Selasa, 5 Mei 2026

Pemilu 2024

Diambang Perpecahan, Golkar Ibarat Mengulang Kutukan Tiap Pemilu

Lawrence menilai, Airlangga yang dipilih sebagai bakal calon presiden Golkar untuk Pemilu 2024, tak kunjung bergerak. Oleh karena itu, eksponen pendir

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
Kompas.com/Adhyasta Dirgantara
Ridwan Kamil berfoto bersama pimpinan DPP Golkar setelah menerima jas kuning dan KTA Golkar dari Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto di kantor DPP Golkar, Jakarta, Rabu (18/1/2023). 

SERAMBINEWS.COM - Isu perpecehan seolah menjadi kutukan tersendiri bagi partai beringin setiap menjelang pelaksanaan pemilu.

Setidaknya, isu perpecahan terjadi di Pemilu 2014 dan Pemilu 2019.

Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Sentral Organisasi Karyawan Swadiri (Soksi) Lawrence TP Siburian mengatakan, arah Golkar menjelang Pemilu 2024 hingga saat ini tidak jelas.

Sebab, hanya Partai Amanat Nasional (PAN) yang berpeluang berkoalisi dengan Golkar.

"Kami sudah tahu kok, tinggal PAN yang bisa berkoalisi. (Elektabilitas) PAN punya 7 persen, Golkar punya 14 persen, kalau digabung 21 persen," kata Lawrence dalam konferensi pers di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (12/7/2023).

Baca juga: Belum Putuskan Capres, PPP sudah Kabur Gabung PDIP, Golkar: KIB Rugi

Lawrence menilai, Airlangga yang dipilih sebagai bakal calon presiden Golkar untuk Pemilu 2024, tak kunjung bergerak. Oleh karena itu, eksponen pendiri Partai Golkar mendorong agar segera dilakukan Rapimnas, lalu Munaslub.

"Kami sudah tahu kok, tinggal PAN yang bisa berkoalisi. (Elektabilitas) PAN punya 7 persen, Golkar punya 14 persen, kalau digabung 21 persen," kata Lawrence dalam konferensi pers di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (12/7/2023).

Perpecahan di tubuh Golkar terjadi Ini terjadi setelah sejumlah politisi senior Golkar mendorong dilaksanakannya Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) untuk mengganti Ketua Umum Airlangga Hartanto.

Baca juga: PKB Bakal Keluar dari Koalisi jika Prabowo tak Jadikan Cak Imin Cawaprenya

Sejumlah politisi itu mengatasnamakan diri mereka eksponen pendiri Golkar, diprakarasai Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Sentral Organisasi Karyawan Swadiri (Soksi) Lawrence TP Siburian, anggota Dewan Pakar Golkar Ridwan Hisjam dan politikus senior Golkar Zainal Bintang.

Kondisi kisruh di tubuh Golkar ini mengingatkan pada peristiwa pemilu 2014 silam.

Berikut ulasan mengenai perpecahan di tubuh Golkar:

Ketika menjelang pelaksanaan Pemilu 2014, internal Golkar mengalami perpecahan menyusul rencana berkoalisi dengan Partai Demokrat.

Perpecahan terjadi dalam kubu yang mendukung Ketua Umum Partai Golkar ketika itu, Aburizal Bakrie menjadi bakal calon presiden bersama Pramono Edhie sebagai bakal calon wakil presidennya.

"Ada gempa di mana-mana, perpecahan di ring satu Ical sendiri," kata politikus senior Golkar Zainal Bintang, Sabtu (17/5/2014).

Kubu yang mendukung Ical menjadi bakal capres dan disandingkan dengan Pramono Edhie di antaranya adalah Wakil Ketua Umum Partai Golkar saat itu, Agung Laksono dan MS Hidayat.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved