Kamis, 16 April 2026

Kupi Beungoh

SBY dan Aceh: Tentang Kepribadian Tenang, Damai, dan Tegas I

Pak SBY mengundang makan malam delegasi Aceh-pemerintah Daerah dan komponen masyarakat sipil

Editor: Muhammad Hadi
FOR SERAMBINEWS.COM
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ahmad Humam Hamid (kanan), Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

Hari Ini, 25 Desember 2023, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tiba di Aceh dalam rangka peringatan 19 tahun Tsunami.

Ia adalah presiden RI yang kunjungannya ke Aceh mencapai rekor tertinggi, baik sebelum, selama, dan sesudah menjabat presiden RI.

Ia sangat pantas, dan memang telah mendapat tempat yang sangat khusus dihati rakyat Aceh.

Tidak hanya manusia, mungkin rumput Aceh, dan berbagai makhluk lainnya juga akan sangat berterima kasih kepadanya.

Damai dari konflik dan damai dari “mega bencana” Tsunami adalah dua hadiah terbesar SBY untuk rakyat Aceh, dan itu adalah tinta emas yang akan berpeluang besar abadi dalam sejarah kelak.

Sebagai salah satu anak bangsa yang hidup dan bergelimang dengan kedua bencana Aceh, ada beberapa cerita kecil tentang SBY, baik dari pengalaman, pengamatan, maupun bacaan yang pernah saya jalani.

Baca juga: Air Mata SBY tak Terbendung saat Ziarah di Kuburan Massal Siron Aceh Besar

Hari ini, sekalipun beliau sudah sepuh, 74 tahun, SBY masih sangat cinta dan ingat dengan Aceh. Ada secuil catatan yang saya ingin berbagi dengan pembaca tentang sosok presiden ke-6 RI itu.

Hari Kamis, 3 Desember 2002, 27 Ramadhan 1243, jam 3 : 30 waktu Tokyo, Allayarham Imam Suja’ salah seorang perwakilan masyarakat sipil yang mengikuti Konferensi Perdamaian Tokyo, memberitahu saya dan beberapa teman sebuah kabar.

Pak SBY mengundang makan malam delegasi Aceh-pemerintah Daerah dan komponen masyarakat sipil.

Komponen masyarakat sipil yang hadir pada Konferensi itu, disamping mendiang Imam Suja’, ada Saifuddin Banta Syam, Syarifah Rahmatillah, mendiang Dr. Musfiari Haridhi, dan saya sendiri.

Niat pak SBY menurut Imam Suja’ melalui makan malam di salah satu Restoran Indonesia di Tokyo itu sangat sederhana tetapi berarti.

Ia ingin agar suasana agak sedikit “panas” dalam sidang sesi pertama antara delegasi masyarakat sipil Aceh dengan pemerintah daerah yang dipimpin oleh Gubernur Aceh, Abdullah Puteh mereda dan hilang.

Pasalnya sangat sederhana, salah seorang dari anggota delegasi masyarakat sipil dalam sidang pagi hari itu, mengingatkan kelompok negara donor yang siap menggelontorkan dana untuk perdámaian dan pembangunan Aceh untuk awas dan hati-hati.

Yang disorot adalah kemungkinan penggunaan dana bantuan itu untuk pembangunan jalan Ladia-Galaska yang sedang didengungkan oleh Gubernur Puteh.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved