Minggu, 19 April 2026

Citizen Reporter

Mengenal Lebih Dekat Kehidupan Muslim di Qinghai, Cina

Ketika saya mendengar suara azan dan kemudian imam melantunkan ayat Al-Qur’an, hati saya langsung terenyuh dan terharu. Sungguh sangat syahdu kedengar

Editor: mufti
IST
PUTRI KEUMALA RIZKI RANI, mahasiswi asal Aceh di Cina, melaporkan dari Qianghai, Tiongkok 

PUTRI KEUMALA RIZKI RANI, mahasiswi asal Aceh di Cina, melaporkan dari Qianghai, Tiongkok

Pada liburan musim panas tahun ini saya diundang teman saya untuk menghabiskan liburan di rumahnya, yaitu di Qinghai. Qinghai adalah provinsi di bagian barat laut Tiongkok, beribukotakan Xining. Ada lima suku utama yang mendiami

Provinsi Qinghai ini, yakni suku Hui, Zang, Tu,Sala, dan suku Innermongol.

Mayoritas yang tinggal di ibu kota provinsi, yakni Xining adalah suku Hui, suku muslim di Tiongkok.

Saya menuju provinsi ini menggunakan kereta cepat dengan waktu tempuh smbilan jam dari kota saya, Chengdu, ke Xining.

Setibanya di sana, kehidupan muslim di Qinghai langsung bisa dirasakan, mengingat banyak warga muslim yang memakai kerudung dan peci.

Saya langsung dijemput oleh teman saya dan adik perempuannya menuju rumah mereka. Setiba di rumahnya saya disambut oleh ibunya. Di rumah ini saya melihat banyak peralatan, misalnya lukisan kaligrafi dan guci, yang berlafazkan Allah.

Ketika itu saya bertanya di mana ayahnya, lalu teman saya menjawab bahwa ayahnya sedang di masjid menunaikan shalat Isya. Fakta menariknya, lelaki muslim di sini rata-rata menunaikan shalat lima waktunya di masjid.

Kemudian saya diajak makan di streetfood-nya Kota Xining. Di sini saya lumayan terkesima karena hampir rata-rata ‘streetfood’ di sini berlogo halal dan penjualnya pun memakai kerudung bagi yang perempuan dan laki-lakinya memakai peci. Ini sangat jarang saya lihat selama di Tiongkok, kecuali saat saya pergi ke kawasan dekat masjid.

Cuaca di Qinghai sendiri sangatlah nyaman. Di musim panas suhu malamnya berkisar 14-17 °Celsius, sedangkan siang hari sekitar 19-23 °C. Jika musim dingin, Qinghai akan sangat

dingin, suhunya dipastikan minus, dan mungkin di akhir bulan September di Qinghai sudah mulai turun salju. Sedangkan normalnya musim dingin di daerah lain saljunya turun pada awal Desember hingga Februari.

Kebetulan saya sampai di Xining pada Jumat malam, jadi keesokan harinya, yaitu pada hari Jumat, teman saya, ayahnya, dan abangnya mengajak saya melihat suasana shalat Jumat di masjid raya yang ada di Kota Xining bernama 东关清真寺(Dong Guan Muslim Grand Mosque).

Di Xining, hanya pria yang pergi ke masjid untuk menunaikan shalat Jumat. Ketika saya sampai ke Masjid Raya Dong Guan, saf jamaah untuk shalat Jumat sudah penuh terisi dan saf jamaah sampai meluber ke luar masjid, yakni ke depan toko-toko di pinggir jalan.

Ketika saya mendengar suara azan dan kemudian imam melantunkan ayat Al-Qur’an, hati saya langsung terenyuh dan terharu. Sungguh sangat syahdu kedengarannya. Teman saya mengatakan, imam di sini sebagian besar langsung menempuh pendidikan di Makkah, Madinah, dan Mesir, maka tak heran punya suara dan lantunan ayat yang sangat merdu.

Saya berkenalan dengan satu orang asing lain yang saya temui di masjid itu. Dia katakan bahwa dia orang Mesir dan suaminya orang Xining.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved