Salam
Imigran Rohingya, Harus Dicari Solusi
Menjelang pukul 12 siang, kapal yang membawa ratusan imigran Rohingya ini ditarik kembali ke tengah laut dengan menggunakan dua boat milik nelayan se
KAPAL yang membawa ratusan imigran Rohingya, kembali mencoba masuk Aceh, Kamis (16/11/2023) pagi kemarin. Kapal itu mencoba men-dekat dan mendaratkan penumpangnya di kawasan pesisir Jangka, Kabu-paten Bireuen. Seperti biasa, sebelum mendarat, boat ini terombang am-bing di laut, menunggu datangnya bantuan evakuasi dari warga di darat.
Tapi, tidak seperti sebelumnya, kali ini warga Jangka malah me-nolak kedatangan orang-orang yang diduga para pengungsi Rohing-ya ini. Warga yang berkumpul di tepi pantai sepakat menolak para “manusia perahu” itu mendarat. Menjelang pukul 12 siang, kapal yang membawa ratusan imigran Rohingya ini ditarik kembali ke te-ngah laut dengan menggunakan dua boat milik nelayan setempat.
Namun, sore harinya, sekira pukul 16.40 WIB, datang kabar dari Aceh Utara, ada kapal kayu yang membawa ratusan Rohing-ya terdampar di pesisir pantai Ulee Madon, Kecamatan Muara Batu. Warga menduga kapal ini adalah kapal yang ditolak menda-rat di Jangka Bireuen, beberapa jam sebelumnya.
Sama seperti di Jangka, warga Ulee Madon juga menolak ke-beradaan para imigran Rohingya ini. Namun demikian, warga se-tempat tetap memberikan makanan kepada orang-orang yang mengaku sebagai pelarian perang di Myanmar ini.
Associate External Relations/ Public Information Officer - UNHCR, Mitra Salima, yang dikonfirmasi media ini, Kamis (16/11/2023) mengatakan, sejak dua hari lalu atau 14 November 2023, sudah 3 kapal yang membawa pengungsi Rohingya mendarat di Aceh. Seba-nyak 194 orang mendarat di Pidie pada 14 November. Disusul ge-lombang kedua pada tanggal 15 November sebanyak 147 orang, dan kemarin di Ulee Madon, Aceh Utara.
Catatan Serambi, rombongan pengungsi Rohingya mulai men-darat di Aceh sejak tahun 2015 lalu, menyusul adanya penolakan dan operasi terhadap penyelundupan dan perdagangan manusia yang digelar Thailand dan Malaysia. Rombongan pertama yang berisi 715 orang Rohingya mendarat di pantai Seunuddon Aceh Utara pada tanggal 5 Mei 2015, pukul 7.15 pagi.
Mereka disambut gegap gempita oleh rakyat Aceh. Berbagai narasi yang memuji kepedulian rakyat Aceh terhadap penderita-an Rohingya juga bertebaran di media sosial. Sebagian mengait-ngaitkan dengan sikap Malaysia dan Thailand yang menolak para pencari masa depan ini.
Sejak itu, Aceh menjadi salah satu lokasi transit yang diincar oleh para imigran Rohingya. Sudah berpuluh kapal Rohingya yang terdam-par atau mendamparkan diri di sepanjang pesisir pantai Aceh. Sela-ma itu pula, para pelarian politik dan ekonomi ini mendapat sambut-an dan perlakuan sangat baik dari masyarakat Aceh.
Namun, kebaikan masyarakat Aceh ini tidak mendapat balasan setimpal dari sebagian imigran Rohingya ini. Setelah beberapa hari berada di Aceh, mereka mulai terlihat arogan, hingga menimbulkan masalah sosial. Ada yang lari ke perkampungan dan pegunungan, hingga mulai muncul keluhan warga atas hilangnya unggas ternak, serta laporan perbuatan senonoh di antara sesama pengungsi.
Belakangan, muncul pula isu bahwa ada kedatangan para peng-ungsi Rohingya ke Aceh ini telah disetting sedemikian rupa oleh pi-hak-pihak tertentu yang ingin meraup keuntungan. Penyelidikan yang dilakukan Polda Aceh pada tahun 2021 lalu, menemukan bukti se-tidaknya ada tiga nelayan Aceh yang membantu pendaratan para pengungsi Rohingya ini, merupakan jaringan penyelundup internasi-onal dengan sasaran orang Rohingya yang kabur lewat laut.
Dalam persidangan di Pengadilan Negeri Lhoksukon, Aceh Uta-ra pada tanggal 14 Juni 2021, majelis hakim menjatuhkan vonis hukuman selama lima tahun dan denda sebanyak Rp 500 juta, subsider satu bulan kurungan, kepada tiga nelayan Aceh, karena terbukti bersalah membawa puluhan pengungsi Rohingya.
Melihat fakta dan kondisi ini, maka sudah sepatutnya Pemerintah Aceh serta Pemerintah Indonesia untuk lebih serius menangani per-soalan kedatangan para imigran Rohingya ini. Pemerintah harus ber-gerak cepat mencari solusi terhadap persoalan ini, sebelum menim-bulkan berbagai permasalah di tengah-tengah masyarakat.
Pemerintah Indonesia, sebagai negara terbesar di ASEAN, harus lebih keras lagi menyuarakan perlunya perlindungan Rohingya ke-pada Pemerintah Myanmar dan negara-negara lain di kawasan.(*)
POJOK
Warga tolak imigran Rohingya mendarat
Bukannya kami tak menerima, tapi pengalaman agak pahit rasanya
Kalah dari Maroko, peluang Garuda berat
Hanya bisa berdoa, semoga Garuda muda tetap kuat
Firli kabur dari wartawan
Hehe, tidak seperti biasanya ya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/F20231119yus03.jpg)