Info Singkil
Melihat Pengolahan Terasi Udang Sabu Murni Khas Singkil
Kurang 15 menit udang sabu (rebon) yang ditumbuk menyatu sempurna. Perempuan berusia lebih muda yang ada di sampingnya, memilih menumbuk udang sabuk
Penulis: Dede Rosadi | Editor: Nurul Hayati
Kurang 15 menit udang sabu (rebon) yang ditumbuk menyatu sempurna. Perempuan berusia lebih muda yang ada di sampingnya, memilih menumbuk udang sabu sambil duduk di lantai.
SERAMBINEWS.COM, SINGKIL - Tangan perempuan paruh baya itu terus menghujamkan alu ke dalam lesung kayu tua.
Ia melakukan pekerjaannya sambil duduk di kursi teras rumah di kawasan Gosong Telaga Barat, Kecamatan Singkil Utara, Aceh Singkil, Jumat (23/6/2023).
Kurang 15 menit udang sabu (rebon) yang ditumbuk menyatu sempurna.
Perempuan berusia lebih muda yang ada di sampingnya, memilih menumbuk udang sabu sambil duduk di lantai.
Alu yang digunakannya lebih pendek serta lesung tempat menumbuk udang sabu berukuran kecil.
Sementara dua perempuan lainnya kebagian memasukkan bahan baku udang sabu ke dalam lesung.
Di dekatnya laki-laki paruh baya mondar-mandir mengawasi.
Agar udang rebon menyatu, saat ditumbuk dicampur sedikit air.
Itulah proses pembuatan terasi khas Singkil, berbahan baku udang sabu murni.
Murni lantaran sama sekali tidak mendapat campuran bahan lain.
Kecuali air putih yang berfungsi menyatukan adonan udang sabu.
Baca juga: Terasi Awaina, Usaha Terasi Pertama di Aceh
Setelah menyatu tahap selanjutnya membulatkan seperti bola dengan berat 1 kilogram.
Udang sabu made in warga Singkil, Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu per kilogram.
"Terasi udang bahan bakunya dari laut. Harganya ada yang Rp 70 ribu, ada Rp 60 ribu," kata Taki warga Gosong Telaga Barat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/warga-aceh-singkil-sedang-membuat-terasi-udang-sabu.jpg)