Berkali-kali Terdampar ke Indonesia, Apa Alasan Rohingya Nekat Arungi Laut dengan Perahu Reyot?

Namun pernahkan Anda bertanya kenapa ada banyak pengungsi Rohingya datang ke Indonesia hanya dengan menaiki perahu?

Editor: Amirullah
For Serambinews.com
Perahu atau boat ditumpangi Rohingya di laut kawasan Gandapura sudah ditarik ke pelabuhan Krueng Geukueh, Aceh Utara. 

SERAMBINEWS.COM  - Apa alasan pengungsi Rohingya nekat seberangi lautan dengan perahu reyot demi sampai ke Indonesia?

Perjalanan mereka bahkan memakan jarak 1.800 km.

Berbagai foto dan video pengungsi Rohingya yang datang ke Indonesia akhir-akhir ini sering menjadi sorotan.

Bahkan tak sedikit dari video yang viral tersebut mengkritik perilaku para pengungsi.

Namun pernahkan Anda bertanya kenapa ada banyak pengungsi Rohingya datang ke Indonesia hanya dengan menaiki perahu?

Seratusan pengungsi Rohingya terdampar di pPantai Batu Hitam Jurong Keuramat Gampong Ie Meulee, Sabtu (2/12/2023)
Seratusan pengungsi Rohingya terdampar di pPantai Batu Hitam Jurong Keuramat Gampong Ie Meulee, Sabtu (2/12/2023) (For Serambinews.com)

Kini semakin banyak pengungsi Rohingya meninggalkan kamp-kamp pengungsian di Cox's Bazar, pantai tenggara Bangladesh, dan menyeberangi lautan sejauh 1.800 kilometer menuju Indonesia dengan perahu reyot.

Pekan lalu, polisi dan nelayan Indonesia mulai berpatroli di beberapa wilayah di Aceh untuk mencegah pendaratan perahu para pengungsi. Lebih dari 1.000 warga Rohingya tiba di Indonesia bulan ini, jumlah terbesar sejak 2015.

Sekitar satu juta orang Rohingya tinggal di kamp pengungsian kumuh di Cox's Bazar. Pada 2017, militer Myanmar memulai aksi brutalnya terhadap warga Rohingya yang tinggal di negara bagian Rakhine dan menghancurkan desa-desa serta menewaskan ribuan orang.

Ratusan ribu lainnya menyelamatkan diri dengan melintasi perbatasan ke Bangladesh. PBB menyebut tragedi itu sebagai "contoh nyata pembasmian etnis."

Namun, kehidupan para pengungsi Rohingya di Bangladesh tetaplah sulit karena banyak dari mereka kekurangan makanan, keamanan, pendidikan, hingga kesempatan kerja di kamp pengungsi yang penuh sesak.

Laporan dari kelompok hak asasi manusia Human Rights Watch yang diterbitkan tahun ini mengatakan bahwa geng-geng kriminal dan afiliasi dari kelompok-kelompok bersenjata menimbulkan ketakutan menjelang malam hari di kamp-kamp pengungsi Cox's Bazar.

Seorang pengungsi Rohingya berusia 19 tahun yang baru-baru ini tiba di Aceh bersama keluarganya mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa para penjahat di Cox's Bazar itu mengancam dia dan keluarganya setiap hari.

Dia bahkan membayar lebih dari 1.800 dollar AS (sekitar Rp 27,8 juta) untuk melakukan perjalanan menggunakan kapal usang menuju Indonesia.

Menurut kepolisian Bangladesh, sedikitnya 60 orang Rohingya telah terbunuh di kamp Cox's Bazar tahun ini.

Nay San Lwin, salah satu pendiri jaringan aktivis Free Rohingya Coalition, mengatakan kepada DW bahwa banyak pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari aksi kekerasan di kamp-kamp tersebut.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved