Jurnalisme Warga

Enggan Melirik Produk Pro Israel

Pada saat saya tawarkan produk lain, katanya sulit beradaptasi dengan produk baru karena belum teruji keandalannya.

Editor: mufti
Dok Pribadi
CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Kebangsaan Indonesia dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Bireuen 

CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Kebangsaan Indonesia dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Bireuen

Perang di Jalur Gaza, Palestina, antara Israel dan Hamas belum juga usai. Semakin hari makin banyak korban yang berjatuhan. Derita anak-anak Palestina membuat batin ini meronta, air mata pun terus mengalir. Tiada tempat bagi mereka berteduh dan bersembunyi karena rumah sakit pun jadi  sasaran bombardir Israel.

Perang yang sudah berlangsung ± 2 bulan itu sampai saat ini belum ada kata damai. Hanya ada sebentar jeda kemanusian untuk saling bertukar sandra atau tawanan, lalu Israel kembali menggempur Palestina.

Sebagaimana kondisi sebelum jeda kemanusiaan, setelahnya pun korban yang paling  banyak adalah anak-anak dan kaum perempuan. Sekretaris Jenderal PBB sampai mengeklaim bahwa Israel gagal melindungi warga sipil, terutama anak-anak dan perempuan, saat menargetkan Hamas.

Paling menyedihkan ketika  anak-anak yang lahir prematur tanpa ada inkubator, tanpa ada peralatan medis lainnya yang memadai. Bahkan air bersih untuk menyeduh susu mereka saja pun tidak ada. Ayah ibu mereka telah tiada, maka bertambah-tambahlah deritanya.

Sungguh perang telah menghancurkan segala-galanya, tiada lagi rumah yang indah, tiada lagi sekolah, bahkan untuk makan sehari-hari juga susah.

Produk dari Israel maupun aneka produk dari negara-negara pendukung Israel patut kita boikot, termasuk produk hasil kerja sama (join bisnis) dengan negara lain.

Aksi boikot memiliki arti bahwa konsumen akan menghentikan konsumsi atau pembelian suatu produk dan menggantikannya dengan produk lainnya yang sejenis. Dengan adanya boikot, bukan berarti konsumen mengalami kelesuan daya beli. (Google)

Kita sadari atau tidak kebutuhan sehari-hari paling banyak kita gunakan produk-produk hasil  kerja sama dagang dengan Israel, seperti salah satu perusahaan terkemuka di Indonesia, yaitu Unilever. Produk dari perusahaan ini paling banyak digunakan dalam rumah tangga mulai dari deterjen, odol, pembersih lantai, pembersih piring sampai ke perawatan kulit. Produk makanan juga banyak yang dihasilkan oleh perusahaan ini.

Kondisi di lapangan yang terjadi tidak semua orang mengikuti  aksi boikot, karena ada yang beranggapan bahwa produk lain yang sejenis tidak sama kualitasnya. Namun, ada juga yang terang-terangan memboikot produk-produk pro Israel seperti yang terjadi di mal terkemuka di Bireuen.

Pada hari Minggu lalu saya dan keluarga berkunjung dan melihat di gerai  KFC hanya ada beberapa orang saja yang datang  membeli dan makan di tempat.

Susana pada saat itu sepi sekali. Ayam yang digoreng dan dipajang juga hanya sedikit sehingga butuh waktu menggorengnya jika ada yang memesan. Mungkin kondisi ini karena ada seruan boikot produk yang pro Israel di Kota Bireuen. Hal ini didukung pula oleh Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 83 Tahun 2023 tentang Hukum Dukungan terhadap Pejuang Palestina.

Untuk jenis produk-produk rumah tangga yang banyak dijual di pasar dan toko-toko juga mengalami penurunan omset penjualan. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Pon, salah satu karyawan toko di Bireuen.

Menurutnya, dulu sebelum ada seruan boikot, barang-barang kebutuhan rumah tangga dan perlengkapan kecantikan bagi kaum remaja dan ibu rumah tangga hampir setiap hari banyak pembelinya, tapi kini hanya sebagian kecil yang membeli.

Ada juga toko kecil berpengaruh dengan seruan boikot, Terbukti, setiap hari ramai pembeli, hampir tak terlihat reaksi dari pelanggan terhadap boikot produk yang dianjurkan tidak dibeli karena dapat membantu dana pertempuran Israel terhadap Palestina.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved