Salam
Pak Jokowi, Kali Ini Dengarkan Maunya Aceh
Presiden tiba pukul 11.00 WIB di Pidie. Setelah naik pesawat dari Jakarta ke Banda Aceh kemudian naik helikopter turun di La-pangan Beureuenuen.
HARIAN Serambi Indonesia edisi Ahad kemarin mewartakan bahwa hingga Sabtu (24/6/2023) persiapan lokasi penyambutan Presiden Jokowi di bekas Rumoh Geudong di Gampong Bilie Arun, Glumpang Tiga, Pidie, sudah rampung 80 persen.
Dijadwalkan Presiden Jokowi akan ke Pidie pada Selasa (27/6/2023). Lokasi penyambutannya di bekas Rumoh Geudong, lokasi penyiksaan oleh serdadu RI pada masa konflik Aceh dulu. Presiden kunker ke Pidie untuk melaksanakan ‘kick-off’ pe-nyelesaian pelanggaran HAM berat pada masa lalu di Aceh se-cara nonyudisial.
Terkait dengan momentum itu, Pj Bupati Pidie, Ir Wahyudi Adi-siswanto MSi menyampaikan bahwa rombongan Presiden diper-kirakan 500 orang, terdiri atas 20 menteri, para duta besar, dan pejabat pusat lainnya. Ditambah 500 pejabat dari Aceh dan Pidie sehingga total tamu mencapai 1.000 orang dan mungkin lebih.
Presiden tiba pukul 11.00 WIB di Pidie. Setelah naik pesawat dari Jakarta ke Banda Aceh kemudian naik helikopter turun di La-pangan Beureuenuen.
Dari helipad direncanakan meninjau Pasar Beureunun terlebih dulu. Setelah makan siang di Sigli, lalu shalat Zuhur. Kemudian ke kokasi Rumoh Geudong. "Kegiatan di Rumoh Geudong dimu-lai pukul 13.00 WIB," katanya.
Selanjutnya, di Rumoh Geudong dilakukan penyambutan se-suai adat Aceh, yakni peusijuek, lalu penandatanganan prasasti dan membuka selubung prasasti.
Kemudian, ada sesi acara Menyapa Seluruh Dunia, maksud-nya secara zoom Jokowi akan menyapa seluruh mahasiswa atau-pun warga di seluruh dunia yang sebelumnya menjadi korban pe-langgaran HAM dan kini berada di luar negeri atau di mana saja.
Nah, kita apresiasi kedatangan Presiden Jokowi ke Aceh kali ini yang sangat beda agendanya dengan kedatangan sebelum-sebelumnya. Kunjungan ini juga punya makna khusus karena be-lum seorang pun Presiden RI pascatumbangnya Soeharto (1998) yang kunker ke Aceh untuk melaksanakan kick-off penyelesaian pelanggaran HAM berat secara nonyudisial. Kita harus angkat sa-lut atas keberanian Presiden Jokowi mengakui bahwa negara—melalui ribuan prajuritnya di lapangan—memang bersalah mela-kukan pelanggaran HAM ringan hingga berat di Aceh.
Namun, yang dibutuhkan Aceh dalam konteks ini bukanlah menghancurkan semua bagian Rumoh Geudong yang tersisa, lalu di atasnya ditimbun dan dibangun masjid.
Bangun kembali tiruan Rumoh Geudong tersebut dan jadikan ia monumen untuk merawat ingatan kolektif rakyat Aceh dan bangsa ini. Bahwa pernah ada periode kelam yang terjadi dalam waktu lama saat pemberlakuan Daerah Operasi Militer (DOM) dan Darurat Mili-ter di Aceh, di mana serdadu republik menjadikan Rumoh Geudong sebagai tempat menyiksa, memerkosa, dan membunuh warga sipil Aceh nonkombatan plus mereka yang terindikasi GAM.
Monumen atau bahkan “torture museum” yang akan dibangun di kompleks Rumoh Geudong itu akan kita jadikan monumen ingatan untuk menghormati HAM, memanusiakan manusia, dan memastikan agar kekejian serupa tak akan terjadi lagi di Aceh dan di pelosok mana pun Bumi Pertiwi.
Oleh karenanya, dengarkan aspirasi Aceh kali ini, Pak Jokowi. Bahwa yang dibutuhkan rakyat Aceh di lokasi itu bukanlah masjid, tapi monumen atau bahkan museum perdamaian untuk mence-gah konflik dan kebiadaban khas Rumoh Geudong tidak terulang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Jeritan-dan-Lepotan-Darah-di-Rumoh-Geudong-Tempat-Bersejarah-yang-Diratakan-Sebelum-Jokowi-Datang.jpg)