Opini

Guru yang Literat

Langkah-langkah dimaksud diyakini mampu meningkatkan kecakapan literasi siswa, khususnya literasi membaca. Dalam hal ini, sekolah dituntut menyediakan

Editor: mufti
IST
Khairil Miswar 

Khairil Miswar, Founder POeSA Institute dan kepala sekolah di Bireuen

SALAH satu fokus Kurikulum Merdeka Belajar adalah meningkatkan kemampuan literasi siswa. Guna mewujudkan hal ini lembaga pendidikan ditekankan menerapkan beberapa langkah semisal menyediakan pojok baca, memaksimalkan peran perpustakaan, memulai Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan membaca 5-10 menit, membentuk komunitas baca, mendesain bangunan sekolah yang kaya teks dan mendorong lahirnya karya tulis para siswa. Secara faktual langkah-langkah ini sudah dilakukan oleh hampir seluruh satuan pendidikan di Indonesia.

Langkah-langkah dimaksud diyakini mampu meningkatkan kecakapan literasi siswa, khususnya literasi membaca. Dalam hal ini, sekolah dituntut menyediakan fasilitas dan SDM (guru) agar harapan tersebut bisa tercapai, walau, dalam kenyataannya, pencapaian hasil tidak selalu linear dengan harapan. Ada yang meningkat dan tidak sedikit pula yang justru menurun.

Dalam Asesmen Nasional 2022, kemampuan literasi siswa SD sederajat mengalami kenaikan dari 53, 42 persen menjadi 61, 53 persen. Demikian pula siswa SMP sederajat juga cenderung menanjak dari 51, 37 persen menjadi 59, 00 persen. Kondisi berbeda terjadi pada level SMA sederajat, di mana kemampuan literasi siswa justru turun dari 53, 85 persen menjadi 49,26 persen (kompas.com, 27/9/23).

Merujuk pada capaian SD dan SMP, hasilnya lumayan menggembirakan, sementara capaian literasi SMA justru sebaliknya. Namun, usaha-usaha peningkatan literasi siswa yang dilakukan selama ini tetap saja layak untuk diapresiasi.

Seperti dijelaskan Kemdikbud, ada enam literasi dasar yang harus dikuasai siswa, yaitu: literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, dan terakhir literasi budaya dan kewargaan (ditpsd.kemdikbud.go.id). Dari enam aspek literasi tersebut, yang paling fundamental adalah literasi membaca yang merupakan pintu utama mengakses pengetahuan bagi peserta didik.

Namun, yang menjadi problem sekarang adalah, kampanye literasi terhadap siswa tampak tidak selaras dengan peningkatan kemampuan literasi guru. Padahal, tanpa adanya perbaikan literasi guru, mustahil literasi siswa bisa meningkat.

Minat baca guru

Sebelum menularkan kebiasaan membaca kepada siswa, idealnya seorang guru harus memastikan bahwa dirinya telah “selesai” dengan masalah ini. Artinya, guru yang menggerakkan literasi di sekolah adalah guru-guru yang memiliki kegemaran membaca, bukan sebaliknya, guru yang alergi pada buku.

Adalah mustahil guru yang “malas” membaca akan mampu menggerakkan literasi siswa di sekolah. Jika pun secara faktual upaya itu mereka lakukan, mungkin hanya sebatas tuntutan kurikulum atau dengan kata lain sekadar lepas kewajiban, bukan didorong oleh kesadaran untuk benar-benar melahirkan siswa yang literat.

Melihat kondisi demikian, kita tentu tidak serta merta bisa menyalahkan guru. Kita tahu, tugas guru bukan sekadar membimbing siswa, tapi juga dibebani tugas-tugas administrasi yang juga menyita waktu. Selain itu, selama ini kampanye literasi juga terkesan hanya berfokus para siswa dan cenderung mengesampingkan sosok guru.

Melalui Kurikulum Merdeka, para guru diberi tugas sebagai penggerak literasi membaca di sekolah. Namun, di waktu bersamaan, guru yang notabene menjadi “penggerak” para siswa justru tidak pernah didorong untuk membaca. Guru terlihat seperti penjual obat kurap yang begitu bersemangat, sementara wajahnya sendiri penuh kudis. Akibatnya, guru tidak memiliki daya jual di hadapan siswa, sehingga harapan menumbuhkan minat baca siswa juga tidak akan pernah maksimal.

Kondisi ini kerap ditemui di daerah, di mana literasi membaca para guru cenderung sangat rendah. Ironisnya lagi, di wilayah pedesaan, ada sejenis “aksioma” bahwa guru tidak perlu terlalu pandai, tapi yang penting adalah kemampuan mereka mengendalikan siswa di dalam kelas.

Persepsi ini tentunya tidak bisa dibenarkan karena akan menjebak guru dalam posisi inferior. Jika para guru saja tidak memiliki minat baca, bagaimana mereka mampu menggerakkan siswa untuk membaca?
Karena itu, sudah semestinya guru menjadi contoh bagi para siswa, seperti dikatakan Lewis Cass, negarawan Amerika: “Orang mungkin ragu dengan apa yang Anda katakan, tetapi mereka akan percaya dengan apa yang Anda lakukan.” Artinya, aspek keteladanan dari seorang guru memiliki peran penting dalam menggerakkan siswa.

Pentingnya literasi guru

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved