Opini
Banda Aceh 821 Tahun: Kota Masa Depan
TEPAT pada tanggal 22 April 2026, Banda Aceh genap berusia 821 tahun. Sebuah usia yang sangat panjang bagi sebuah kota,
Dr Musriadi MPd, Wakil Ketua DPRK Banda Aceh dan dosen Pascasarjana Universitas Serambi Mekkah
TEPAT pada tanggal 22 April 2026, Banda Aceh genap berusia 821 tahun. Sebuah usia yang sangat panjang bagi sebuah kota, sekaligus menyimpan lapisan memori yang kaya, tentang kegemilangan peradaban, dinamika sosial, hingga berbagai peristiwa pahit yang pernah dilalui masyarakatnya. Kota tua ini didirikan oleh Sultan Johan Syah pada tahun 1205 dan sejak saat itu berkembang menjadi pusat kekuasaan, perdagangan, keilmuan, dan kebudayaan di kawasan Asia Tenggara.Usia yang panjang tersebut tidak hanya menjadi penanda kronologis perjalanan sebuah kota. Ia juga menjadi cermin bagi masyarakatnya untuk melakukan refleksi. Kota tua seperti Banda Aceh bukan sekadar ruang geografis, melainkan ruang pembelajaran kolektif bagi generasi selanjutnya. Membaca sejarah Banda Aceh berarti menyadari bahwa kota ini pernah berdiri dengan kemegahan yang luar biasa. Karena itu, terlalu sempit rasanya jika generasi hari ini tidak mengambil peran dalam merawat dan mengembangkan kota ini.
Sebagai kota tua yang kini berusia 821 tahun, Banda Aceh memiliki kekayaan identitas yang terbentuk melalui perjalanan sejarahnya. Kota ini bukan hanya tempat tinggal masyarakatnya, tetapi juga ruang dimana berbagai kepentingan, ekonomi, agama, dan kekuasaan bertemu dalam interaksi masyarakatnya.
Refleksi kota tua
Dalam berbagai catatan sejarah, Banda Aceh sebagai kota tua pernah menjadi pusat peradaban yang memadukan apa yang sering disebut dalam historiografi sebagai gold, glory, dan gospel, yakni kekayaan ekonomi, kejayaan politik, dan pengaruh agama, saling membentuk karakter masyarakatnya. Jika menengok kembali sumber-sumber sejarah dan perkembangan sosial kota ini, setidaknya terdapat beberapa identitas utama yang melekat pada Banda Aceh.
Pertama, Banda Aceh dikenal sebagai kota dagang. Letak geografisnya yang strategis di ujung barat Nusantara dan berdekatan dengan jalur pelayaran internasional di Selat Malaka menjadikan kota ini sebagai salah satu simpul perdagangan penting pada masa lalu. Sejak masa kesultanan, pelabuhan di wilayah ini didatangi oleh pedagang dari berbagai penjuru dunia, Arab, India, Tiongkok, hingga Eropa. Aktivitas perdagangan tersebut tidak hanya membawa komoditas ekonomi, tetapi juga pertukaran budaya, gagasan, dan jaringan intelektual.
Potensi historis ini sebenarnya dapat direkonstruksi kembali dalam konteks kekinian. Keberadaan Pelabuhan Ulee Lheue dapat dikembangkan sebagai pintu gerbang pelayaran perdagangan dan pariwisata yang menghubungkan Banda Aceh dengan India, Timur Tengah, Tiongkok, maupun wilayah lain di Indonesia. Upaya ini tentu memerlukan kolaborasi antara pemerintah, kalangan teknokrat, dan masyarakat dalam merancang strategi pembangunan ekonomi maritim yang berkelanjutan.
Kedua, Banda Aceh juga dikenal sebagai kota toleransi dalam konteks sosial dan sejarahnya. Hal ini dapat dilihat dari keberadaan berbagai rumah ibadah yang berdiri relatif berdekatan di kawasan Peunayong dan sekitarnya. Di wilayah ini terdapat masjid, meunasah, musala, gereja Protestan, gereja Katolik, kuil, serta klenteng yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan kota.
Kehadiran ruang-ruang ibadah tersebut mencerminkan dinamika sosial metropolitan, yang memungkinkan berbagai komunitas hidup berdampingan dalam kehidupan kota. Kawasan Peunayong sendiri memiliki nilai historis dan kultural yang sangat penting. Revitalisasi kawasan ini sebagai pusat wisata budaya dan toleransi dapat menjadi langkah strategis dalam memperkuat identitas Banda Aceh sebagai kota yang inklusif dalam perspektif Aceh modern.
Ketiga, Banda Aceh adalah kota sejarah. Banyak jejak peradaban masa lalu yang masih dapat ditemukan hingga hari ini, baik berupa situs fisik maupun warisan budaya nonfisik. Rumah ibadah bersejarah, makam ulama, benteng pertahanan, hingga berbagai artefak kebudayaan menjadi bukti bahwa kota ini pernah menjadi pusat peradaban yang penting di kawasan Nusantara.
Warisan sejarah tersebut merupakan pusaka yang tidak ternilai bagi generasi masa depan. Ruang belajar bagi generasi muda Banda Aceh. Oleh karena itu, perawatan situs-situs sejarah serta pengembangan program berbasis wisata sejarah perlu mendapat perhatian yang lebih serius. Jika dikelola dengan baik, Banda Aceh berpotensi menjadi kota wisata sejarah seperti George Town, yang mampu menjadikan warisan masa lalu sebagai kekuatan ekonomi dan identitas budaya kota.
Keempat, Banda Aceh juga dikenal sebagai kota pendidikan. Dalam sejarahnya, kota ini pernah menjadi pusat studi Islam yang didatangi oleh ulama dan pelajar dari berbagai wilayah dunia. Tokoh ulama besar seperti Nuruddin ar-Raniri pernah berkarya di sini dan memberikan kontribusi penting dalam perkembangan pemikiran Islam di kawasan Melayu. Tradisi keilmuan tersebut menjadi fondasi penting bagi pengembangan Banda Aceh sebagai kota pelajar. Keberadaan berbagai perguruan tinggi dan lembaga pendidikan di kota ini, seharusnya mampu memperkuat peran Banda Aceh sebagai pusat intelektual yang melahirkan gagasan-gagasan baru bagi pembangunan Aceh.
Masa depan kota
Masa depan Aceh, dalam banyak hal, sangat berkaitan dengan bagaimana Banda Aceh membangun dirinya sebagai ibu kota provinsi dan pusat aktivitas sosial politik, ekonomi, serta pendidikan. Di era global dan post-modern saat ini, pembangunan kota tidak lagi hanya bertumpu pada infrastruktur fisik semata, tetapi juga pada kemampuan membangun jejaring, kolaborasi, dan perencanaan jangka panjang yang berkelanjutan.
Kota Banda Aceh memiliki modal sejarah dan kultural yang sangat besar untuk berkembang. Modal tersebut harus dikelola dengan SDM birokrasi handal, meritokrasi dan visi yang jelas melalui perencanaan pembangunan kota yang komprehensif. Grand design pembangunan kota yang berorientasi pada keberlanjutan menjadi penting bagi kemajuan Banda Aceh di masa depan. Namun pembangunan kota tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik dan ekonomi. Pembangunan jiwa dan spiritual masyarakat juga harus menjadi perhatian yang serius. Fenomena sosial seperti maraknya praktik prostitusi online, merupakan tantangan yang perlu dihadapi secara bersama.
Dalam catatan sejarah, fenomena serupa pernah terjadi pada masa lampau. Dalam bukunya, Yunus Jamil menyebutkan adanya kawasan yang dikenal sebagai Kampong Bidook atau Kampung Biduen yang pada masa tertentu menjadi tempat aktivitas pelacuran. Catatan tersebut menjadi pengingat bahwa dinamika sosial kota selalu mengalami perubahan dan memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak. Karena itu, pembangunan Banda Aceh harus dilakukan secara holistic, tidak hanya memperkuat aspek ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga menjaga nilai-nilai moral dan spiritual masyarakatnya.
Tanggung jawab kolektif
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dr-musriadi-mpd.jpg)