Kamis, 7 Mei 2026

OPINI

Pahlawan Wanita Aceh dari Dataran Tinggi Gayo

Peran wanita dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia sangat besar. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya wanita yang diberi gelar Pahlawan Nasional

Tayang:
Editor: Nur Nihayati
For Serambinews.com
Thaila Nensis 

 

Oleh: Thaila Nensis, S. ST,

Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Banda Aceh

 

PAHLAWAN perempuan Indonesia berjuang dan berjasa sejak zaman penjajahan belanda hingga mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Pahlawan terdahulu memberikan kontribusi besar dalam sejarah perjuangan nasional Indonesia. Dibalik kontribusi besar tersebut, tentunya tidak terlepas dari para pahlawan perempuan yang turut langsung dalam melawan penjajah.

Peran wanita dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia sangat besar. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya wanita yang diberi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah.

Para perempuan pejuang itu ada yang berjuang di masa penjajahan VOC, pemerintahan Hindia Belanda, hingga ketika perang revolusi mempertahankan kemerdekaan. Salah satu dari banyaknya wilayah di Indonesia yang memiliki pejuang wanita adalah Aceh.

Partisipasi mereka mematahkan anggapan bahwa perempuan hanya diperbolehkan berada di rumah saja. Indonesia memiliki banyak sekali pejuang perempuan dari berbagai daerah.

Baca juga: Mahasiswa Unigha Sigli Salurkan Bantuan Rp 40.575.000 untuk Palestina Melalui Ksatria Asar Humanity

Mulai dari Sabang sampai Merauke bersatu bersama dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan juga hak-hak rakyat yang dirampas oleh penjajah.

Pahlawan Wanita dari Aceh yang berasal dari tanah rencong sudah terkenal sejak dulu di dunia. Catatan sejarah pejuang wanita aceh dapat dilihat dari buku yang berjudul Atjeh yang ditulis oleh Hc Zentgraaf seorang sejarahwan asal belanda yang memperkenalkan istilah “Grandes Dames”(wanita-wanita besar).

Tokoh sejarah wanita Aceh yang terkenal dalam melawan penjajah yaitu diantaranya Laksamana Malahayati, Tjoet Nyak Meutia, Tjoet Nja’ Dhien, Pocut Meuligoë, Pocut Meurah Gambang,Pocut Baren dan Pocut Meurah Intan.

Sekian banyak nama wanita yang sering disebut sebagai tokoh wanita hebat di Aceh, ada satu nama yang tidak banyak diketahui dan bahkan jarang sekali disorot, yaitu Datu Beru.

Baca juga: Selama 3 Pekan, KNRP Pidie Kumpulkan Dana Peduli Palestina Rp 475.776.000

Nama Datu Beru sebenarnya merupakan sebuah gelar yang diberikan oleh orang-orang terdahulu yang kemudian melekat sampai sekarang.

Nama asli Datu Beru sendiri adalah Qurrata‘Aini. Gelar Datu Beru diberikan karena konon sampai akhir hayatnya, beliau tetap berstatus sebagai gadis atau belum menikah yang dalam bahasa Gayo wanita yang belum menikah disebut “Beru”.

Sedangkan gelar Datu merupakan julukan masyarakat Gayo karena beliau wafat dalam usia lanjut (Datu dalam bahasa Indonesia berarti buyut).

Qurrata’Aini atau yang lebih dikenal dengan sebuatan Datu Beru adalah seorang wanita tangguh dari dataran tinggi tanoh Gayo, dia seorang tokoh Wanita penting di Aceh yang pernah menjabat sebagai anggota parlemen di Kerajaan Aceh sebagai perwakilan dari Kerajaan Linge yang saat itu dipimpin oleh Johansyah sebagai Reje Linge (Raja Lingge) ke-12. Ketika itu, ia merupakan satu-satunya tokoh wanita yang menjabat sebagai anggota parlemen di Aceh.

Dari catatan Yusra Habib Abdul Gani, Seorang ahli sejarah asal Gayo yang kini berdomisili di Denmark. Beliau mengatakan bahwa Datu Beru adalah tokoh wanita asal Aceh yang sejak kecil sudah melekat ciri-ciri kepemimpinan dan pembela kebenaran.

Selain itu, Datu Beru adalah sosok wanita yang cerdas dan menguasai berbagai bidang ilmu, seperti ilmu agama, politik, falsafah, dan hukum.

Datu Beru merupakan sosok wanita yang berprestasi, ia menjadi satu-satunya wanita yang menduduki kursi parlemen Aceh dan ditunjuk sebagai penasehat Kerajaan pada pemerintahan Sultan Ali Mughayatsyah dari tahun 1514 sampai dengan 1530 yang membuat ia sangat disegani di kalangan kerajaan.

Ahli dan pakar hukum yang sangat menguasai permasalah hukum baik secara syariat maupun secara adat. Posisi beliau sebagai satu-satunya perempuan yang menguasai hukum, membuat beliau sangat disegani dikalangan kerajaan

Menjadi seorang pakar hukum dan anggota parlemen kerajaan bagi perempuan pada masa itu bukanlah hal yang lazim, namun beliau dapan menjalani peran tersebut dengan baik ditengah dominasi kaum pria pada waktu itu. Ini menunjukkan bahwa beliau adalah seorang perempuan yang memiliki kapasitas dan kualitas sumberdaya manusia yang sangat mengagumkan.

Qurrata‘aini punya Pandangan beliau tentang aplikasi hukum yang mengetengahkan ijtihad penafsiran intensive telah menjadi yurisprudensi menarik dalam dunia Pradilan Aceh, karena memadukan atau memasukkan unsur hukum Adat Gayo ke dalam hukum Islam yang diterima oleh Mahkamah Qadhi Maliku ’Adil, tanpa mengenyampingkan makna hukum Islam.

Datu Beru merupakan sosok perempuan tangguh, dengan menunggang kuda ia berangkat dari Linge menjalankan tugasnya ke Kerajaan Aceh.  Datu Beru pulang bertugas dari Kuta Raja menuju Takengon setibanya di ulung gajah, tiba-tiba Datu Beru jatuh sakit. Para stafnya mengusung dengan tandu. Akhirnya, beliau meninggal d dan dimakamkan di sebuah bukit di Kampung Tunyang, Kecamatan Timang Gajah.

Maka lekatlah nama Datu Beru pada diri perempuan tangguh dari Dataran tinggi  tanoh Gayo sebenarnya sangat layak disebut sebagai seorang pahlawan Aceh bahkan pahlawan Nasional.

Meski secara pengakuan itu sudah lama diberikan oleh masyarakat Gayo dengan membuat nama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Datu Beru, Takengon, berdiri sejak masa penjajahan kolonial Belanda yaitu pada tahun 1939, pada waktu itu masih bernama Rumah Sakit Umum Takengon dan berlokasi di jalan Yos Sudarso Takengon.

Ketika itu, RSU Takengon masih dikelola oleh pemerintah Belanda, kemudian setelah Indonesia merdeka Rumah sakit ini diserahkan kepada Pemda Aceh Tengah.

Pada tahun 1995, berdasarkan SK Menkes RI No. 109/menkes/SK/1995 Rumah Sakit Umum Takengon ditingkatkan dari tipe D menjadi tipe C yang diresmikan pada tanggal 24 Juli 1995 dengan nama Rumah Sakit Umum Datu Beru Takengon.

Pengaruh Datu Beru sangat besar dalam mengubah pola pikir masyarakat terhadap peran dan posisi wanita. Melalui usahanya, ia berhasil memperjuangkan kesetaraan gender dan menginspirasi banyak wanita lainnya untuk turut berjuang. Kontribusinya dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya hak-hak perempuan di Gayo Aceh tidak dapat diremehkan.

Melihat perjuangan dan dedikasi Datu Beru, berbagai penghargaan dan pengakuan telah diberikan atas jasanya. Pemerintah setempat memberikan penghargaan prestasi kepada Datu Beru atas kontribusinya dalam memperjuangkan kesetaraan gender.

Pengakuan lainnya datang dari masyarakat luas yang menyebutnya sebagai simbol perjuangan dan keberanian.

Kisah Datu Beru menginspirasi dan mengajarkan banyak nilai-nilai penting, seperti keberanian, ketekunan, dan keadilan. Ia menjadi contoh nyata bahwa perempuan dapat memperjuangkan hak-hak mereka dan mengubah dunia melalui perjuangan mereka sendiri.

Kisah Datu Beru juga menegaskan pentingnya memperlakukan semua orang dengan adil dan setara, tanpa memandang gender.

Pengetahuan tentang perjuangan dan kontribusi wanita pahlawan seperti Datu Beru sangat penting dalam memahami sejarah dan membangun masyarakat yang lebih inklusif.

Dengan mempelajari kisah mereka, kita bisa menghargai hak-hak wanita dan terinspirasi untuk memberdayakan perempuan di masa kini. Kita harus terus menghormati dan memperingati para pejuang seperti Datu Beru agar warisan mereka tetap hidup di hati kita.(*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

       

 

 

 

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved