Kamis, 30 April 2026

Opini

Mengenal Kepribadian Nabi Muhammad saw

SUDAH menjadi kewajiban bagi seorang muslim untuk menjadikan Nabi Muhammad saw sebagai sosok idola dan panutan dalam perilakunya sehari-hari.

Tayang:
Editor: mufti
Dokumen Pribadi
Ketua MIUMI Aceh, Ustaz Dr Muhammad Yusran Hadi, Lc, MA, menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Istiqamah Blower, Banda Aceh, Jumat (17/6/2022). 

Dr Tgk Muhammad Yusran Hadi Lc MA, Dosen Fiqh dan Ushul Fiqh pada Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Ar-Raniry, Doktor Fiqh dan Ushul Fiqh pada International Islamic University Malaysia, dan Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Aceh

SUDAH menjadi kewajiban bagi seorang muslim untuk menjadikan Nabi Muhammad saw sebagai sosok idola dan panutan dalam perilakunya sehari-hari. Allah swt berfirman, “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah suri teladan bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab: 21).

Allah swt juga berfirman, “Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (Al-Qalam: 4). Begitu mulianya akhlak Nabi saw sehingga datang pujian langsung dari Allah ta’ala, agar kita meneladaninya.
Namun, selama ini sebagian umat Islam telah meninggalkan panutan mereka ini. Mereka telah kehilangan jati dirinya sebagai seorang muslim dengan mengutamakan manusia lain daripada Nabi saw dan menjadikan orang-orang yang seharusnya tidak patut dijadikan panutan.

Mereka lebih bangga menjadikan para selebritas, pemain bola, politikus, filsuf dan lainnya sebagai idola mereka daripada Nabi saw. Bahkan orang kafir pun sekalipun. Akibatnya, muncullah berbagai maksiat seperti kriminal, kerusakan moral, paham sesat, dan maksiat lainnya. Tentu saja kita mesti risau dengan kondisi umat Islam seperti ini.

Kualitas iman seseorang sangat ditentukan dengan kecintaannya kepada Rasul saw. Orang yang memiliki iman yang sempurna selalu memosisikan cintanya kepada Rasul saw dengan posisi urutan pertama dibandingkan kepada manusia lain. Cintanya kepada Rasul saw melebihi cintanya kepada orang lain termasuk orang tuanya, istri/suaminya, anaknya, bahkan dirinya sendiri. Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah sempurna iman salah seorang kalian sehingga aku lebih dicintai dari kedua orang tuanya, anaknya dan manusia semua.” (HR. Al-Bukhari).

Rasulullah saw  juga bersabda: “Tidaklah sempurna iman seseorang sehingga aku lebih dicintai dari dirinya sendiri.” (HR. Ahmad). Bukti cinta kepada Nabi saw adalah menjadikannya sebagai sosok idola dan panutan dengan mengikuti sunnahnya, baik dalam ibadah, muamalah maupun akhlak.

Nabi Muhammad saw merupakan seorang sosok manusia yang memiliki kepribadian yang paling agung dan mulia. Akhlak beliau adalah Al-Qur'an, sebagaimana ditegaskan oleh Aisyah ra ketika ia ditanya tentang akhlak Rasul saw, maka ia menjawab, “Akhlak beliau adalah al-Qur’an.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i).

Gelar Al-Amin

Kepribadian Nabi saw yang agung ini merupakan amalan atau praktik ajaran al-Quran yang wajib kita contoh.
Sepanjang hidupnya, Nabi saw adalah orang yang paling jujur. Apa yang dikatakannya adalah kebenaran. Beliau tidak pernah berdusta, baik saat sungguhan maupun bergurau. Beliau memerintahkan umatnya untuk berkata benar (jujur) dan mengecam perbuatan dusta dengan sabdanya, “Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan itu membawa kepada surga. Sesungguhnya orang yang suka berlaku jujur akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu membawa kepada kejahatan, dan kejahatan itu akan membawa kepada neraka. Sesungguhnya orang suka berlaku dusta akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Nabi saw seorang yang amanah. Beliau menunaikan amanah dari Allah swt untuk disampaikan kepada umat dengan sempurna tanpa mengurangi atau melebihkan sehuruf pun. Beliau menyampaikan semua pesan-pesan (wahyu) Allah swt tanpa menyembunyikan sedikitpun. Beliau selalu bersikap amanah dan memerintahkan umatnya untuk amanah. Sebaliknya, beliau mengecam orang yang tidak amanah dengan sabdanya, “Tanda orang munafik ada tiga: apabila dia berbicara dia berdusta, apabila berjanji ia mengingkarinya dan apabila dipercayai ia berkhianat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Nabi saw seorang yang adil dalam bersikap dan memutuskan perkara. Maka, beliau pun diberi gelar “Al-Amin” oleh kaum Quraisy pada masa jahiliyyah karena keputusannya yang adil dalam menyelesaikan masalah mereka. Beliau selalu berlaku adil dan memerintahkan umatnya untuk berlaku adil. Beliau mengancam orang yang berlaku tidak adil (zalim) dengan sabdanya, “Jauhilah oleh kalian perbuatan zalim, karena kezaliman itu kegelapan pada hari Kiamat.” (HR. Ahmad). Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Takutlah oleh kalian perbuatan zalim.”
Nabi saw seorang yang rendah hati. Sifatnya yang rendah hati adalah sikap orang yang mengenal Tuhannya dengan rasa takut kepada-Nya, merasa malu kepada-Nya, mengagungkan-Nya, menghormati-Nya dengan penghormatan yang semestinya, merasa tenang dengan-Nya, serta mengenal hinanya kedudukan, harta dan pangkat.

Beliau menjenguk orang sakit, mengasihi orang fakir dan miskin, menyantuni orang sengsara, dan menolong orang yang lemah. Beliau duduk dan tidur di atas tanah beralaskan tikar. Nabi tidak suka pujian dan melarang pujian terhadap dirinya. (HR. Al-Bukhari). Beliau melarang menyuruh orang lain berdiri dan berhenti menundukkan kepalanya untuk menghormati kedatangannya.

Beliau membawa sendiri keperluan keluarganya, memperbaiki sendiri sandalnya, menjahit sendiri bajunya yang robek, memeras sendiri susu kambingnya, memotong dagingnya bersama istrinya, dan menyuguhkan makanan kepada tamunya.

Paling baik akhlaknya

Nabi saw seorang yang dermawan. Kedermawanan beliau lebih cepat dari angin yang bertiup (HR. Bukhari). Kedermawanannya bagaikan orang yang tidak pernah takut jatuh miskin dan tetap berinfak meskipun hanya memiliki sedikit harta atau makanan. Beliau menghimpun ghanimah kemudian membagi-bagikannya saat itu juga tanpa mengambil untuk dirinya. Hidangannya selalu terbuka bagi setiap orang yang datang.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved