Berita Lhokseumawe
Buka Kelas Jurnalistik BJI, Ketua AJI Lhokseumawe: Era Digital Wartawan Dituntut Multitasking
Untuk diketahui BJI merupakan Sekolah Jurnalisme yang didirikan AJI Lhokseumawe pada tahun 2012.
Penulis: Jafaruddin | Editor: Nur Nihayati
Irmansyah menyebut di Kelas BJI tidak hanya diajarkan materi tentang menulis straight news (berita langsung), tapi juga feature, in-depth reporting (laporan mendalam), jurnalisme investigasi, dan jurnalisme lingkungan.
“Ketika teman-teman ini nanti menjadi jurnalis, termasuk yang sudah bekerja sebagai jurnalis, jangan membiasakan diri hanya menunggu siaran pers.
Saya berharap jangan pula sekadar meliput untuk menulis straight news, dan tidak hanya mengutip pernyataan pejabat daerah dan aparat penegak hukum saja, misalnya.
Namun, jurnalis harus rajin verifikasi, termasuk reportase, dan terus meningkatkan keterampilan bagaimana menggali data dan dokumen-dokumen penting menyangkut kepentingan umum untuk disajikan dalam laporan mendalam,” tutur Irman.
Menurut Irman, jurnalis di era digital ini dituntut multitasking, sehingga harus lebih kreatif dalam menghasil karya jurnalistik yang menarik, berkualitas, dan mencerdaskan publik. Termasuk bagaimana mendistribusikan produk jurnalistik tersebut melalui platform media sosial.
Direktur Eksekutif BJI Zaki Mubarak mengatakan peserta Kelas BJI kali ini akan dilatih sejumlah jurnalis profesional, termasuk kreator konten (content creator).
Selain itu, Sekretaris AJI Lhokseumawe Jafaruddin akan berbagi pengetahuan tentang keamanan digital.
BJI juga akan mengundang para mantan Ketua AJI Lhokseumawe untuk mengisi kelas jurnalistik ini.
Di antaranya, Zainal Bakri, Ayi Jufridar, Mohd. Nasier H., Saiful Bahri, Masriadi, dan Agustiar.
Alumni BJI Angkatan I Zikri Maulana yang menjadi jurnalis video dan foto telah meraih sederet prestasi pada lomba tingkat nasional beberapa tahun terakhir juga akan mengisi kelas jurnalistik tersebut.
“Kelas BJI selama empat bulan belajar di ruangan setiap Sabtu, termasuk praktik dan evaluasi, dilanjutkan magang dua bulan di media-media arus utama,” ujar putra (almarhum) Basri Daham, salah satu perintis AJI Lhokseumawe sekaligus ketua pertama itu.
Zaki menyebut BJI telah melahirkan banyak jurnalis profesional yang bekerja di media lokal dan nasional.
“Bahkan ada alumni BJI yang menjadi koresponden media internasional,” ucap Zaki yang mengelola BJI bersama T Fakhrizal dan Sarina.
Usai pembukaan dan perkenalan antara pengurus BJI dengan peserta kelas jurnalistik itu, salah satu pendiri AJI Lhokseumawe Ayi Jufridar memaparkan materi “Memperkuat Nilai Ke-AJI-an: Deklarasi Sinargalih, dan Berdirinya AJI”.
Ayi juga banyak bercerita pengalamannya menjadi jurnalis sejak Aceh masih dalam konflik bersenjata.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/F20230924jf1.jpg)