Opini

Guru yang Literat

Langkah-langkah dimaksud diyakini mampu meningkatkan kecakapan literasi siswa, khususnya literasi membaca. Dalam hal ini, sekolah dituntut menyediakan

Editor: mufti
IST
Khairil Miswar 

Sebagai motor penggerak literasi di sekolah, guru harus tampil sebagai teladan di hadapan siswa. Dalam hal ini guru mesti menerapkan prinsip yang diajarkan Kihajar Dewantara: Ing Ngarso Sung Tulodo (yang di depan memberi contoh), baru kemudian para siswa menggugu dan meniru teladan dari guru. Jika tidak, maka kampanye literasi di sekolah hanya menjadi omong kosong.

Seperti halnya siswa, guru juga harus membiasakan diri membaca, bukan saja buku-buku pelajaran, tapi juga buku-buku lainnya yang dapat membantu memperkaya pengetahuan. Aktivitas membaca bukan saja menambah wawasan, tapi juga akan mendorong guru untuk berpikir kritis dan inovatif. Kondisi ini memungkinkan guru untuk memproduksi pengetahuan dan melahirkan inovasi baru yang pastinya akan berdampak pada terciptanya iklim belajar yang baik dan menyenangkan.

Sayangnya, sejauh ini, pelatihan yang diberikan kepada guru hanya terfokus pada bagaimana mereka menjadi penggerak literasi di sekolah. Dalam hal ini, guru diajarkan berbagai strategi untuk menumbuhkan minat baca siswa. Secara prinsip, hal ini tidak salah.

Namun, mengesampingkan sama sekali minat baca guru justru membuat kualitas literasi guru menjadi stagnan. Yang terjadi kemudian, minat baca siswa justru tidak berbanding lurus dengan minat baca guru.

Padahal, seperti dikemukakan McKool dan GesPass dalam Iswanto (2017), guru yang gemar membaca akan cenderung menyebarkan wawasan yang ia miliki kepada para siswa. Dengan kata lain, guru yang gemar membaca akan tampil lebih elegan dalam pembelajaran karena ia  memiliki banyak cerita, banyak sudut pandang, dan banyak strategi—yang mana hal ini akan menjadi daya jual di hadapan siswa.

Terungkapnya beberapa oknum guru yang menyebarkan hoax di media sosial (cnnindonesia.com, 8/6/18) menjadi bukti rendahnya literasi guru-guru kita. Dan, kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan. Bagaimana bisa melahirkan siswa yang kritis jika guru sendiri terjebak dalam kabar bohong? Karena itu kemampuan analisis dan berpikir kritis para guru juga harus ditingkatkan, salah satunya adalah dengan memperbanyak bacaan.

Harus diakui bahwa peningkatan literasi guru tidak kalah penting dibanding kampanye literasi terhadap siswa. Karena itu, segala upaya harus dilakukan agar guru-guru kita memiliki minat baca yang tinggi. Untuk ke depan, hendaknya Kurikulum Merdeka Belajar jangan hanya terfokus pada literasi siswa, tapi juga mendorong literasi guru.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved