Cahaya Aceh
Pekan Kebudayaan Aceh Ke-8: Rempahkan Bumi, Pulihkan Dunia
Pekan kebudayaan aceh (PKA) 8 menanggapi isu global dan nasional untuk menjadikan jalur rempah nusantara sebagai jalur rempah dunia.
SERAMBINEWS.COM - Pekan kebudayaan aceh (PKA) 8 menanggapi isu global dan nasional untuk menjadikan jalur rempah nusantara sebagai jalur rempah dunia.
Jalur rempah adalah jalur pelayaran sebagai media pertukaran antar budaya dan pengetahuan, tonggak perkembangan ekonomi, sosial, dan politik dalam skala nasional dan global.
Jalur rempah dapat dilihat sebagai cultural route atau jalur budaya yang menghubungkan dunia. Isu jalur rempah ini dituangkan menjadi lima pilar dalam PKA ini, yaitu seni budaya, krya dan wasttra, kuliner, ramuan/obat-obatan, dan sejarah.
Aceh merupakan satu titik gerbang rempah di wilayah barat nusantara. Sehingga menindaklanjuti isu ini, melalui pelaksanaan PKA-8 yang mengangkat tema ‘Rempahkan bumi, pulihkan dunia’.
Tema ini diangkat untuk menguatkan kembali sejarah Aceh dan nusantara, dalam membangun hubungan kerjasama, dengan berb- agai komunitas dunia dalam dimensi ekonomi (komoditi) dan diplomasi.
Baca juga: PKA-8 Tampilkan Aceh dalam 3 Lini Masa
Pelaksanan PKA yang bertujuan mengangkat budaya ini, mengambil tema yang berbeda dalam setiap pelaksanaannya.
Ajang perhelatan budaya terbesar masyarakat Aceh ini dilaksanakan untuk melestarikan nilai-nilai budaya, sejarah, dan adat istiadat.
Even ini pertama kali digelar pada 1958, lalu berlanjut pada 1972, 1988, 2004, 2009, 2013, dan 2018. PKA pertama yang mengambil tema ‘adat bak poteumeurehom, adat bak syiah kuala’ menghasilkan satu elemen penting, yaitu Piagam Blangpadang. Isinya, komitmen untuk menghidupkan adat istiadat dan budaya Aceh dalam setiap gerak pembangunan.
Pada pelaksanaan selanjutnya, PKA semakin berkreasi dan berwana, misalnya pada 1972, yang menampilkan ragam pementasan.
PKA ini juga upaya membuka isolasi dan ketertinggalan Aceh di segala bidang.
Pada 1988, PKA mulai membahas identitas seni Aceh di tengah gempuran budaya modern.
Sedangkan mulai 2004, PKA sudah dilaksanakan dengan lebih komplit.
Bahkan Taman ratu Safiatuddin dengan anjungan kabupaten/kota dibangun sebagai venue, yang masih menjadi pusat kegiatan budaya dan seni hingga saat ini. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/pka-8-041023.jpg)