Citizen Reporter
Cara Unik Ulama Maroko Mengagungkan Bulan Maulid
Sebagaimana kita ketahui, Maroko merupakan salah satu negara yang memiliki peradaban Islam tertua di dunia.
Seminggu sebelum Idul Adha, liburan panjang musim panas dimulai.
Dari kota Casablanca, kami menempuh perjalanan darat menuju kawasan Sous-Massa yang dikenal sebagai daerah yang memiliki banyak madrasah.
Perjalanan tersebut berdurasi sekitar 8 jam.
Setibanya di sana, kami langsung menuju salah satu madrasah yang bernama Igdi.
Setelah menyelesaikan sejumlah pengurusan, mulailah kami mengikuti berbagai aktivitas di madrasah tersebut.
Syukur alhamdulillah kami berkesempatan belajar langsung dari faqih (sebutan untuk pimpinan madrasah) yang merupakan pakar ilmu sastra Arab.
Darinya, kami mengaji kitab-kitab sastra arab seperti Matn al-Ajurumiyah dan Maqamat al-Hariri.
Kebetulan kami sampai pada permulaan tahun ajaran baru, yaitu awal bulan Muharram sehingga pelajaran yang tertinggal tidak seberapa banyak.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa dengan berbagai rutinitas khas ureung meudagang seperti belajar-mengajar dan murajaah pribadi.
Nuansa madrasah mulai berubah di akhir bulan Safar, dimana faqih yang awalnya mengajar Maqamat al-Hariri kini berganti menjadi Qasidah Banat Su’ad2 dan Burdah al-Bushiri, dua nazham populer yang berisikan pujian kepada Nabi Muhammad Saw.
Ternyata, pengajian dua kitab ini telah sejak lama menjadi tradisi ulama Igdi dalam rangkaian memperingati Maulid Nabi serta akan dikhatamkan tepat di bulan Rabiul Awal yang merupakan bulan kelahiran Baginda Nabi.
Setelahnya, madrasah akan mengadakan haflah (peringatan) maulid dan santri akan diberikan libur sempena Maulid Nabi.
Tradisi mengajarkan Qasidah Banat Su’ad dan Burdah menjelang maulid membuat saya deja vu dengan maulid tahun lalu, dimana kami mengkhatamkan Syamail Muhammadiyah bersama para ulama hadits.
Kedua adat ini memiliki pola yang sama, hanya saja teknis dan pelaksanaannya yang sedikit berbeda.
Jika para muhadditsin menyambutnya dengan cara membaca hadis Nabawi, para sejarawan dengan membuka kembali buku-buku sejarah, dan zawiyah-zawiyah dengan memperbanyak agenda zikir, maka para udaba’ menyambutnya dengan membaca syair-syair pujian kepada Nabi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Muhammad-Ihlal-Fikri.jpg)