Jurnalisme Warga
Adu Jurus Tari Pelebat Versus Silat Betawi
Sepintas saya lihat tarian ini seperti seni bela diri menggunakan sebatang bambu sebagai senjatanya. Rasa ingin tahu yang besar mendorong saya untuk m
MELINDA RAHMAWATI, mantan Peserta Pertukaran Mahasiswa Merdeka Angkatan 1 tahun 2021 di Universitas Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh, melaporkan dari Jakarta
Menjelang hari paling bersejarah sebagai rakyat Indonesia, saya mencoba kembali menghadirkan refleksi semangat perjuangan yang diabadikan dalam sebuah budaya lokal. Setelah menilik kembali keragaman budaya Aceh, saya tertarik dengan tari pelebat milik masyarakat Alas, Aceh Tenggara.
Saya mengenal tarian ini ketika berdiskusi dengan kelompok musik Oranghutan Squad tahun 2022. Dalam video klip lagu "Meusyeuhu", mereka menampilkan cuplikan peragaan tarian tersebut dengan latar belakang lokasi di Masjid Agung At-Taqwa, Babussalam, Aceh Tenggara. Sepintas saya lihat tarian ini seperti seni bela diri menggunakan sebatang bambu sebagai senjatanya. Rasa ingin tahu yang besar mendorong saya untuk menelusuri lebih lanjut tentang tari pelebat dan perbandingannya dengan seni bela diri pencak silat dari Betawi.
Dalam situs resmi isbiaceh.ac.id, disebutkan bahwa asal kata pelebat ialah dari kata “pesapet” yang berarti pukul-memukul. Tari pelebat ini semakin unik karena para penari hanya menggunakan sebilah bambu yang diruncingkan dengan bentuk dan ukuran tertentu sebagai senjatanya.
Tentunya, sebelum memulai kegiatan dilakukan upacara tepung tawar dengan menyodorkan sirih pinang dan kata-kata nasihat yang dipandu oleh tokoh masyarakat setempat. Permainan ini hanya dilakukan pada waktu siang atau sore, acara pernikahan, sunat rasul, dan seremoni lainnya.
Dengan musik pengiring canang situ, bangsi, suling, dan lainnya. Pakaiannya juga adalah pakaian panglima khas masyarakat Alas dengan warna dasar hitam.
Tari pelebat ini menjadi sebuah tarian yang menggambarkan semangat ketangkasan dan kecekatan masyarakat di Kabupaten Aceh Tenggara dalam menghadapi musuh. Di samping untuk mendidik mental kepahlawanan dalam mempertahankan bangsa dan negara. Demikianlah yang membuat saya selalu kagum dan senang dengan kearifan lokal masyarakat Aceh.
Seiring berjalan waktu, tarian ini selalu hadir dalam upacara adat, pesta rakyat, dan penyambutan tamu, serta pembesar negeri. Namun disayangkan, dalam beberapa artikel yang saya temukan tertulis bahwa tarian sarat nilai perjuangan ini sudah hampir punah. Tidak heran jika tari pelebat kalah populer dengan tarian khas Aceh lainnya.
Saya coba mengingat kembali mengenai kesenian Betawi yang juga memvisualkan hal yang sama. Teringatlah saya dengan silat Betawi. Sejak kecil saya tidak asing dengan silat yang satu ini. Dalam setiap prosesi pernikahan adat Betawi, silat Betawi ini selalu ditampilkan dengng istilah "Palang Pintu". Teknis pelaksanaannya dalam upacara pernikahan hampir sama dengan tari pelebat. Namun, dalam silat Betawi terdapat ragam jurus yang dipertunjukkan. Sedangkan dalam tari pelebat hanya satu jurus yang sudah terbentuk sebagai dasar gerak tari tersebut.
Jika berbicara tentang silat Betawi, kita akan menjumpai beberapa jenis aliran seperti: silat Beksi atau “maen pukulan”, silat Cingkrik, silat Tiga Berantai, silat Sabeni, silat Silo atau Silau macan, silat Mustika Kwitang atau silat Kwitang, silat Pusaka Djakarta, dan silat Troktok.
Silat yang paling sering diidentikkan dengan budaya Betawi salah satunya adalah silat Beksi. Dalam situs resmi dinaskebudayaan.jakarta.go.id, disebutkan bahwa silat Beksi atau “maen pukulan” berasal dari bahasa Tionghoa yakni "Bei" artinya pertahanan dan "Sei" artinya penjuru. Sehingga, silat ini dimaknai sebagai pertahanan empat penjuru.
Dalam aliran Beksi, terdapat ciri khas tersendiri. Jurus Beksi amat terkenal dengan pukulan serta tendangan yang keras, cepat, ringkas, dan mengarah pada tempat-tempat yang mematikan tubuh lawan. Semuanya digambarkan dalam ragam gerak kuda-kuda, gerak serang, pukulan, dan sikut keras dengan gaya tersendiri.
Kemudian terdapat aliran silat Tiga Berantai. Bagi para penggemar berat aktor Iko Uwais tentu tidak asing lagi dengan bela diri ini. Berkat ketekunannya mempelajari aliran silat ini, berhasil mengantarkannya menjadi aktor film laga skala internasional.
Terdapat sebuah mitos dalam masyarakat Betawi bahwa silat Tiga Berantai ini adalah salah satu warisan dari Pangeran Jayakarta. Sesuai dengan namanya, terdapat tiga aliran dalam bela diri ini: si Macan, si Tembak, dan si Karet.
Aliran si Macan adalah ilmu silat yang dimiliki dan diwariskan Pangeran Jayakarta. Cirinya terlihat pada serangan cakar jari tangan dengan landasan tenaga dalam yang kuat. Dalam pertarungan, cakar digunakan untuk menyerang titik lemah musuh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/bedah-buku-90897867t.jpg)