Info Hidup Sehat
BAB Sembarangan Dapat Mengancam Kesehatan, Masyarakat Diminta Terapkan PHBS
Bayangkan jika hal ini dilakukan pada malam hari dalam kawasan semak-semak, maka bukan tidak mungkin di lokasi itu ada binatang melata seperti ular
Penulis: Agus Ramadhan | Editor: Muhammad Hadi
BAB Sembarangan Dapat Mengancam Kesehatan, Masyarakat Diminta Terapkan PHBS
SERAMBINEWS.COM – Perilaku Buang Air Besar (BAB) sembarangan merupakan budaya yang tidak baik dan dampat mengancam kesehatan jiwa.
Selain itu, BAB sembarangan juga membuat lingkungan sekitar tidak nyaman dan dapat memunculkan persoalan baru.
Untuk itu, diharapkan kepada masyarakat untuk segera meninggalkan budaya yang tidak sehat tersebut.
Selain tidak sehat, BAB semabarangan juga mengancam keselamatan jiwa.
Bayangkan jika hal ini dilakukan pada malam hari dalam kawasan semak-semak, maka bukan tidak mungkin di lokasi itu ada binatang melata seperti ular, limpan, kalajengking, dan lain-lain.
Baca juga: Jangan Sebar Kotoranmu! Lima Penyakit Ini Mengintai Jika Masih BAB Sembarangan, No 3 Sering Dialami
Begitu juga BAB di sungai, saat malam hari dalam kondisi gelap, bukan tidak mungkin malah bisa terjatuh ke sungai.
Apalagi mengingat dalam sungai juga ada binatang buas seperti buaya yang sewaktu-waktu siap menerkam siapa saja tanpa ampun.
Karenanya, sudah tidak ada alasan lagi bagi siapa pun untuk BAB sembarangan, mari kita tinggalkan budaya tersebut.
Upaya selanjutnya adalah segera mendeklarasikan diri untuk berprilaku Hidup Sehat dan Bersih (PHBS).
Sudah saatnya meninggalkan budaya yang tidak sehat, untuk kemudian men-ju budaya yang bersih dan nyaman.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi bahwa akses sanitasi yang tidak aman bertanggung jawab terhadap kematian lebih dari 400,000 orang di seluruh dunia setiap tahun.
Menurut data Riskesdas 2019, 1 dari 10 balita di Indonesia terkena diare, dimana diare ini adalah penyebab utama kematian balita di Indonesia, melebihi angka kematian akibat ISPA, demam, malaria, dan sebagainya.
Baca juga: 90 Desa Aceh Besar Deklarasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, Wujudkan Bebas BAB Sembarangan
Infeksi cacing atau Soil Transmitted Helminth (STH) juga akibat akses sanitasi yang tidak aman.
WHO memprediksi bahwa 1 dari 4 orang di dunia terinfeksi STH.
Cara penyebaran STH biasanya lewat telur STH yang ada pada feces penderita STH yang kemudian mencemari tanah.
Disisi lain, pemerintah menargetkan 0 persen buang air besar sembarangan dan 15 persen akses sanitasi aman pada 2024.
Dampak BAB Sembarangan
1. BAB di sungai atau di laut
Selain mencemari lingkungan sungai atau laut, kotoran manusia juga bisa meracuni semua mahluk yang hidup di dalamnya.
Kotoran tersebut juga bisa memicu penyebaran wabah penyakit.
2. BAB di sawah atau di kolam
Perilaku ini dapat menimbulkan keracunan pada padi karena mengandung urea panas yang berasal dari tinja.
Hal ini akan menyebabkan padi tidak tumbuh dengan baik dan dapat menimbulkan gagal panen.
3. BAB di pantai atau tanah terbuka
Dapat mengundang serangga seperti lalat, kecoa, kaki seribu, dan sebagainya yang dapat menyebarkan penyakit.
Pembuangan tinja di tempat terbuka juga dapat menjadi sebab pencemaran udara sekitar dan mengganggu keindahan lingkungan.
Bahaya BAB Sembarangan
Praktik BAB sembarangan memicu potensi sejumlah bahaya yang mengintai tak hanya individu yang melakukannya, tapi juga orang lain.
Apa akibat yang ditimbulkan jika seseorang buang air besar sembarangan? Dilansir dari beberapa sumber, berikut dampaknya.
