Opini
Napak Tilas Pekan Kebudayaan Aceh
PKA telah membantu untuk mengangkat kembali nilai-nilai tradisional, menghidupkan kembali adat istiadat, dan memperkuat identitas budaya Aceh. Ini jug
Faisal ST, Kepala SMKN 1 Julok, Ketua IGI Daerah Aceh Timur dan Tim Pengembang IT GTK Disdik Aceh
ACEH, sebuah provinsi yang menjulang gagah di ujung utara pulau Sumatera, memegang posisi istimewa sebagai provinsi paling barat di Indonesia. Dengan wilayah seluas sekitar 53.400 kilometer persegi, provinsi ini memamerkan keindahan tak terbandingkan. Di pusatnya terletak ibukota yang memikat, Banda Aceh, sebuah kota yang penuh sejarah.
Provinsi Aceh membentang mulai dari titik paling barat, Sabang, yang menawarkan pesona keindahan alam bawah laut menakjubkan, hingga ujung timur, Aceh Singkil, yang memperkenalkan kita pada kekayaan budaya memikat.
Aceh terdiri atas 23 kabupaten/kota yang beragam, Aceh merupakan perpaduan unik antara keindahan alam dan kekayaan budaya. Ungkapan "matee aneuk meupat jeurat, gadoh adat pat tamita" bukanlah sekadar kata-kata. Ini merupakan manifestasi kesadaran masyarakat Aceh tentang pentingnya adat istiadat dalam kehidupan sehari-hari.
Filosofi yang terkandung dalam ungkapan tersebut membentuk kerangka etika yang mengikat masyarakat Aceh dengan kuat kepada tradisi serta adat-istiadat. Adat istiadat adalah jantung dari budaya Aceh. Ini bukan hanya seperangkat peraturan, tetapi fondasi dari identitas mereka.
Budaya yang hidup dan berkembang di sini merupakan cerminan dari keragaman etnis, kearifan lokal yang mengalir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Provinsi ini kaya akan budaya dan keindahan alam merupakan warisan luar biasa yang telah mempertahankan esensi Aceh selama berabad-abad. Dari tradisi hingga inovasi, Aceh memiliki segalanya.
Untuk menjelajahi warisan budaya, Aceh mengemas dalam satu event yang diberi nama Pekan Kebudayaan Aceh. Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) adalah sebuah acara budaya yang menjadi tonggak penting dalam pelestarian dan pengembangan warisan budaya Aceh.
Jejak PKA
PKA telah mengalami serangkaian perjalanan sejak pertama kali diadakan pada tahun 1958 hingga edisi terbaru yang digelar pada tahun 2023. Melalui perjalanannya yang panjang, PKA telah memainkan peran signifikan dalam mempertahankan dan mempromosikan kebudayaan Aceh.
PKA pertama kali digelar pada tahun 1958, diprakarsai oleh tokoh-tokoh Aceh yang visioner seperti Gubernur Aceh Ali Hasjmy, Letnan Kolonel Syamaun Gaharu, dan Mayor T. Hamzah Bendahara. Dalam perjalanannya, PKA telah menjadi ajang untuk memahami, merayakan, dan melestarikan budaya Aceh yang kaya dan beragam.
Acara ini menjadi sarana untuk mengekspos dan memperkuat kembali nilai-nilai adat, sejarah, dan tradisi yang mungkin mengalami degradasi seiring berjalannya waktu. Salah satu hasil yang signifikan dari PKA pertama adalah lahirnya "Piagam Blangpadang," yang menghidupkan kembali adat istiadat dan kebudayaan dalam upaya pembangunan Aceh. Inisiatif ini terus berkembang hingga 14 tahun kemudian saat PKA kedua digelar.
PKA kedua pada tahun 1972 menunjukkan komitmen lebih lanjut terhadap pelestarian dan pengembangan budaya Aceh. Acara ini berfokus pada upaya memelihara dan meningkatkan ketahanan nasional yang meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan militer.
Selain itu, PKA II membuka isolasi dan ketertinggalan daerah Aceh di banyak bidang, terutama prasarana fisik, ekonomi, dan budaya. Acara ini mencakup pameran kebudayaan, pawai budaya, seminar kebudayaan, pertunjukan adat, pementasan kesenian, perlombaan rakyat, dan kunjungan wisata.
Selama 16 tahun, Aceh tidak mengadakan PKA karena faktor keamanan, dan baru pada tahun 1988, PKA-3 dilaksanakan. Ini menjadi momen penting untuk memperkuat nilai-nilai agama, tradisi, ideologi, ekonomi, pertahanan, keamanan, dan budaya sosial masyarakat Aceh.
Seminar budaya membahas beragam topik terkait dengan nilai-nilai tersebut dan bertujuan membangun pemahaman yang lebih dalam tentang budaya Aceh. PKA IV pada tahun 2004 menandakan langkah besar dengan menetapkan Taman Sulthanah Safiatuddin sebagai venue utama pelaksanaan PKA.
Acara ini mencakup pameran budaya, pasar seni, pawai budaya, dan berbagai hiburan. Inisiatif ini berhasil menarik minat masyarakat Aceh, menciptakan momentum positif dalam pelestarian budaya. Sebelum PKA V tahun 2009, Aceh mengalami gempa dan tsunami dahsyat pada tahun 2004, yang mengakibatkan kerusakan yang parah.
PKA V menjadi titik kebangkitan kembali bagi masyarakat Aceh, terutama setelah penandatanganan perjanjian damai antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada tahun 2005. Tema "Satukan Langkah, Bangun Aceh dengan Tamaddun" mencerminkan semangat pemulihan dan pelestarian nilai-nilai budaya di Aceh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Faisal-ST-OKE.jpg)