Breaking News

Opini

Membangun Aceh Antara Dua Stigma

Menariknya dalam satu bulan terakhir  isu sentral yang dibicarakan oleh berbagai kalangan di Aceh baik di warung kopi maupun di tempat  non formal lai

Editor: mufti
ist
Dr H Munawar A Djalil MA 

Dr Phil Munawar A Djalil MA, Pegiat dakwah dan pemerhati politik pemerintahan, tinggal di Cot Masjid Banda Aceh

TERJAWAB sudah teka-teki terkait Pj Gubernur Aceh untuk  satu tahun ke depan Adalah Achmad Marzuki yang juga Pj Gubernur Aceh satu tahun sebelumnya melalui Keputusan Presiden (Keppres) yang diserahkan langsung oleh Sekjen Kemendagri pada 5 Juli 2023 menunjuk Achmad Marzuki untuk melanjutkan jabatannya sebagai Penjabat Gubernur Aceh 2023-2024.

Menariknya dalam satu bulan terakhir  isu sentral yang dibicarakan oleh berbagai kalangan di Aceh baik di warung kopi maupun di tempat  non formal lainnya tidak lain adalah sosok Pj Gubernur Aceh untuk tahun kedua.

Bagi masyarakat yang peduli tentu dinamika yang bernuansa politik ini tidak hanya menguras banyak waktu mereka malah telah menghabiskan energi batinnya hanya untuk memastikan sosok pemimpin yang mampu membangun Aceh sementara bagi yang apatis justru mereka bersikap masa bodo karena bagi mereka siapa pun pemimpin baik orang Aceh maupun bukan, Aceh biasa-biasa saja tidak ada yang berubah. Bagi mereka sikap tidak peduli itu lebih baik daripada  “habieh arang busoe han taja”.

Syahdan, dalam perjalanan waktu berbagai cita rasa politik telah bermunculan dari politik emosional DPRA sampai gejolak psikologi politik masyarakat Aceh. Kenapa tidak, dengan beragam alasan DPRA hanya mengusul satu calon sementara Kemendagri meminta agar diusul tiga calon.

Begitu pula dengan gejolak jiwa dan psikologi masyarakat Aceh yang menginginkan agar yang memimpin Aceh  paling kurang untuk satu tahun ke depan adalah orang Aceh sendiri. Sama seperti alasan psikologi DPRA karena yang paham akan Aceh adalah orang Aceh, Achmad Marzuki disinyalir bukan orang Aceh maka tak pantas diperpanjang untuk kembali memimpin Aceh. Begitulah suara-suara yang muncul satu bulan ke belakang.

Suka atau tidak suka hari-hari ini semua telah jelas dengan bermacam pertimbangan Pemerintah Pusat telah menunjuk Achmad Marzuki sebagai PJ Gubernur Aceh untuk satu tahun ke depan. Pertanyaannya What we will to do (apa yang akan kita lakukan).

Tentu saat ini tidak banyak yang harus kita lakukan melainkan hanya pasrah dan menerima segala keadaan yang terjadi bahwa semua ini adalah kodrat dan iradat Allah Swt. Sehingga kemudian  yang paling penting bagi semua kita adalah baik legislatif, eksekutif dan seluruh komponen masyarakat Aceh untuk bersama-sama membangun Aceh dalam stigma “kawan” dan bukan sebagai “lawan”.

Stigma kawan dan lawan

Dalam ilmu sosiologi arti kawan memiliki cakupan yang lebih luas dari pengertian dalam kehidupan sehari-hari. Karena dalam sosiologi kawan bisa juga berarti lawan. Maknanya lawan itu adalah kawan yang dalam pergaulan memiliki pemikiran, tujuan dan pandangan yang berbeda.

Dalam pengertian hidup sehari-hari kawan adalah seseorang yang mengerti tentang kita, kenal dengan kita, memahami tentang kita dan selalu dekat dengan kita. Yang harus dipahami bahwa kawan tidak selalu ada setiap saat untuk kita, karena kawan bukan asisten pribadi  yang selalu ada setiap saat kita memerlukannya. Karena kawan juga sangat terikat dengan ruang dan waktu  dan sebagainya. Kawan pun bisa menjadi lawan ketika kawan tersebut sudah tidak sesuai dengan prinsip dan jalan pikiran kita.
Bahkan sesama kawan tak jarang terjadi konflik, baik karena hal yang sangat sepele maupun disebabkan perkara yang serius. Akibatnya seketika itu juga kawan telah berubah menjadi lawan. Maka tidak ada kawan yang abadi.

Antonim dari kawan adalah lawan, yaitu seseorang yang tidak sepaham dengan kita. Lawan adalah orang yang selalu berseberangan dengan kita. Sebagaimana kawan, lawan pun selalu ada dimanapun yang juga terikat dengan ruang dan waktu, selalu datang dan pergi. Bahkan ketika adanya kecocokan atau muncul kesadaran baik dalam diri masing-masing. Seketika itu lawan akan menjadi  kawan. Maka lawan pun tidak ada yang abadi.

Ketika kawan dan lawan tidak ada yang abadi, maka yang paling abadi itu adalah kepentingan. Kepentingan itu adalah hal yang sangat melekat pada kawan dan lawan. Oleh karena itu kepentingan itu tidak mengenal yang namanya kawan dan lawan karena kepentingan itu selalu ada dimana pun dan di waktu kapan pun.

Dalam konteks politik Aceh saat ini, sekutu atau musuh tidak akan abadi, hanya kepentingan saja yang kekal. Seperti halnya yang terjadi di negeri ini adalah contoh kepentingan politik yang nyata. Dalam politik tidak ada yang namanya kawan berpolitik ataupun lawan berpolitik. Semuanya sama yaitu satu kepentingan.

Kepentingan adalah hal yang selalu ada baik dalam kawan maupun lawan. Maka menarik mengutip Pernyataan Lord Palmerston (Mantan Perdana Menteri Inggris): “We have no eternal allies, and we have no perpetual enemies. Our interests are eternal and perpetual, and those interests it is our duty to follow. (Kita tidak memiliki sekutu yang kekal dan kita tidak memiliki musuh yang abadi, kepentingan kita saja yang kekal dan kepentingan tersebut adalah tugas kita untuk  mengikutinya).

Menyikapi hal ini, sebagai muslim kita akan sangat bijak dalam berkawan atau berlawan dengan mengikut Hadits Nabi: “cintailah orang yang kau cinta dengan sewajarnya, boleh jadi  suatu hari dia menjadi orang yang kau benci, dan bencilah kepada seseorang sewajarnya saja, boleh jadi suatu hari dia yang kau benci menjadi orang yang kau cinta, (H.R.  Tirmizi).

Interes politik Aceh

Adagium “hanya ada kepentingan yang abadi dalam politik” mesti diketahui oleh masyarakat, karena hal ini akan sangat membantu publik untuk memahami fenomena kondisi politik terutama di Aceh saat ini. Masyarakat tentu banyak yang bertanya-tanya terkait perubahan yang signifikan pada peta politik Aceh (kawan telah menjadi lawan).

Jika dilihat dari paradigma realisme politik, maka sikap yang diambil oleh para elite politik Aceh tersebut dapat dimaknai sebagai jalan untuk mencapai kepentingan masing-masing pihak dengan cara-cara yang menurut mereka rasional. Sekali lagi hal ini telah membuktikan kebenaran dari adagium “Tidak ada kawan atau lawan abadi di dalam politik, yang ada hanya kepentingan abadi”. Tidak heran prinsip abadi di dunia politik ini dari kawan berubah jadi lawan. Dulu seiring sejalan menjadi berseberangan, dulu bersatu sekarang berseteru, dulu berkoalisi kini beroposisi. Itu sudah biasa.

Fenomena perubahan sikap para elite politik tersebut, harus dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai pembelajaran dalam memahami politik praktis. Hal ini sangat penting, mengingat dinamika perpolitikan Aceh pasca perpanjangan Pj Gubernur Aceh Achmad Marzuki, dipastikan akan terus terjadi. Perjalanannya pun masih teramat panjang, sehingga kerasnya pertarungan-pertarungan politik masih akan banyak terjadi di masa yang akan datang.

Karenanya, penulis berharap ketika masa-masa itu tiba, masyarakat secara umum sudah bisa memahami situasi politik yang terjadi agar tidak mudah terjebak pada pembentukan wacana yang sifatnya menimbulkan peluang konflik di tengah masyarakat, serta dapat menggunakan penilaian-penilaian yang objektif dan bertumpu pada kebenaran untuk dijadikan landasan dalam bersikap.

The last but not least, membangun Aceh antara dua stigma politik “kawan” maupun “lawan” agaknya akan masih terus berlaku di Aceh. Hal itu bagi penulis lazim dan tidak akan pernah jadi persoalan. Nah, ketika nanti “lawan” kembali menjadi “kawan” maka yang abadi itu adalah kepentingan yaitu kepentingan untuk bersama-sama membangun, memberikan kesejahteraan kepada rakyat dan membawa kemajuan untuk Aceh, Nanggroe jang hana phang phoe jang hana ruyang rayoe, jang hana duek troe dan jang hana saket asoe.  Nah. Allahu ‘alam.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved