Opini
Siapa Peduli Muslim Rohingya
Dari sini terlihat Aceh dari dulu dikenal sebagai Anshor yang meniru Madinah (Darul Islam) yang menerima muhajirin dari Mekkah (darul kufur ketika it
Wahyu Ichsan, Koordinator Islamic Civilization In Malay Archipelago Forum
SEJAK November 2023, gelombang pengungsi Rohingya terus berdatangan ke Aceh. Jumlah mereka telah mencapai lebih dari 1500 orang. Diprediksi angka ini akan terus bertambah, mengingat bulan November-Desember adalah musim penghujan, yang merupakan waktu yang tepat bagi mereka berlayar dengan perahu tanpa atap untuk menghindari panasnya cuaca laut yang dapat menyebabkan banyaknya korban jiwa karena dehidrasi yang berkepanjangan.
Apalagi perjalanan mereka menghabiskan waktu berminggu-minggu. Namun, kedatangan warga Rohingya ke Aceh mendapatkan penolakan dari warga. Warga Aceh bukan tanpa sebab mengusir kedatangan mereka. Hal ini karena sikap dan perilaku buruk dari imigran Rohingya yang pernah terdampar sebelumnya.
Belum lagi informasi-informasi yang lainnya di media sosial yang menyebutkan warga Rohingya menuntut tanah di Malaysia setelah ditampung di negeri jiran tersebut. Siapa sebenarnya Rohingya, dan mengapa mereka mengungsi dari kamp di Bangladesh yang telah disediakan UNHCR menuju Aceh yang berjarak 1800 kilometer, dan rela membayar lebih dari 1800 USD (Rp 28 juta) untuk perahu reyot yang harusnya cuma mampu menampung 20 orang tapi mereka tumpangi hingga ratusan orang?
Mengapa mereka rela menantang nyawa menyeberangi samudra luas bahkan membawa anak-anak dan perempuan? Apakah mereka tidak bersyukur dengan kamp pengungsian yang telah disediakan di sana?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu kembali pada tahun 1982, di mana pada tahun itu pemerintah junta militer Burma (Myanmar) tidak lagi mengakui Muslim Rohingya sebagai rakyat Burma. Akibatnya Muslim Rohingya dianggap sebagai pendatang ilegal asal Banglades.
Maka sejak itulah mimpi buruk etnis Rohingya dimulai (Reuters, 2014:26). Sampai akhirnya pada tahun 2012-2017 yang dianggap sebagai the years of killing. Dimana pada 2012, tiga muslim di Arakan kedapatan memperkosa dan membunuh wanita Buddha di Ramri. Masyarakat Myanmar yang sudah kadung membenci komunitas Rohingya, karena dianggap warga asing (xenophobia), menjadikan mereka sulit berpikir jernih dan cenderung brutal.
Maka pecahlah kebencian rasial. Akhirnya kelakuan 3 oknum ini digeneralisasi mewakili seluruh masyarakat Rohingya. Hasilnya seluruh Muslim Rohingya dibantai dan diusir dari Myanmar. Masjid-masjid dihancurkan, 6700 Muslim Rohingya dibunuh secara sadis, di perkosa, dibakar, disiksa, bahkan dimutilasi hidup-hidup (databoks, 2023). Dan lebih dari satu juta lainnya mengungsi ke berbagai negara untuk mencari perlindungan.
Sejak Agustus 2017, Human Rights Watch (HRW) telah mewawancarai ratusan orang Rohingya di Bangladesh yang melarikan diri dari kekejaman militer Myanmar. Mereka menggambarkan beberapa insiden di mana para serdadu secara sistematis membunuh dan memperkosa penduduk desa sebelum membakar rumah mereka.
Korban pembantaian
Secara keseluruhan, junta militer Myanmar membunuh ribuan orang dan membakar hampir 400 desa. Abdul halim (30), seorang pengungsi Rohingya di Bangladesh, dalam wawancara tersebut mengatakan, “Pihak berwenang Myanmar menyiksa kami, mereka membakar rumah kami, memperkosa ibu dan saudara perempuan kami, membakar anak-anak kami. Kami berlindung di Bangladesh untuk menghindari kebrutalan itu. Sekarang saya sudah tinggal di kamp Kutupalong selama lima tahun.” Abdul menggendong ibunya yang sakit parah di punggungnya ketika mereka melarikan diri dari Myanmar pada 2017. Sang ibu meninggal tak lama setelah tiba di Bangladesh. (www.hrw.org, 2022).
Tragedi ini menyentak dunia Islam ketika itu, seluruh dunia mengutuk pembantaian yang dilakukan rezim Myanmar. Apalagi pembantaian tersebut melibatkan para biksu ekstrem yang dipimpin oleh Ashin Wirathu.
Karena itu, aneh jika kita malah menuduh warga Rohingya sebagai zionis Israel 2.0, karena fakta sebenarnya merekalah korban dari zionis Asia Tenggara. Maka wajar jika pada 2019 lalu, Israel melalui medianya Hareetz, mengucapkan selamat kepada Junta Myanmar atas genosida terhadap Rohingya. Berita itu diberi judul Israeli Envoy Wishes Myanmar Leaders 'GOOD LUCK' on Rohingya Genocide Trial. (www.haaretz.com; 2019).
Pertanyaannya mengapa, Myanmar disebut sebagai zionis dan mengapa Israel bertepuk tangan atas kejahatan ini? Hal ini tidak lain karena pemerintahan Myanmar telah lama menjalin hubungan dengan zionis Israel. Walter Eytan (Kemlu Israel) dalam tulisannya kepada kepala staf IDF, Moshe Dayan (1954) menyatakan, “Burma adalah teman paling setia Israel di Asia, dan hubungan antara tentara Israel dan Burma bisa menjadi sangat penting, setidaknya secara diplomatis.” (Myanmar’s Rohingya Genocide, 2021; Dr Ronan Lee).
Hubungan keduanya kemudian membuat kesepakatan yaitu menyediakan 30 pesawat tempur, ratusan ribu butir amunisi, 1.500 bom napalm, 30.000 laras senapan, ribuan mortir dan masih banyak lagi perlengkapan militer. Tidak hanya itu, puluhan ahli Israel dikirim ke Burma untuk misi pelatihan, dan perwira militer Burma datang ke Israel untuk mendapatkan instruksi komprehensif mengenai pangkalan IDF.
Israel juga mendirikan perusahaan pelayaran, pertanian, pariwisata dan konstruksi di Myanmar. Selain itu, masyarakat Burma terinspirasi untuk mengikuti jejak Israel dalam melakukan invasi dan perampasan tanah. Oleh karena itulah, mereka juga mendirikan pangkalan militer di wilayah yang dihuni oleh etnis minoritas. (Midle East Monitor, 2022).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Wahyu-Ichsan-oke.jpg)