Berkali-kali Terdampar ke Indonesia, Apa Alasan Rohingya Nekat Arungi Laut dengan Perahu Reyot?
Namun pernahkan Anda bertanya kenapa ada banyak pengungsi Rohingya datang ke Indonesia hanya dengan menaiki perahu?
"Geng-geng kriminal menguasai kamp pengungsi di malam hari sehingga tidak ada seorang pun di sana yang merasa aman. Hal ini menjadi tantangan yang signifikan bagi semua pengungsi," kata Lwin.
Selain itu, Lwin juga mengatakan bahwa Program Pangan Dunia, WFP, telah memotong jatah makanan para pengungsi pada awal tahun ini, di mana bagi sebagian besar pengungsi Rohingya pangan merupakan sumber terakhir untuk hidup.
"Di kamp pengungsi, banyak orang bergantung pada jatah makanan dari WFP, di mana kini mereka tidak mungkin mendapatkan makanan yang cukup, dengan 8 dollar (sekitar Rp 124.000) untuk satu orang sebagai jatah satu bulan penuh," tambah Lwin kepada DW.
"Pembatasan pergerakan di kamp pengungsi juga tidak memungkinan mereka untuk bekerja di luar agar bisa bertahan hidup," kata Lwin.
"Tidak ada peluang mata pencaharian alternatif yang tersedia dan tidak ada harapan untuk repatriasi dalam waktu dekat, di mana hal itu membuat para pengungsi putus asa untuk mencari kehidupan yang lebih baik di tempat lain."
Pengungsi Rohingya tidak diizinkan bekerja atau mendapatkan pendidikan yang layak di Bangladesh.
Para pengungsi dilarang untuk belajar bahasa Bengali, karena pihak berwenang negara tersebut tidak ingin mereka berintegrasi ke dalam masyarakat umum. Mereka juga dilarang mendapatkan kewarganegaraan formal di Myanmar.
"Tidak adanya mata pencaharian yang layak adalah penyebab utama para penyintas genosida ini melarikan diri dari kamp pengungsi dan melakukan perjalanan berbahaya ke negara-negara Muslim seperti Malaysia dan Indonesia," kata Rezaur Rahman Lenin, seorang peneliti Rohingya yang berbasis di Cox's Bazar, kepada DW.
Lenin menambahkan bahwa ada komunitas warga Rohingya yang cukup besar di Indonesia dan Malaysia, serta banyak pula pengungsi yang percaya bahwa mereka bisa mendapatkan penghasilan di negara tersebut.
"Selain itu, kekerasan geng, kebrutalan aparat penegak hukum, tindakan kriminal seperti pemerasan, penculikan, serangan fisik, dan kurangnya kesejahteraan psikologis juga jadi penyebabnya," tambah Lenin.
Aktivis Rohingya yang berbasis di Jerman, Nay San Lwin, mengatakan bahwa para penjahat yang berhasil masuk ke kamp-kamp pengungsian mengambil keuntungan dari rentannya para pengungsi sehingga membujuk para korban untuk melakukan perjalanan laut yang berbahaya.
"Dihadapkan dengan situasi tanpa harapan, para pengungsi cenderung mempercayai apa pun yang dikatakan oleh para penyelundup manusia dan mempersiapkan diri untuk perjalanan yang penuh risiko," jelas Lwin kepada DW.
"Banyak yang kehilangan nyawa di laut atau mengalami penyiksaan di tangan para penyelundup."
Bangladesh bertekad perangi perdagangan manusia
Mohammed Mizanur Rahman, komisaris bantuan dan repatriasi pengungsi Bangladesh, RRRC, mengatakan kepada DW bahwa tidak pernah terpikirkan olehnya jika para pengungsi ini pergi meninggalkan kamp karena situasi keamanan.
Tutup PBAK 2025, Warek I IAIN Langsa Ingatkan Mahasiswa Baru Serius Kuliah |
![]() |
---|
Rumahnya Dijarah Massa, Ahmad Sahroni Dikenal sebagai Crazy Rich Tanjung Priok dengan Harta Rp 328 M |
![]() |
---|
KPIA Pantau Kualitas Siaran Televisi di Aceh |
![]() |
---|
Wabup Nagan Lantik Pengurus Ipelmanar Meulaboh, Abdul Rani Ketua |
![]() |
---|
Pemko Langsa Gelar Gerakan Pangan Murah, Ini Rincian Bahan Pokok dan Harganya |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.