Jurnalisme Warga
Teungku Syiah Itu Mahaguru alias Guru Besar
Pertanyaan yang masih “menggugat” batin sebagian masyarakat, terutama di luar Aceh adalah: syiah = ulama besar atau Syiah = suatu aliran Islam seperti
T.A. SAKTI, alumnus Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (USK) tahun 2007, melaporkan dari Gampong Tanjung Selamat, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar
KETIKA saya sedang membolak-balik sebuah kitab lama tulisan tangan (manuskrip), terlihat oleh saya berapa kata Syiah dalam sebuah uraian. Kitab-kitab yang mengandung kata Syiah, memang sedang saya cari dalam beberapa tahun terakhir, terakait dipakainya kata Syiah pada nama Universitas Syiah Kuala (USK) Darussalam, Banda Aceh.
Pertanyaan yang masih “menggugat” batin sebagian masyarakat, terutama di luar Aceh adalah: syiah = ulama besar atau Syiah = suatu aliran Islam seperti di Iran dan wilayah sekitarnya?
Namun, sebelum kita pertegas soalan di atas, terlebih dulu saya perjelas latar belakang kitab manuskrip ini. Kitab ini dipinjamkan dr Nabil Berry kepada saya beberapa waktu lalu. Kitab ini milik kakeknya, Teungku Muhammad Ali Piyeung, Gampong Piyeueng Datu, Montasiek, Aceh Besar.
Nabil Berry, seorang dokter yang kuat minatnya di bidang kebudayaan Aceh, terutama terkait manuskrip, bahasa, dan sastra Aceh. Sekarang Nabil Berry bertugas di luar Aceh.
Kondisi kitab tidak lengkap lagi, halaman bagian awal, bagian dalam kitab, dan akhir kitab sudah hilang. Menyimak bentuk tulisan Jawoe atau Jawi alias Arab Melayu, saya perkirakan kitab ini berusia hampir 250 tahun, sebaya karya-karya Syekh Abdussalam, kakek Tgk Chiek Di Tiro Muhammad Saman, yang pernah menulis kitab dalam bentuk syair Aceh pada tahun 1208 H, 1220 H, dan 1224 H.
Ukuran buku dalam bentuk sedang yang belum bergaris. Tatanan huruf Jawoe masih seperti aksara Arab asli, belum diberi tanda-tanda baca seperti ca, ga, pa, nya, dan nga untuk memudahkan membaca bahasa Indonesia, Melayu, dan Aceh.
Satu hal lagi yang menandakan manuskrip ini cukup tua adalah saya temukan kata “kan”, yang harus dibaca keu (kepada). Hal seperti ini banyak saya jumpai dalam karya Syekh Jalaluddin Lamgut, yaitu kitab Tanbihul Ghafilin (1242 H) dan karya Syekh Abdussalam yang sudah saya alihkan ke huruf Latin itu, yakni Tambeh Tujoh (1208 H). Pada masa kemudian hingga sekarang, kata “keu” hanya ditulis dengan huruf/kata (ga).
Pada awalnya, penulisan Jawoe-Jawi tidak diberi tanda apa pun di ujung kalimat, tapi langsung disambung dengan isi kitab seterusnya. Orang-orang yang sudah terbiasa membaca kitab Jawi Melayu atau Jawoe Aceh sudah mengetahuinya. Lama-kelamaan, barulah diberi bermacam tanda seperti titik besar yang merah atau hitam, bentuk bunga, tiga titik, atau satu titik kecil.
Setiap baris dalam kitab ini sudah diberi tanda dengan tiga titik. Atas ketidakterampilan saya mencari tiga titik di komputer, saya hanya memakai tanda (*) saja di ujung kalimat. Selain itu, pada terjemahan ke bahasa Indonesia, saya memberi tanda koma (,) pada pertengahan suatu baris.
Dalam satu buku manuskrip yang sedang saya bahas ini, terdapat tiga judul karangan, tanpa kita jumpai nama seorang pengarang pun. Walaupun bagian awal telah hilang, pada bagian penutup kitab pertama tertulis nama kitab اخبار القصده = Akhbarul Qasidah (Kabar yang Dibutuhkan). Sang penulis tidak menyebut namanya dengan alasan bahwa ia orang yang bodoh, tidak berilmu, dan hina karena tak punya harta. Isi kitab pertama ini membahas masalah tauhid.
Kitab kedua juga tidak saya jumpai judul. Isinya mengenai sejarah ringkas Nabi Muhammad saw.
Kitab ketiga juga tidak saya temukan judulnya, tapi isinya membahas mengenai tasawuf. Pada kitab ketiga inilah saya jumpai beberapa kata Syiah dalam sebuah uraian. Akibatnya, saya pun terpanggil untuk menyalinnya, khusus yang ada kaitannya dengan kata Syiah itu.
Sudah tak dapat dibantah, bahwa Syiah adalah gelar yang diberikan orang Aceh kepada mahaguru atau guru besar alias gelar profesor pada masa sekarang. Untuk pembuktiannya, saya kutip sedikit bagian isi kitab ketiga itu yang berbunyi: “Limong diluwa ngo lon peugah, kata SYIAH Guree hamba”, yang terjemahannya: Lima di luar dengar saya jelaskan, kata SYIAH (baca: Syiyah) Guru saya.
Sudah dapat dipastikan bahwa pengarang kitab itu seorang ulama. Kalau bukan ulama, tentu tidak mungkin mampu menyusun kitab yang membutuhkan pengetahuan Islam yang tinggi itu. Namun, beliau masih menyebut guru beliau yang bergelar Syiah tempatnya menimba ilmu. Berarti Syiah itu adalah guru dari seorang ulama alias mahaguru.
Maka, jadi jelaslah bahwa kata “syiah” dalam kehidupan orang Aceh bukanlah aliran syiah (baca: syi’ah), tapi merupakan gelar ulama setaraf guru besar, bahkan lebih.
Berpuluh-puluh tahun tak pernah muncul “keganjilan” dalam pemberian nama Universitas Syiah Kuala. Kegalauan itu baru tersembul ketika Pusat Bahasa Indonesia di Jakarta menghapus ejaan huruf ‘ain dalam bahasa baku Indonesia pada tahun 1987.
Akibatnya, hari Jum’at menjadi Jumat, syari’at berubah jadi syariat, syi’ah = syiah, yaitu tanpa mengandung huruf 'ain. Sejak penulisan syiah = ulama besar, tidak berbeda lagi dengan cara menulis Syiah = aliran agama Islam terutama di Iran, maka datanglah sindiran, cacian kepada Universitas Syiah Kuala, karena sebagian orang luar Aceh menganggap Universitas Syi’ah Kuala atau kampusnya orang Syi'ah. Padahal, kesalahpahaman itu keliru total.
Cuplikan isi manuskrip itu sebagai berikut:
Alih aksara ke huruf Latin:
Nyankeu syarat zikir Syathary, wahe saliky takeureuja* Dua ploh hadap(adab?) nabak zike, beta hadle bek talupa* Limong di luwa duablah di dalam, lheueh nyan teuma lhee peukara* Limong di luwa ngo lon peugah, kata Syiah (baca: Syiyah) Guree hamba* Pertama taubat kedua mandi, atawa berdiri seumbahyang gata* Keuteulhee taiem wahe taulan, keuhasilan shadaq gata*
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/TA-Sakti-879809.jpg)