Breaking News

Rohingya

Rincian Anggaran yang Diperlukan untuk Tangani Pengungsi Rohingya di Aceh, Jatah Makan Rp46,2 Miliar

Sekitar 700 pengungsi Rohingya saat ini masih terluntang-lantung di sejumlah titik karena ketiadaan lokasi penampungan sementara.

Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/HENDRI
Sejumlah imigran etnis Rohingya di Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh, Senin (11/12/2023). 

Rincian Anggaran yang Diperlukan untuk Tangani Pengungsi Rohingya di Aceh, Jatah Makan Rp 46,2 Miliar

SERAMBINEWS.COM – Sebanyak 1.772 pengungsi Rohingya telah mendarat di Aceh sejak awal tahun 2023.

Diantaranya, 1.593 pengungsi Rohingya telah turun dari kapal dan mendarat di Aceh sejak 14 November 2023.

Sekitar 700 pengungsi Rohingya saat ini masih terluntang-lantung di sejumlah titik karena ketiadaan lokasi penampungan sementara.

Lebih dari 1.000 orang telah direlokasi ke tempat penampungan sementara yang penuh sesak di Aceh.

Karena ketidakjelasan situasi saat ini di Myanmar, para pengungsi Rohingya memilih ‘kabur’ dari Bangladesh.

Baca juga: 5 Kapal Rohingya Terlihat di Laut Pidie, Warga & Polisi Berjaga di Pantai Mantak Tari

Etnis Rohingya di TPI Idi cut, tepatnya di Gampong Seneubok Baroh, Kecamatan Darul Aman, Kamis (14/12/2023).
Etnis Rohingya di TPI Idi cut, tepatnya di Gampong Seneubok Baroh, Kecamatan Darul Aman, Kamis (14/12/2023). (SERAMBINEWS.COM/MAULIDI ALFATA)

Badan PBB urusan Kemanusiaan (OCHA) memperkirakan gelombang kedatangan pengungsi Rohingya akan terjadi lebih banyak lagi.

Badan itu melalui layanan situs website-nya, ReliefWeb, menyebutkan bahwa gelombang kedatangan Rohingya ke Indonesia akan terus terjadi hingga Maret 2024.

Ini terjadi karena bulan-bulan tersebut adalah waktu pelayaran yang dimungkinkan karena perairan di kawasan Laut Andaman relatif lebih tenang.

“Mengingat situasi di Myanmar saat ini, berlarut-larutnya pengungsi Rohingya di Bangladesh, dan datangnya musim kemarau dengan kondisi laut yang membaik,”

“maka diperkirakan akan lebih banyak lagi kelompok pengungsi Rohingya yang akan tiba di Aceh pada akhir bulan Maret 2024,” lapor ReliefWeb, diterbitkan pada Rabu (13/12/2023).

Diyakini bahwa saat ini banyak kapal yang berada di sana laut dan masih banyak lagi pengungsi Rohingya yang menunggu berangkat dari Bangladesh.

Indonesia kemungkinan besar menjadi tujuan yang dituju dari kapal-kapal tersebut.

Fitrah membagikan potongan buah semangka kepada anak-anak pengungsi Rohingya, Senin (11/12/2023).
Fitrah membagikan potongan buah semangka kepada anak-anak pengungsi Rohingya, Senin (11/12/2023). (SERAMBI/INDRA WIJAYA)

Baca juga: Program Pangan Dunia: Jatah Makan Pengungsi Rohingya Naik Jadi Rp155 Ribu per Orang Mulai Tahun 2024

Diproyeksikan ada 3.500 pengungsi Rohingya yang tiba di Aceh pada Maret 2024.

“UNHCR dan IOM segera meminta dana sebesar USD 5,4 juta (Rp 83,7 miliar) untuk memenuhi kebutuhan mendesak dan darurat para pengungsi Rohingya yang diturunkan di Provinsi Aceh,” lapor ReliefWeb.

Dalam laporan tersebut, OCHA merinci biaya yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan para pengungsi Rohingya yang berada di Aceh.

Rincian ini mengestimasikan untuk 3.500 pengungsi Rohingya yang diperikarakan akan mendarat di Aceh pada akhir Maret 2024.

Berikut Rincian Anggaran yang Diperlukan untuk Penanganan Rohingya di Aceh

Perlindungan

Meliputui, Pendaftaran dan Dokumentasi, Bantuan Hukum, Perlindungan Anak, Mitigasi Risiko Kekerasan Berbasis Gender (GBV) dan Respon, Pemantauan perlindungan, Kasus manajemen, komunikasi Risiko dan Komunitas keluarga.

Advokasi dan koordinasi dengan pusat dan daerah pihak berwajib.

Total Biaya: USD 386.000 atau Rp 5,9 Miliar

Shelter dan MCK

Meliputi renovasi dan peningkatan shelter, air bersih, sanitasi, kebersihan, seselamatan dan keamanan tempat berlindung.

Total Biaya: USD 794.000 atau Rp 12,2 Miliar

Makanan dan Kebutuhan Dasar

Meliputi, makanan, air minum, dan nutrisi tambahan untuk ibu hamil dan anak dibawah 5 tahun, dan barang non-makanan.

Total Biaya: USD 2.754.800 atau Rp 42,6 Miliar.

Dukungan Kesehatan dan Kesehatan Mental

Meliputu pelayanan kesehatan primer, rujukan sekunder dan tersier, dukungan Kesehatan Mental dan Psikososial.

Total Biaya: USD 477.200 atau Rp 7,3 Miliar

Eksistensi Damai dengan komunitas

Meliputi keterlibatan komunitas untuk kohesi sosial, mengatasi kebutuhan di komunitas.

Total Biaya: USD 244.100 atau Rp 3,7 Miliar

Perawatan Pasca Darurat dan Berkelanjutan

Akomodasi, Intervensi Berbasis Uang Tunai (CBI), dan asuransi kesehatan.

Total Biaya: USD 741.000 atau Rp 11,4 Miliar.

TOTAL KESELURUHAN – USD 5.397.100 atau setara dengan Rp 83.697.147.380.

 

Jatah Makan Pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar Naik Jadi Rp 155 Ribu per Orang Mulai Tahun 2024

Program Pangan Dunia PBB (WFP) akan meningkatkan jatah makanan untuk setiap pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar, Bangladesh pada tahun depan.

WFP akan menaikan jatah makan setiap orang pengungsi Bangladesh dari USD 8 (Rp 124 ribu – kurs Rp 15.520) menjadi USD 10 (Rp 155 ribu) mulai bulan Januari 2024.

Hal itu diungkapkan Direktur WFP di Bangladesh, Dom Scalpelli yang dikutip dari kantor berita Dhaka Tribune, Jumat (15/12/2023).

“Dengan pendanaan yang diterima sejauh ini, kami akan dapat meningkatkan hak pangan dari USD 8 menjadi USD 10, mulai Januari 2024,” ujarnya.

Pihaknya mengaku senang mendengar kabar kenaikan jatah makan untuk para pengungsi Rohingya ini.

Dia berharap, para donatur seperti Amerika Serikat dan negara-negara donatur lainnya dapat terus memberi dana kepada WFP, sehingga kehidupan dan kebutuhan dasar Rohingya dapat dijamin

“Kami sangat senang dengan perkembangan positif ini dan berharap para donor akan terus mendanai kami untuk menjamin kebutuhan dasar Rohingya terpenuhi,” papar Dom Scalpelli.

Dikatakannya, WFP menyambut baik kontribusi baru sebesar USD 87 juta dari Biro Bantuan Kemanusiaan (BHA) Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID).

Ia mengungkapkan, pendanaan yang tepat waktu ini akan secara signifikan mendukung upaya WFP dalam memberikan bantuan penyelamatan nyawa kepada pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar dan di Pulau Bhasan Char.

Di mana selama ini hampir satu juta orang menghadapi kesulitan setiap harinya, dan mereka dipastikan tidak dapat kembali untuk mendiami negara asalnya, Myanmar. 

“Seperti yang telah kita lihat di kamp-kamp pengungsian, situasinya tetap memprihatinkan bagi warga Rohingya, yang telah melalui krisis demi krisis,” kata Reed Aeschliman, direktur misi USAID di Bangladesh,

Ia melakukan kunjungan ke kamp Cox’s Bazar pada Rabu (13/12/2023) untuk menyaksikan situsa di kawasan itu. 

Meskipun Amerika Serikat menjadi donatur utama terhadap pera pengungsi, Aeschliman menyadari bahwa tahun ini merupakan tahun yang penuh tantangan bagi para pengungsi.

“Kita tidak boleh mengabaikan kebutuhan warga Rohingya, atau masyarakat lokal yang murah hati di Bangladesh. Hal ini memerlukan dukungan berkelanjutan dari pemerintah, donatur, dan mitra pembangunan,” sebutnya. (Serambinews.com/Agus Ramadhan)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved