan bahwa ilmu itu akan berguna bagi kita melawan Jepang nantinya.”
Akhirnya ia ikut latihan Giyu-gun di Kutaraja pada 1943. Dilatih langsung oleh Mayor Jenderal Hoyo dan lulus dengan nilai terbaik.
***
Setelah berita kemerdekaan sampai di Aceh 24 Agustus 1945, ditandai dengan pengibaran Sangsaka Merah Putih di Kantor Teuku Nyak Arif. Sjamaun Gaharu melihat ini sebagai titik awal untuk pembangunan bangsa. Dipelopori Sjamaun Gahru dan para bekas tentara Jepang dari Giyu-gun, Heiho, Tokubetsu Hikoyo Komutai, Tokubetsu Keisatsutai dan lainnya, mereka bangun tentara di Aceh. Setelah sepakat, lembaga ini dinamakan Angkatan Pemuda Indonesia (API). Untuk mendapatkan legitimasi, diutuslah Sjamaun dan Teuku Hamid Azwar segera menjumpai Teuku Nyak Arif, pemimpin rakyat Aceh.
Dicatat Sjamaun, (1995: 84) Teuku Nyak Arif mengatakan, “Saya sangat setuju dengan dibentuknya pasukan tentara. Tidak mungkin ada pemerintahan tanpa tentara. Karena itu, saya akan meresmikan API sebagai barisan resmi pemerintahan daerah Aceh.”
Maka, sahlah API berdiri pada 27 Agustus 1945 dengan susunan Markas Daerah dan Wakil Markas Daerah: Sjamaun Gaharu (Komandan), Teuku Hamid Azwar (Kepala Staf) dan anggota lainnya, serta para wakil Markas Daerah.
Seiring perkembangannya, API mengalami perubahan nama: Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Tentara Rakyat Indonesia (TRI), dan API merupakan cikal bakal dari Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Mendirikan Kopelma
Pada tahun 1953, meletuslah pergolakan terhadap pemerintah pusat dipimpin Daud Beureueh melalui DI-TII. Untuk memadamkan pergolakan, pemerintah menginstruksikan Sjamaun Gaharu menyelesaikannya.
Dalam keadaan ini ia mengalami kegalauan yang luar biasa, ia harus dihadapkan dengan bangsanya sendiri. Menyikapi kegamangan ini, Sjamaun selaku penguasa perang mengupayakan penyelesaian melalui upaya preventif dan musyawarah; mengajukan Konsepsi Prinsipil Bijaksana. Berkat konsepsi tersebut, maka terselenggaralah perundingan hingga terbitnya Ikrar Lamteh pada 8 April 1957. Singkatnya, Sjamaun berhasil mendamaikan kedua belah pihak yang bertikai.
Sebagai bentuk realisasi pembangunan kembali Aceh akibat perang berkepanjangan, seorang tokoh perjuangan nasional, Teuku Alibasyah (Talsya) menulis dalam Majalah Santunan (Nomor 47, September 1980) bahwa pada 1 Februari 1958 diadakan rapat yang membahas persoalan haluan dan ‘policy’ pembangunan pendidikan di Aceh yang telah jauh tertinggal.
Rapat ini diprakasai dan dipimpin oleh Penguasa Perang, Sjamaun Gaharu dan Gubernur Aceh, Ali Hasjmy. Rapat tersebut turut dihadiri oleh para staf lembaga dan orang-orang patut. Hasil dari rapat, terciptanya kesepakatan bersama untuk memajukan pendidikan di Aceh dan menjadikan pendidikan sebagai prioritas pembangunan.
Guna mempercepat realisasi, Talsya mencatat, disusun tiga landasan pokok yang mengandung perpaduan antarkomisi, yayasan, dan rakyat: 1) Komisi Pencipta sebagai badan, inspirasi, dan pencipta; 2) Yayasan Dana Kesejahteraan Aceh sebagai badan pelaksana; dan 3) Rakyat sebagai modal utama pembagunan raksasa Kompleks Pelajar Mahasiswa (Kopelma) Darussalam. (Santunan Nomor 47, September 1980) Pada 20 April 1959, dimulailah kerja bakti pembangunan Kopelma Darussalam dengan diayunkannya cangkul oleh Gubernur Ali Hasjmy, diikuti oleh Ketua DPRD, DPD, pegawai kantor gubernur, Jawatan Penerangan DI Aceh, RRI, Ketua, dan anggota YDKA.
Kemudian, 1 Mei 1959, Panglima Kodam Iskandar Muda, Sjamaun Gaharu dan Komandan KMK “G” Mayor A.K.I. Chourmain dimulai kerja gotong royong khusus bagi Angkatan Darat bersama para ibu Persit. (Teuku Muttaqin Mansur, dkk, 2020: 16-17).
Untuk menyukseskan pembangunan, Sjamaun Gaharu mengedepankan gotong royong. Senada dengan yang disampaikan anaknya, Mardy Gaharu (76 tahun) kepada saya via telepon (4 September 2021); aktif sebagai Konsultan di PT Pertamina, Jakarta.
Dalam obrolan tersebut ia mengatakan, Sjamaun Gaharu memprakasai pembangunan Koplema Darussalam dengan konsep gotong royong. Sebagaimana Sjamaun mengajak seluruh elemen masyarakat menyumbang apa pun, walau hanya sebatang pohon, satu kilo pasir, atau lainnya. Usaha ini dilakukannya agar timbul rasa memiliki dalam masyarakat terhadap Kopelma Darusalam.
Mardy menambahkan, sebagai pelajar, ia juga ikut serta dalam agenda ini. Waktu itu Mardy menyumbang beberapa keping battu bata untuk pembangunan Tugu Darussalam.
***
Amat banyak sumbangsih yang telah Sjamaun Gaharu sumbangkan terhadap bangsa Indonesia. Namun sayangnya, sejauh ini masih sangat sedikit publik yang mengetahui peran dan kontribusinya dalam mempertahankan kemerdekaan serta serangkaian agenda pembangunan Republik Indonesia yang melibatkannya. Maka, sudah selayaknya ia dijadikan tokoh yang dipanuti oleh segenap masyarakat, wa bil khusus bagi generasi muda Aceh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/TM-ICHSAN-OKE.jpg)