Kupi Beungoh
Perubahan Iklim Dan Krisis Pangan
Pembakaran bahan bakar fosil telah merusak lapisan ozon sehingga mengakibatkan terjadinya pemanasan global
Oleh: Iswadi *)
Alam sedang tidak baik-baik saja. Beberapa hari lalu, kita disuguhkan oleh berita yang membuat kita khawatir.
Harian Serambi Indonesia dan beberapa media nasional memuat berita tentang krisis kemanusiaan di Papua Tengah. Beberapa masyarakat Papua Tengah meninggal karena kelaparan dan gangguan kesehatan.
Krisis kemanusiaan yang terjadi di Papua Tengah disebabkan oleh bencana kekeringan akibat cuaca panas yang sedang melanda wilayah Indonesia akhir-akhir ini. Di Papua Tengah krisis serupa sudah sering terjadi dan setiap tahunnya semakin parah.
Sebenarnya tidak hanya di Papua Tengah, kejadian serupa juga terjadi di belahan dunia lainnya, misalnya negara-negara di benua Afrika. Krisis kemanusiaan terjadi akibat degradasi lingkungan karena perubahan suhu bumi.
Kegiatan manusia yang bersifat eksploitatif, khususnya sejak terjadinya revolusi industri pada abad ke-18 hingga kini, telah berdampak pada ranah yang sekalipun tak disentuh langsung oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari, yaitu lapisan ozon.
Baca juga: Barak Pekerja PT Satya Agung Aceh Utara Rusak Diterjang Angin Puting Beliung
Pembakaran bahan bakar fosil telah merusak lapisan ozon sehingga mengakibatkan terjadinya pemanasan global.
Pemanasan global merupakan penyebab terjadinya perubahan iklim, yaitu fenomena perubahan suhu muka bumi dan pola cuaca jangka panjang yang memicu terjadinya bencana ekologis yang sangat intens di berbagai belahan dunia, hingga berdampak pada rusaknya alam dan krisis sosial, salah satunya adalah kelaparan.
Cuaca Ekstrem
Perubahan iklim akan membuat cuaca ekstrim semakin sering terjadi. Berubahnya suhu muka bumi ini dapat meningkatkan siklus terjadinya El-Nino Southern Oscillation (ENSO).
Dalam banyak literatur ilmiah disebutkan bahwa pada umumnya siklus ekstrim ENSO terjadi per 5-7 tahunan, tetapi perubahan iklim akan membuatnya lebih sering yaitu per 2-5 tahunan.
Fenomena ENSO terdiri dari tiga fase: El Nino, La Nina, dan Netral. El Nino dan La Nina berdampak buruk bagi sektor pangan. El-Nino menyebabkan kekeringan.
Sementara La-Nina pemicu terjadinya banjir. Baru-baru ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat bahwa setelah tiga tahun berturut-turut kita berada dalam fase La Nina, sekarang kita akan menghadapi fase El Nino. Artinya dulu kita sering mengalami banjir sekarang memasuki fase kekeringan.
Saat ini hampir semua wilayah di Indonesia terkena dampak ENSO, salah satunya Aceh. Februari lalu, BMKG mengumumkan bahwa Aceh mengalami perubahan Zona Musim dari semula 5 (lima) menjadi 15 (lima belas).
Baca juga: Belum Genap Sebulan Menikah, Ini Alasan Ibu Kevin Minta Anaknya Ceraikan Mariana
Sehingga, kondisi Aceh yang seharusnya sudah memasuki musim kemarau, tetapi masih diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi. Begitu juga sebaliknya.
Anomali iklim tersebut berdampak pada penurunan hasil panen hingga menyusutnya lahan akibat rusak karena bencana banjir.
Misalnya berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), akibat banjir di sebagian daerah di Aceh beberapa waktu lalu, luas area panen sawah berkurang dari 297.000 hektar di 2021 menjadi 276.000 hektar di 2022. Sehingga jumlah produksi padi pun ikut menurun.
Krisis Pangan
Produksi pangan terus mengalami penurunan akibat bencana semakin sering terjadi. Disisi lain kebutuhan pangan semakin meningkat karena jumlah penduduk terus bertambah.
Kita akan menghadapi fenomena Feeding Frenzy dimana jumlah konsumen lebih banyak daripada pangan itu sendiri.
Badan Pangan Dunia (WFP) mengungkapkan bahwa saat ini sekitar 345 juta orang berada dalam kategori kekurangan pangan akut (acute food insecurity) di 82 negara.
Dimana masyarakat tidak memiliki cukup makanan untuk dikonsumsi dan berada dalam posisi rentan kelaparan.
Indonesia sendiri saat ini berada dalam kategori tingkat kelaparan moderat berdasarkan data dari Global Hunger Index. Artinya sebagian masyarakat Indonesia masih tidur dalam keadaan lapar di malam hari. Dan stunting (gagal tumbuh) pada anak-anak kita masih terjadi.
Di tengah tingginya angka kelaparan dan kekurangan pangan yang disebabkan oleh berbagai faktor, perubahan iklim memperparah status quo.
Baca juga: Tanggapi Panic Buying di Malaysia, Mendagri Ingatkan Dampak Fenomena El Nino
Perubahan iklim mengubah geopolitik pangan dunia. Setiap negara mulai mengantisipasi dampak perubahan iklim terhadap ketahanan pangan mereka.
Negara-negara produsen pangan terbesar mulai mengurangi dan bahkan menghentikan ekspor komoditas pangannya ke negara lain guna menjaga ketahanan pangannya sendiri.
Tentu hal tersebut berdampak bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional.
Baru-baru ini misalnya, Vietnam mengurangi ekspor beras untuk memastikan ketahanan pangan nasionalnya dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
Beberapa waktu lalu India juga pernah menghentikan ekspor gandum karena gagal panen yang disebabkan oleh gelombang panas yang berkepanjangan melanda India. Pada saat itu, hampir semua negara yang bergantung pada India terkena dampak, termasuk Indonesia.
Adaptasi
Perubahan iklim tidak dapat dihindari serta dampaknya juga sangat luas. Mencegah perubahan iklim dan mengembalikan iklim ke kondisi normal membutuhkan pendekatan secara menyeluruh serta komitmen bersama secara global.
Tentu ini membutuhkan waktu yang lama. Meskipun demikian kita harus bersikap untuk merespon fenomena tersebut, salah satunya dengan meningkatkan kemampuan untuk menyesuaikan diri atau adaptasi.
O'Brien dan Leichenko dalam Climate and Society mengemukakan bahwa adaptasi terhadap perubahan iklim mencakup aspek yang sangat luas, diantaranya yaitu aspek teknis dan kebijakan, serta aspek kultur.
Baca juga: Perihal Mosi tak Percaya, Ketua DPRK Pidie: yang Penting Masyarakat Pidie dan PA Masih Percaya Saya
Aspek teknis dan kebijakan adalah peran negara dalam mengatur masyarakatnya menghadapi perubahan iklim. Hal ini meliputi pembuatan regulasi untuk meningkatkan daya tahan dan mengurangi dampak perubahan iklim pada masyarakat.
Dalam hal ini pemangku kebijakan dituntut lebih aktif menghadirkan kebijakan dan program guna merespon perubahan iklim.
Misalnya, kebijakan tentang pengembangan benih tanaman yang lebih tahan terhadap bencana serta pembenahan dan pembangunan infrastruktur yang mampu mengurangi dampak bencana.
Sementara perubahan kultur mengutamakan pada aspek pengembangan sumber daya manusia, khususnya meningkatkan pemahaman masyarakat tentang perubahan iklim.
Masyarakat, khususnya pelaku sektor pangan harus memahami anomali iklim yang sedang terjadi. Sehingga mereka dapat menggunakan strategi yang tepat untuk beradaptasi.
Selama ini adaptasi terhadap perubahan iklim tidak berjalan dengan baik karena minimnya pemahaman masyarakat tentang perubahan iklim.
Hasil riset lembaga Communication for Change dan Development Dialogue Asia selama 2021 dan 2022 di 34 provinsi di Indonesia menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat familiar dengan istilah perubahan iklim. Tetapi lebih setengah dari mereka belum memahami artinya dengan benar.
Baca juga: Arab Saudi Keluarkan Peringatan Cuaca Ekstrem, Guntur, Badai Debu dan Salju di Seluruh Wilayah
Kita berharap implementasi kebijakan tentang perubahan iklim yang lebih optimal di daerah. Sehingga perubahan iklim tidak hanya menjadi fokus pemerintah di tingkat internasional dan nasional.
Tetapi juga menjadi fokus utama pemerintah daerah. Pemerintah daerah dituntut untuk memiliki kepekaan terhadap krisis (sense of crisis) yang lebih kuat dalam menghadapi perubahan iklim.
Isu perubahan iklim adalah salah satu isu yang mendapat perhatian serius dari masyarakat dunia. Tetapi masih dianggap "halusinasi" oleh banyak masyarakat lokal, termasuk para pembuat kebijakan di tingkat daerah.
Kalau status quo terus berlanjut maka kita akan menghadapi dunia yang digambarkan oleh Charlotte McConaghy dalam novelnya yang berjudul Migrations, perubahan iklim adalah jalan menuju kepunahan.
*) PENULIS adalah alumni “Magister Hukum dan Kebijakan Lingkungan di University Of New South Wales, Australia
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA TULISAN KUPI BEUNGOH LAINNYA DISINI
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Iswadi-alumni-Magister-Hukum-dan-Kebijakan-Lingkungan-di-University-Of-New-South-Wales.jpg)