1. Meningkatnya penularan penyakit melalui air
Salah satu dampak dari BAB sembarangan adalah penularan penyakit melalui air. Salah satu contoh terbanyak adalah diare.
Diare dan penyakit lain yang terkait dengan BAB sembarangan paling banyak menyerang bayi di bawah lima tahun (balita) karena mereka sangat rentan terhadap penyakit.
Penularan penyakit terjadi karena sebagian besar praktik BAB sembarangan terjadi di dekat saluran air dan aliran sungai.
Masalah kesehatan bisa menjadi lebih parah air dari aliran sungai yang biasa dimanfaatkan untuk BAB sembarangan dipakai untuk kebutuhan sehari-hari seperti air minum dan masak.
Hal tersebut akan memicu berbagai penyakit ditularkan melalui air seperti kolera, tifus, dan trachoma.
Di daerah perkotaan, penularan penyakit dari BAB sembarangan biasanya melalui sistem drainase untuk mengalirkan air hujan ke saluran air yang alami.
2. Penularan penyakit tidak langsung
Selain penyakit yang ditularkan melalui air, ada pula potensi penularan penyakit secara tidak langsung, contohnya melalui lalat.
Ketika kotoran akibat BAB sembarangan menumpuk, hal tersebut akan menarik lalat dan serangga lain.
Lalat-lalat tersebut kemudian menyebar sekitar daerah sekitarnya, membawa kotoran dan mikroba penyebab penyakit.
Dari situ, lalat-lalat tersebut hinggap di makanan dan minuman yang dimakan orang tanpa sadar. Dalam kasus seperti itu, lalat bertindak sebagai penyebar penyakit, contohnya kolera.
3. Memperparah penyebaran penyakit
BAB sembarangan menjadi siklus yang memperparah penyebaran penyakit di suatu wilayah.
Misalnya di suatu wilayah masih banyak orang yang mempraktikkan BAB sembarangan kemudian timbul penyakit, seperti diare dan sakit perut.
Orang yang terkena diare dan sakit perut jadi terbatas pergerakannya dan kalau ingin buang hajat, maka dia kembali mempraktikkan BAB sembarangan.
Dari situ terjadi siklus penyebaran penyakit yang semakin parah dan harus diintervensi dengan segera.
4. Malnutrisi pada anak
Malnutrisi pada anak-anak adalah masalah kesehatan lain akibat BAB sembarangan.
Begitu seorang anak terjangkit salah satu penyakit karena BAB sembarangan, mereka mulai kehilangan banyak cairan dan kurang nafsu makan. Akibatnya muncul kasus gizi buruk.
Selain itu, kondisinya akan semakin parah jika ada cacing usus. Masalah ini menyebabkan anak terhambat pertumbuhannya.
Daya tahan tubuh mereka juga bisa melemah sehingga rentan terhadap penyakit lain seperti pneumonia dan tuberkulosis.
5. Anak stunting
BAB sembarangan dan sanitasi yang kurang layak juga dapat memicu stunting pada anak.
Sebuah studi terhadap 112 distrik di India menunjukkan bahwa jumlah anak stunting lebih tinggi di daerah praktik BAB sembarangan lebih sering terjadi.
Dalam studi tersebut disebutkan, lebih dari separuh anak-anak mengalami stunting, dan hampir sepertiga dari anak-anak mengalami stunting parah.
Studi lain menyatakan bahwa tinggal dengan atau di dekat tetangga yang terus melakukan BAB sembarangan berdampak signifikan terhadap kesehatan, apalagi di daerah yang berpenduduk padat.
6. Kekerasan berbasis gender
BAB sembarangan dan sanitasi yang kurang memadai juga menimbulkan dampak berbasis gender.
Kurangnya akses ke jamban dan toilet pribadi membuat anak perempuan dan perempuan muda rentan terhadap kekerasan seksual.
Karena tidak ada fasilitas toilet pribadi untuk perempuan, mereka sering terpaksa buang air di tempat umum pada dini hari atau larut malam.
Padahal, di waktu-waktu tersebut potensi terjadinya kekerasan seksual menjadi lebih tinggi. (Serambinews.com/Agus Ramadhan)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/BAB-sembarangan-dapat-mencermarkan-sumber-air.jpg)