Breaking News

Opini

Jokowi, Dinasti Politik dan Hegemoni

Citra ini kemudian dibawa Jokowi ke Jakarta. Pada tahun 2012, Jokowi dicalonkan sebagai Gubernur DKI Jakarta, ia memakai baju kotak-kotak yang kemudia

Editor: mufti
IST
Shaivannur M Yusuf, Pemerhati isu sosial dan politik dan alumnus pascasarjana Ilmu Politik FISIP UNDIP 

Shaivannur M Yusuf, Pemerhati isu sosial dan politik dan alumnus pascasarjana Ilmu Politik FISIP UNDIP

BERPENAMPILAN sederhana dan dikenal merakyat, Joko Widodo atau Jokowi jelas dapat menumbuhkan kepercayaan publik. Jokowi muncul sebagai figur pemimpin yang dinilai dapat memberi warna yang berbeda dalam sejarah kepresidenan di Indonesia. Ia mampu mengubah gestur kepemimpinan politik, bahwa presiden kali ini tidak ada jarak antara pemimpin dan rakyatnya.

Tak pernah dibayangkan Jokowi akan menjadi populer seperti saat ini hingga banyak pihak berebut pengaruh politiknya. Pada tahun 2004, Jokowi bergabung dengan PDI Perjuangan. Ia adalah pengusaha mebel, lulusan Universitas Gajah Mada tahun 1985 dan menduduki posisi sebagai salah satu pengurus DPC PDIP Solo.
Kemudian Jokowi maju sebagai calon Wali Kota Solo tahun 2005, menjabat sebagai Wali Kota Surakarta pada 2005-2012. Periode pertamanya pada 2005-2010 berjalan lancar. Kesuksesannya memimpin Solo itu membuatnya kembali terpilih untuk periode kedua.

Namanya terus melambung setelah infrastruktur, penataan Pedagang Kaki Lima (PKL), pengembangan ekonomi, pelayanan kesehatan dan pendidikan, hingga 'rebranding' Kota Solo sebagai 'The Spirit of Java'. Pendekatannya tanpa paksaan dan kekerasan, melainkan persuasif intens.

Kinerja Jokowi membuat masyarakat Solo puas dan berbangga dengan sosoknya. Hal itu terbukti saat Jokowi kembali mencalonkan diri dalam Pilkada Kota Solo periode kedua 2010-2015. Jokowi berhasil mengantongi suara yang sangat fantastis, 90,09 persen suara. Nyaris tak ada dalam sejarah pemilu Indonesia, kandidat mendapat angka hampir 100 persen. Namun, Jokowi tak menyelesaikan periode keduanya di Solo.

Citra ini kemudian dibawa Jokowi ke Jakarta. Pada tahun 2012, Jokowi dicalonkan sebagai Gubernur DKI Jakarta, ia memakai baju kotak-kotak yang kemudian menjadi ciri khas dan simbol kesederhanaannya.

Berkat kekuatan politik PDIP dan Gerindra sebagai pengusung, melalui jargon “The power of kotak-kotak”, Jokowi berhasil membuat mayoritas warga DKI mempercayainya sebagai Gubernur DKI periode 2012-2017.

Baru 2,5 tahun memimpin Jakarta, Jokowi kembali dicalonkan sebagai Presiden 2014. Jokowi dikenal berpenampilan sederhana dan bersikap praktis. "Saya selalu berpikir sederhana, dan berbuat juga sederhana," katanya. la pun sering melakukan blusukan hingga turun ke selokan saat menjabat gubernur DKI. Bahkan saat menjabat presiden, ia tak segan naik pesawat ekonomi untuk menghadiri wisuda anak bungsu di Singapura. Sikap sederhananya tak pernah diperlihatkan oleh Presiden sebelumnya di Indonesia, itulah uniknya Jokowi.

Pada pemilu 2014, tim kampanye Jokowi merumuskan slogan "Jokowi adalah Kita". Tagline ini tetap dipakai bahkan pada Pilpres 2019 yang terinspirasi dari kesederhanaan kehidupan sehari-hari Jokowi seperti kebanyakan orang Indonesia. Tahun 2023 slogan itu kemudian dipelesetkan, ada yang mengatakan "Jokowi bukan kita lagi". Ini bentuk kekecewaan dari pendukungnya atau loyalis yang telah menaruh harapan banyak terhadap Jokowi sebagai Presiden dari rakyat jelata.

Belakangan ia pun terus bermanuver untuk menentukan proses Pemilu 2024 “cawe-cawe” dengan menggandeng kubu politik yang menjamin masa depan sendiri dan dinasti keluarga?

Dinasti politik

Jokowi telah memperkenalkan secara resmi ketiga anaknya ke media sebelum ia dilantik sebagai Presiden pada 20 Oktober 2014. Gibran, Kahiyang Ayu dan Kaesang. Saat itu Gibran Rakabuming Raka adalah pengusaha yang merintis bisnis kuliner sejak 2010. Kahiyang Ayu, anak kedua, pernah ikut tes CPNS pada 2014, namun gagal. Kaesang Pangarep juga pengusaha. Awalnya, ia ikut berbisnis dengan Gibran di usaha kuliner.

Awalnya tampak tak antusias ketika ayahnya terpilih jadi Presiden. Gibran hanya tertarik mengikuti jejak Jokowi menjadi pebisnis. Sama halnya Kaesang, sosoknya memang dikenal sebagai seorang pengusaha dengan jaringan bisnis yang cukup luas. Anak bungsu Jokowi ini pernah punya 12 bisnis yang kemudian sebagiannya rontok dan tutup.

Akhirnya mereka, anak dan menantu Jokowi nyemplung politik semua. Gibran mendaftar menjadi anggota partai PDI Perjuangan pada 23 September 2019. Kemudian maju sebagai calon wali kota Surakarta. Gibran menang telak dalam Pilkada tersebut dengan perolehan suara terbanyak 86,5 persen dan 21 Januari 2021 resmi menjabat wali kota Surakarta.

Bobby Nasution adalah menantunya Jokowi. Ia juga bergabung ke PDI Perjuangan pada 12 Maret 2020. Kemudian dicalonkan sebagai calon wali kota Medan, Bobby Nasution unggul dengan 55,29 persen suara. Kemenangan Gibran dan Bobby menjadi sejarah baru bagi dinasti politik Jokowi, juga sejarah untuk kemunduran demokrasi di Indonesia. Bagaimana tidak, belum ada dalam sejarah republik ini anak Presiden menjadi raja di kota-kota kecil.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved