Minggu, 19 April 2026

Citizen Reporter

Mengenal Lebih Dekat Kehidupan Muslim di Qinghai, Cina

Ketika saya mendengar suara azan dan kemudian imam melantunkan ayat Al-Qur’an, hati saya langsung terenyuh dan terharu. Sungguh sangat syahdu kedengar

Editor: mufti
IST
PUTRI KEUMALA RIZKI RANI, mahasiswi asal Aceh di Cina, melaporkan dari Qianghai, Tiongkok 

Seusai shalat Jumat, suaminya menemui kami dan saya pun berkenalan. Suaminya adalah orang Xining asli dan menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar Jurusan Tafsir Al-Qur’an, dan di sanalah mereka bertemu. Saya sangat terkejut ketika dia katakan bahwa ia mengambil Jurusan Tafsir Al-Qur’an, sungguh tidak ada dalam bayangan saya sebelumnya bahwa masyarakat di sini sangat dekat dengan ajaran Islam.

Setelah itu saya memasuki Masjid Raya Dong Guan dan terlihat bagian dalamnya sangat besar. Bahkan, ada satu tempat bisa dikatakan sebagai museumnya masjid. Di sana disimpan Al-Qur’an dalam berbagai ukuran dan ayat-ayat Qur’an yang ditulis tangan pada zaman dahulu.

Di Xining sendiri masjid sangat mudah ditemui. Saya berkunjung ke beberapa masjid yang berada dan masing-masing memiliki ciri arsitektur yang berbeda. Namun, pada masjid-masjid di sini tidak ada perempuan yang shalat. Semua perempuan shalatnya di rumah, termasuk saat Idulfitri dan Iduladha. Jadi, hanya laki-laki yang pergi ke masjid untuk menunaikan shalat.

Fakta menariknya lagi di sini: saat setiap muslim yang satu dan lainnya bertemu, baik kenal maupun tidak kenal, mereka selalu mengucapkan ‘asalamualaikum’, sebagai doa yang

dipanjatkan kepada sesama muslim. Selama di sini saya juga memulai kebiasaan yang baik ini, baik saat bertemu orang yang tidak saya kenal, maupun orang yang saya kenal.

Kemudian, setiap masuk jadwal waktu shalat, maka azan akan dikumandangkan dari masjid, hal sangat jarang kita dengar di negara yang bukan negara Islam atau mayoritas masyarakatnya beragama Islam.

Di beberapa kesempatan, sejumlah orang tua mengajak saya mengobrol selain dalam bahasa Mandarin, juga dalam bahasa Arab. Rupanya di sini bahasa Arab digunakan secara meluas dan dianggap bahasa yang sangat baik, salah satu alasannya karena merupakan bahasa Al-Qur’an dan bahasa para nabi. Bahkan banyak dari warga di sini yang tidak bisa berbahasa Inggris, tapi sangat fasih berbahasa Arab.

Ketika saya bertanya apakah mereka ada lembaga khusus yang sejak kecil mengajarkan agama atau tidak, teman saya mengatakan mereka sedari kecil sudah rutin belajar mengaji di masjid.

Biarpun di sekolah tidak ada pelajaran agama, tetapi tidak heran sampai besar jiwa islami itu tetap terbentuk di kalangan umat muslim di sini.

Kemudian, alhamdulillah, saya juga beruntung dapat menyaksikan langsung prosesi pernikahan muslim di sini yang sangat menarik. Kebetulan yang menikah itu adalah abang sepupu dari teman saya.

Di Qinghai juga sangat jarang kita jumpai anjing piaraan yang dibawa jalan-jalan oleh pemiliknya atau anjing liar yang berkeliaran di tempat umum. Ketika saya bertanya pada

teman saya tentang ini dia katakan bahwa karena mayoritas penduduk di sini adalah muslim, maka anjing sangat

jarang terlihat. Mereka juga tidak boleh memegang anjing atau terkena ludah anjing.

Mudah pula ditebak, kalau ada orang yang membawa anjing ke jalan atau ke tempat umum di sini dia pastilah orang luar Qinghai yang sedang berlibur ke Qinghai.

Selama di Qinghai, saya tak perlu pusing untuk mencari makanan halal karena rata-rata makanan di sini halal, baik itu makanan restoran maupun jajanana ringan sampai minuman

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved