Dunia Kampus
Dosen Unsam dan Mahasiswa Unigha Kupas Sejarah Sekolah Didirikan Daud Beureueh di Pidie
Bahkan pernah anggota Komite Nasional Daerah Aceh, dan utusan PSII dalam rangka pemilihan Gubernur Sumatra Utara mewakil dari Aceh dan anggota Parleme
Penulis: Zubir | Editor: Ansari Hasyim
Laporan Zubir I Langsa
SERAMBINEWS.COM, LANGSA - Kepala Pusat Kajian Sejarah dan Ideologi Universitas Samudra Dr Usman MPd menyampaikan kuliah umum dan studi lapangan bagi mahasiswa Unigha, di Gedung Leuga Universitas Jabal Ghafur (Unigha) Pidie, Selasa (20/6/2023).
Dr. Usman yang didampingi Dr Zulkifli diterima Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unigha Muhammad Iqbal MA dan Koordinator Prodi Pendidikan Sejarah Uigha Muhammad Zaini MPd.
Dekan FKIP Unigha Muhammad Iqbal, MA saat itu menyebutkan, agenda ini sangat diperlukan bagi para mahasiswa sejarah dalam hal meneliti dan menggali kembali event-event yang belum terungkap.
"Melalui kuliah umum ini patut ditelusuri dan direkontruksi secara berkesinambungan," sebut Dekan FKIP Unigha tersebut di hadapan mahasiswanya.
Sementara Dr Usman, kepada Serambinews.com, menyebutkan, ini salah satu kegiatan penting dengan tujuan menggali dan rekonstruksi sejarah yang sudah terpendam di Pidie masa lalu.
Dijelaskannya, mengkaji lokasi-lokasi pusat sejarah dengan skopnya Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya adalah sangatlah perlu ditelesuri dan diperkenalkan kepada mahasiswa sejarah Unigha, agar berguna untuk generasi masa akan datang.
Pascapemaparan materi kuliah umum dan studi lapangan, serta diskusi dengan mahasiswa sejarah dengan tema “Literasi dan Rekonstruksi Historis Kubupaten Pidie dan Pidie Jaya”.
Kemudian Dr Usman memilih salah satu lokasinya, agar mahasiswa mampu menggali dan merekonstruksi kembali bekas sebuah gedung pendidikan Agama Islam.
Namanya Madrasah As-Sa’adah Abadiyah atau MSA yang terletak di Balang Paseh Pidie yang dibangun pada tahun 1931 Masehi oleh Teungku Muhammad Daud Beureueh atau 92 tahun silam.
Bangunan hampir satu abad ini yang merupakan salah satu Pusat Pendidikan Agama Islam Modernis yang mula-mula sekali didirikan di Aceh pada awal abad ke-20-an.
Keberadaan lembaga pendidikan agama itu selain untuk mengimbangi pendidikan ala Eropa dan melakukan pembaharuan dari pendidikan tradisional ke gaya yang maju dan modern, sesuai dengan pendidikan gaya Timur Tengah (Irak dan Turki).
Kurikulum MSA itu mengajarkan mata pelajaran hisab (berhitung), Jurafi (ilmu bumi) dan Bahasa Inggris serta pandu Islam gurunya Amir Husien al-Mujahid.
Tatkala lahir Persatuan Ulama Seluruh Aceh, MSA segera bangkit melakukan serta menyesuaikan kurikulum madrasah di seluruh Aceh.
Dan berusaha memperbaiki serta mempersatukan rencana pengajaran madrasah-madrasah atau sekolah-sekolah agama di seluruh tanah Aceh.
Lembaga MSA Blang Paseh, Pidie kala itu telah banyak melahirkan alumni-alumninya menjadi tokoh pemimpin atau pelopor dalam upaya mengisi aspek-aspek sosial masyarakat.
Mereka lahir sebagai pemimpin tangguh dan kaliber menengah, sebelum dan pasca Indonesia merdeka, terutama dalam menegakkan dan mempertahankan kedaulatan NKRI tahun 1945-1949.
Disebutkan walaupun lembaga pendidikan tersebut sekarang sudah menjadi taman pendidikan Islam Taman anak-anak warga Blang Paseh.
Tetapi sejak zaman pemerintah Hindia Belanda, pendudukan Jepang hingga zaman kemerdekaan Indonesia telah banyak memberikan konstribusi bagi NKRI.
Baik kemasyarakatan, pendidikan, pemerinatahan dan militer dalam mengisi kemerdekaan. Dalam perkembangannya sejak tahun 1937.
Sebagian besar alumninya sudah menjadi tokoh pemimpin tangguh dan berkaliber nasional dalam pembangunan masyarakat Aceh hingga pemimpin kaliber nasional kala itu.
Para alumni MSA Blang Paseh, Pidie sebagian besar menjadi bapak-bapak rakyat dalam pemerintahan di Aceh, bahkan di Jakarta menjadi tokoh kaliber menengah.
Di samping itu, banyak pula menghasilkan ilmuan yang nantinya sebagai pelopor atau perintis kemerdekaan dalam mengisi pembangunan Negara Republik Indonesia yang diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945.
Diantaranya H Zaini Bakri sebagai Bupati Aceh Aceh dan merangkap Wali Kota Kutaraja tahun 1948, lalu berturut-turut diangkat sebagai Bupati Aceh Tengah (1951) dan Bupati Aceh Timur (1952).
Ibrahim Abduh sebagai Bupati Pidie dan berhasil pemekaran tiga Kecamatan di Pidie, Kecamatan Batee, Sigli dan Ulim (Meureudu sekarang).
Bahkan sebelumnya dIa pernah menjadi Wedana Meureudu, kemudian diangakat menjadi Patih, Wakil Bupati Kabupaten Pidie, di Sigli (1948), dan pernah pernah menjadi Wakil Kepala Daerah di Singkil (Aceh Selatan).
Juga Ibrahim Abdul berhasil membangun perkampungan Tijue untuk dijadikan sebagai Kota Pelajar di Kabupaten Pidie.
Kemudian Hasbi Usman pernah menjadi Bupati Aceh Timur, pernah Wedana Idi, Wakil Bupati Aceh Besar, dan menjabat Pj Bupati Pidie serta Bupati Aceh Utara hingga pensiun.
Selanjutnya H Ibrahim Usman, pernah menjadi anggota DPRD TK-II Kabupaten Pidie dan sebelumnya pernah menjadi Wedana Lam Meulo.
Sebagian lainnya alumni Madrasah As-Sa’adah Abadiyah (MSA) Balang Paseh Pidie, pernah menjadi tokoh pemimpin masyarakat.
Misalnya H Usman Yahya Tiba, LT pernah menjadi Guru dan Kepala MSA, Blang Paseh Pidie (1947), Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Beureunuen, dan Direktur Pendidikan Guru Agama (PGA) tahun 1959 di Banda Aceh dan Dekan Fakultas Usuluddin IAIN Ar-Raniry.
Serta Prof. H. Ibrahim Husien, MA pernah Dosen dan Rektor IAIN Jami’ah Ar-Raniry tahun 1987.
Sedangkan H. Abdullah Hanafiah (ayah Datok DR. Zaini mantan Gubernur Aceh) pernah menjadi guru MSA Blang Paseh, Pidie dan PGAN Beureunuen Kabupaten Pidie (1960-an).
Alumni lainn adalah Kol. Hasballah Haji, pernah menjabat Komandan Resimen-I Kutaraja (1945), Komandan Resimen Sektor Barat dan Utara Medan Area dan Atase Militer di Mesir (1961).
Letkol Hasan Saleh pernah menjabat Dan-Yon 2 Kutaraja dan Dan-Yon 5 di Lhokseumawe dan Dan-Yon 3 di Sigli.
Selanjutnya Lerkol Pur. Ibrahim Saleh, pernah menjabat Dan-Ki 2 Yon 3 Padang Tiji serta Da-Yon 110 Tentara dan Territorium Aceh untuk bertugas ke Sulawesi Selatan, Seram dan Maluku (1950).
Sedangkan Kol. Purn. Cek Mat Rahmany pernah menjabat Komandan Divisi 10 Chik di Tiro (1948) dan merangkap penasehat Tentara Pelajar Islam Aceh, juga Kepala Staf Umum Divisi X TNI Komando Sumatera Utara dan pernah menjadi Atase Militer di Mesir dan Pakistan (1951).
Sedangkan dalam bidang politik adalah Abdul Manaf Zamzamy (Amelz) sebagai pimpinan Redaksi dan politik “Surat Kabar Atjeh Simbun” mulai sejak Belanda, Jepang sampai Idonesia Merdeka Pada tahun 1948.
Dia pernah menjadi anggota pengumpulan dana beli Pesawat Terbang Seulawah untuk modal perjuangan Kemerdekaan Indonesia.
Bahkan pernah anggota Komite Nasional Daerah Aceh, dan utusan PSII dalam rangka pemilihan Gubernur Sumatra Utara mewakil dari Aceh dan anggota Parlemen (Dewan Perwakilan Rakyat) Pusat mewakili dari PSII Daerah Aceh.
Bahkan, juga pernah menjadi utusan Muktamar GPII di Medan mewakili dari Aceh dan pernah terpilih sebagai anggota DPRD Provinsi Aceh mewakili PSII (1977).
Berikutnya Ismail Hasan Metareum sebagai tokoh kaliber politik dari PPP dan anggota DPRI Pusat, dan Dr. Hasan Muhammad Tiro termasuk alumni dari MSA.
Yang berarti pula bahwa sebagian besar alumninya sejak zaman Belanda, Jepang dan Indonesia merdeka menjadi tokoh pemimpin kaliber terkenal di Republik ini tempo dulu.(*)
• Terkait Sengketa Masyarakat Sungai Iyu – PT Rapala, Wali Nanggroe: Harus Segera Diselesaikan
• Harga Emas di Lhokseumawe Hari Ini Turun, Berikut Rinciannya Pada Kamis 22 Juni 2023
• Jelang Idul Adha Harga Kebutuhan Pokok Stabil, Hasil Pantauan Disperindag Aceh Singkil
Mahasiswa Baru MPL USK Didorong Beri Kontribusi Nyata dalam Isu Lingkungan |
![]() |
---|
Tim Kedutaan Inggris Sambangi USK, Buka Peluang Anak Aceh Raih Beasiswa Chevening |
![]() |
---|
Bhoi Morica, Kue Inovasi Mahasiswa USK yang Menorehkan Prestasi di Korea Selatan |
![]() |
---|
UIN Ar-Raniry Kukuhkan 17 Guru Besar, Ini Nama dan Spesifikasi Keilmuannya |
![]() |
---|
STIH Al-Banna Lhokseumawe Lolos Program Nasional Pengembangan Pembelajaran 2025 |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.