Kamis, 23 April 2026

Opini

Hepatitis A Mengancam Siswa Sekolah Asrama

Virus ini menyebar ketika orang yang tidak terinfeksi (dan tidak divaksinasi) menelan makanan atau air yang terkontaminasi dengan kotoran orang yang t

Editor: mufti
IST
Dr dr H Sulaiman Yusuf SpA(K), Staf Pengajar Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK USK/RSUDZA Banda Aceh 

Dr dr H Sulaiman Yusuf SpA(K), Staf Pengajar Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK USK/RSUDZA Banda Aceh

PENYAKIT hepatitis A atau liver atau dalam Bahasa Aceh 'saket kuneng' merupakan infeksi virus akut yang menyerang hati. Virus ini stabil dalam suhu ruangan dan mampu bertahan lebih satu bulan. Virus hepatitis A (HAV) ditularkan melalui konsumsi makanan dan air yang terkontaminasi atau melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi.

Virus ini menyebar ketika orang yang tidak terinfeksi (dan tidak divaksinasi) menelan makanan atau air yang terkontaminasi dengan kotoran orang yang terinfeksi.

Kontaminasi tinja ini terjadi melalui kontak makanan, minuman, dan alat saji (piring, gelas, sendok, dll) dengan tangan penderita setelah penderita buang air besar (BAB) yang tidak mencuci tangan sampai bersih atau menggunakan sabun.

Virus hepatitis A terkonsentrasi sebagian besar pada kotoran (feses), serum, dan air liur. Virus dalam jumlah banyak dapat ditemukan didalam tinja penderita sejak 3 hari sebelum muncul gejala hingga 1-2 minggu setelah munculnya gejala kuning pada penderita.

Kejadian luar biasa (KLB)/massal dapat terjadi dengan pola Common Source/sumber yang sama seperti tercemarnya sumber air minum, dapur umum asrama, pesta/kenduri, dll. Mekanisme penularan di atas merupakan faktor utama bagi siswa terutama yang tinggal di asrama untuk tertular infeksi HAV.

Faktor risiko terinfeksi virus hepatitis A meliputi sanitasi yang buruk, kurangnya air bersih, tinggal bersama dengan orang yang terinfeksi, menjadi pasangan seksual seseorang dengan infeksi hepatitis A akut, penggunaan narkoba, berhubungan seksual antara laki-laki, bepergian ke daerah endemis tinggi tanpa imunisasi. Di Indonesia, prevalensi di Jakarta, Bandung, dan Makassar berkisar 35-45 persen pada usia 5 tahun, dan mencapai lebih dari 90 %   pada usia 30 tahun.

Di Papua pada umur 5 tahun prevalensi anti HAV mencapai hampir 100 % . Di Aceh, berdasarkan data dari RSUD dr Zainoel Abidin ditemukan 27 kasus dalam 2 tahun terakhir, dengan rata-rata adalah remaja yang berasal dari sekolah asrama/pesantren, dan data ini mungkin belum menggambarkan seluruh siswa yang tertular karena dari amatan penulis tidak semua pasien dengan keluhan yang sama dibawa berobat ke rumah sakit. Kurangnya perilaku hidup bersih dan sehat di kalangan siswa menjadikan siswa rentan terhadap infeksi HAV, dan siswa yang tinggal di asrama yang paling berisiko tinggi untuk tertular infeksi HAV.

Hepatitis A merupakan penyakit self limiting disease (dapat sembuh sendiri) dan memberikan kekebalan seumur hidup. Masa inkubasi (masa dimulai dari masuknya virus ke tubuh hingga menimbulkan gejala) Hepatitis A biasanya 14-28 hari. Gejala hepatitis A berkisar dari ringan sampai berat. Meliputi demam, lemas, kehilangan nafsu makan, diare, mual, rasa tidak nyaman pada perut, urine berwarna gelap, kuning pada mata dan kulit.

Anak yang terinfeksi virus Hepatitis A, hanya 30 % yang menunjukkan gejala, sedangkan 70?alah tanpa gejala. Gejala yang dialami 80 % penderita biasanya akut dan sembuh dalam waktu 8 minggu. Namun, sebagian kecil penderita dapat meninggal karena hepatitis fulminan.

Diagnosis hepatitis A dibuat dengan mendeteksi antibodi imunoglobulin M (IgM) anti HAV dalam darah. Antibodi ini ditemukan 1-2 minggu setelah terinfeksi HAV dan bertahan dalam waktu 3-6 bulan. Tes tambahan termasuk Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) untuk mendeteksi RNA virus hepatitis A namun biayanya mahal dan memerlukan fasilitas laboratorium khusus.

Tidak ada pengobatan anti virus spesifik untuk HAV. Pemulihan dari gejala setelah infeksi mungkin memakan waktu beberapa minggu atau bulan. Pengobatan meliputi istirahat dan pencegahan penggunaan obat-obatan yang tidak perlu yang dapat mempengaruhi hati, misalnya acetaminophen, parasetamol. Rawat inap tidak diperlukan tanpa adanya gagal hati akut. Terapi ditujukan untuk menjaga kenyamanan dan keseimbangan nutrisi yang memadai, termasuk penggantian cairan yang hilang akibat muntah dan diare.

Mencegah penularan

Menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat di kalangan siswa merupakan hal yang sangat penting untuk mencegah penularan infeksi HAV. Penyebaran hepatitis A dapat dikurangi dengan persediaan air minum yang aman, penggunaan jamban yang sehat, dan praktik kebersihan pribadi seperti mencuci tangan dengan sabun secara teratur sebelum makan, dan sebelum menyiapkan makanan serta setelah pergi ke toilet. Dibutuhkan kerja sama dan tingkat kesadaran yang tinggi antara siswa, guru, dan pihak penyedia/penjual makanan dalam menjaga higienitas makanan.

WHO telah mengeluarkan standar mencuci tangan dengan baik dan benar, durasi 40-60 detik menggunakan sabun dan air mengalir merupakan cara efektif untuk membunuh mikroorganisme penyebab penyakit dan sangat mudah diaplikasikan. Yakni basahi kedua telapak tangan dengan air yang mengalir, ambil sabun kemudian usap dan gosok kedua telapak tangan secara lembut dengan gerakan memutar berlawanan arah jarum jam, usap dan gosok kedua punggung tangan secara bergantian, jangan lupa jari-jari tangan, gosok sela-sela jari hingga bersih.

Kemudian bersihkan ujung jari secara bergantian dengan mengatupkan, gosok dan putar kedua ibu jari secara bergantian, letakkan ujung jari ke telapak tangan kemudian gosok dengan gerakan memutar berlawanan arah jarum jam, bergantian tangan kanan dan kiri . Selanjutnya bilas seluruh bagian tangan dengan air bersih yang mengalir lalu keringkan memakai handuk atau tisu.

Secara umum standar ini dapat diaplikasikan pada 5 saat kritis. Yaitu:  sebelum makan,  sebelum mengolah dan menghidangkan makanan,  setelah buang air besar dan air kecil, setelah mengganti popok bayi, dan sebelum menyusui bayi. Pencegahan juga dapat dilakukan dengan pengelolaan makanan yang benar.

Seperti menjaga kebersihan, memisahkan makanan matang dan mentah, memasak makanan sampai matang suhu di atas 85°C , menyimpan makanan di lemari pendingin, makanan tidak dibiarkan terlalu lama disuhu ruangan, mencuci alat saji dengan menggunakan sabun dan air mengalir.

Tindakan pencegahan lain yang dapat dilakukan adalah dengan imunisasi. Imunisasi dibagi menjadi 2, yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Imunisasi pasif berupa pemberian Imunoglobulin atau antibodi dari luar. Tindakan ini dapat memberikan perlindungan segera tetapi bersifat sementara. Imunoglobulin diberikan segera setelah kontak atau untuk pencegahan sebelum kontak.

Efek proteksi dapat dicapai bila Imunoglobulin diberikan dalam waktu 2 minggu setelah terpajan. Imunisasi aktif ialah pemberian vaksin hepatitis A yang telah dilemahkan, diberikan sebelum terpajan, dalam 2 dosis pada umur 12-15 bulan dan 18-24 bulan. Keuntungan dari imunisasi aktif/Vaksin VHA ini adalah efektivitas tinggi (angka proteksi 94-100 % ), efek proteksi terbentuk dalam 1 bulan setelah pemberian dosis awal pada 90-100 % individu dan hampir semua individu mencapai antibodi protektif satu bulan setelah pemberian dosis kedua.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved