Konflik Palestina vs Israel

Hamas Tolak Usulan Israel untuk Gencatan Senjata 2 Bulan, Sebut Penipuan

Gerakan Perlawanan Islam atau Hamas menolak usulan Israel untuk membebaskan sandera untuk Gencatan Senjata selama 2 bulan di Gaza.

Editor: Faisal Zamzami
AFP/MOHAMMED ABED
(FILE) - Anggota brigade Ezzedine al-Qassam, sayap bersenjata Hamas, membawa senjata mereka saat merayakan gencatan senjata antara Gaza dan Israel mulai berlaku, di kamp pengungsi Nusseirat di pusat Jalur Gaza. Brigade Ezzedine al-Qassam Siap hadapi IDF di Perang Darat (MOHAMMED ABED / AFP) 

SERAMBINEWS.COM - Gerakan Perlawanan Islam atau Hamas menolak usulan Israel untuk membebaskan sandera untuk Gencatan Senjata selama 2 bulan di Gaza.

Kesepakatan yang tampak terdengar mendamaikan adalah ada jeda pertempuran atau gencatan selama 60 hari dan ribuan warga Palestina yang dipenjara sebagai imbalan atas sandera yang tersisa.

Kesepakatan yang didukung Israel yang mencakup gencatan senjata selama dua bulan dan pembebasan semua sandera yang ditahan di Gaza untuk ribuan warga Palestina di penjara-penjara Israel ditolak oleh Hamas pada hari Selasa, menurut laporan media Israel.

Hamas mengatakan pihaknya tidak akan menyetujui gencatan senjata yang cuma sementara, ataupun menyingkirkannya dalam kepemimpinannya dari Gaza, dan keinginan Israel untuk pengasingan mereka di negara lain.


Israel mengatakan bahwa gencatan senjata apa pun yang terjadi harus melemahkan Hamas dan memastikan bahwa Hamas tidak lagi menguasai Gaza dan dapat mengancam Israel.

“Ini adalah penipuan, kami tidak akan menerima metode ini. Kami menuntut diakhirinya perang,” kata juru bicara Hamas menurut outlet berita Israel Yediot Ahranot.

Seorang juru bicara Israel mengatakan pemerintah belum menerima jawaban negatif tersebut dari Hamas.

“Kami tidak akan menerima perjanjian yang membiarkan Hamas berkuasa – atau menjadi sandera di Jalur Gaza,” kata juru bicara Israel Eylon Levy.

 
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, yang menjadi perantara perjanjian sebelumnya antara Israel dan Hamas, mengaku masih optimistis kesepakatan baru akan tercapai.

"Kami terlibat dalam diskusi serius dengan kedua belah pihak. Kami telah menyampaikan ide-ide kepada kedua belah pihak. Kami mendapatkan aliran balasan yang terus-menerus dari kedua belah pihak, dan hal itu merupakan alasan untuk optimis," kata Majed al-Ansari, juru bicara Qatar.

“Ada beberapa gagasan yang belum bisa kami ungkapkan,” imbuhnya.

 

Baca juga: VIDEO Al Quds Bajak Drone Israel, Curi Data Rahasia dan Menyebarkannya

 

Hamas Masih Kuat dan Menang Lagi, Kini Giliran Israel Tawarkan Jeda Perang Dua Bulan

 

Israel dilaporkan telah mengajukan proposal melalui mediator Qatar dan Mesir terkait jeda perang Gaza melawan milisi pembebasan Palestina, Hamas dan gerakan lainnya.

Proposal yang diajukan Israel itu berisi persetujuan penghentian sementara pertempuran di Gaza selama dua bulan, dengan imbalan pembebasan bertahap 136 sandera Israel tersisa di Gaza yang masih berada di tangan Hamas.

Usulan tersebut tidak mengindahkan permintaan Hamas agar Israel mengakhiri perang sepenuhnya.

 

"Namun tampaknya melangkah lebih jauh dari tawaran Israel sebelumnya," menurut situs berita Axios, yang mengutip dua pejabat Israel.

Tawaran tersebut dipublikasikan ketika utusan Gedung Putih untuk Timur Tengah, Brett McGurk berada di wilayah tersebut untuk melakukan pertemuan dengan rekan-rekan Mesir dan Qatar yang bertujuan untuk membahas kemajuan kesepakatan penyanderaan, kata seorang pejabat AS kepada The Times of Israel.

"Israel sekarang menunggu tanggapan Hamas terhadap proposal baru tersebut dan sangat optimis mengenai peluang kemajuan dalam beberapa hari mendatang," kata para pejabat Israel kepada Axios.

 

Hamas Menang Lagi

Sejumlah pakar dan analis militer sebelumnya mengatakan kalau Israel memang gagal mencapai tujuan perangnya di Gaza dalam hampir empat bulan membombardir kantung wilayah Palestina tersebut.

Tujuan perang yang ditetapkan Israel adalah membebaskan sandera warga negara mereka yang ditahan di Gaza, serta memberangus Hamas.

 
Sejauh ini, alih-alih mencapai target, Israel justru didera perpecahan kabinet dengan bumbu tekanan atas pembebasan sandera secara segera, krisis multiaspek dari keuangan hingga kesehatan mental masyarat, plus kerenggangan hubungan dengan sekutu abadi mereka, Amerika Serikat (AS) perihal rencana pasca-perang atas Gaza.

Ajuan Israel ini menandakan kalau Hamas kembali menang setelah pada akhir November lalu memaksa pendudukan untuk menyetujui jeda pertempuran selama tujuh hari demi pembebasan sandera Israel dan pelepasan ratusan tahanan Palestina.

Adapun proposal terbaru Israel yang dilaporkan Axios, disebutkan akan meminta Hamas membebaskan anak-anak, perempuan, laki-laki yang berusia di atas 60 tahun dan tawanan yang sakit kritis dalam tahap pertama.

Tahap selanjutnya adalah tentara perempuan dan laki-laki di bawah usia 60 tahun yang bukan tentara, diikuti dengan pembuatan tentara dan jenazah sandera.

Tawaran Israel menyatakan, Israel dan Hamas akan menyepakati terlebih dahulu mengenai berapa banyak tahanan keamanan yang akan dibebaskan oleh Israel di setiap tahap sebelum mengadakan negosiasi terpisah mengenai nama-nama tahanan Palestina.

Tawaran tersebut juga akan mencakup penarikan pasukan Israel dari pusat-pusat populasi utama di Gaza dan kembalinya warga Palestina secara bertahap ke Jalur utara, dimana mereka diperintahkan untuk mengungsi.

Baca juga: Hamas Bongkar Enam Kebohongan Israel, Ungkap Tuduhan Palsu soal Serangan 7 Oktober

Tak Mau Penghentian Total Perang

Tawaran tersebut menetapkan bahwa Israel tidak akan setuju untuk mengakhiri perang sepenuhnya, atau membebaskan 6.000 tahanan keamanan Palestina, namun para pejabat Israel mengatakan kepada Axios bahwa mereka bersedia membebaskan sejumlah besar orang.

"Jika diterapkan, cakupan operasi tentara Israel di Gaza akan jauh lebih kecil setelah jeda berakhir," kata Axios.

Tawaran tersebut relatif serupa dengan tawaran yang dilaporkan telah diajukan sejak gencatan senjata tujuh hari berakhir hampir dua bulan lalu.

Hamas menegaskan bahwa mereka tidak akan setuju untuk melepaskan tawanan kecuali pertempuran di Gaza berhenti sepenuhnya.

 

Intelijen AS: Pejuang Hamas Beradaptasi, Masih Sanggup Serang Israel Berbulan-bulan

Brigade Al-Qassam, sayap militer gerakan pembebasan Palestina, Hamas dilaporkan hanya kehilangan sekitar 20 hingga 30 persen kekuatan tempurnya selama perang Gaza melawan Israel yang kini sudah berlangsung hampir empat bulan sejak 7 Oktober 2023 silam.

Analisis kekuatan Hamas itu dilontarkan intelijen AS yang dikutip oleh Wall Street Journal (WSJ).

"Jumlah korban Brigade Al Qassam tersebut sejauh ini masih jauh dari tujuan Israel untuk menghancurkan kelompok tersebut dan menunjukkan ketangguhannya setelah perang berbulan-bulan yang telah menghancurkan sebagian besar Jalur Gaza,” tulis outlet berita tersebut pada tanggal 21 Januari.


Menurut perkiraan intelijen AS, kelompok perlawanan Gaza masih memiliki cukup amunisi untuk terus meluncurkan roket ke Israel dan mempertahankan operasinya melawan pasukan Israel di Gaza selama beberapa bulan.

Satu di antara kunci dari bertahannya milisi Hamas dari bombardemen Israel adalah kemampuan beradaptasi dalam beragam hal, termasuk strategi perang.

“Pejuang kelompok ini telah menyesuaikan taktik mereka, beroperasi dalam kelompok yang lebih kecil dan bersembunyi di antara penyergapan terhadap pasukan Israel, sementara pejuang individu kemungkinan akan mengambil lebih banyak tugas untuk mengisi kekosongan dari rekan-rekan mereka yang tewas,” WSJ mengutip analis militer yang mengatakan.

 

Penarikan Pasukan IDF Adalah Kesalahan

Israel baru-baru ini mengurangi operasi darat di Jalur Gaza atas tekanan AS, dengan menarik sebagian pasukannya dari Gaza.

Pada hari Senin, tentara Israel menarik Unit 36 dari Jalur Gaza. Divisi ke-36 beroperasi di lingkungan Al-Zaytoun, Al-Shati, Shujaiya, dan Al-Rimal di Kota Gaza, di utara.

“Pengurangan intensitas dan aktivitas [tentara Israel] di Jalur Gaza dan penarikan pasukan [di Gaza] adalah sebuah kesalahan,” kata Menteri Israel Gideon Saar pada 16 Januari.

“Kita perlu memutuskan untuk meningkatkan tekanan terhadap Hamas. Kita juga perlu memutuskan bahwa perubahan pada situasi pertempuran didasarkan pada kemajuan dan pencapaian tujuan, bukan pada jadwal.”

Para pejabat militer Israel sebelumnya sempat sesumbar bahwa kehadiran Hamas di Gaza utara telah dibubarkan.

Namun, kelompok tersebut terus menghadapi tentara Israel di beberapa wilayah utara, sehingga sering melakukan penyergapan.

Roket juga terus terbang keluar dari utara Gaza, menargetkan permukiman dan Kibbutzim di sekitar Jalur Gaza. Hal ini terlepas dari kenyataan bahwa Israel terus-menerus mengklaim menargetkan infrastruktur militer Hamas.

“Dugaan pencapaian yang diumumkan musuh… merupakan ejekan bagi kami… akan tiba saatnya kami membuktikan klaim tersebut salah,” kata juru bicara Brigade Qassam Abu Obeida pada 14 Januari.

Pasukan Israel juga menghadapi perlawanan sengit di selatan Gaza, tempat operasi militer kini terfokus. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada 16 Januari kalau perang dapat berlangsung hingga tahun 2025.

Tel Aviv telah meningkatkan pemboman tanpa pandang bulu di beberapa wilayah Jalur Gaza, yang paling menonjol di kota selatan Khan Yunis.

Lusinan orang tewas dalam 24 jam terakhir ketika “pasukan Israel menargetkan rumah sakit, ambulans, dan sekolah tempat ribuan warga sipil berlindung,” lapor Al-Jazeera.

 

Baca juga: TNI AU Bunuh Pemilik Warung di Medan, Pratu Richal Divonis 1 Tahun 6 Bulan Penjara dan Tidak Dipecat

Baca juga: Kemendagri Apresiasi Kinerja Pj Bupati Aceh Singkil

Baca juga: Kasus Ibu Siksa Anak Kandung di Surabaya, Kesaksian Tetangga: Hampir Tiap Hari Dengar Tangisan

 

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Hamas Tolak Usulan Israel untuk Gencatan Senjata 2 Bulan, Hamas: Ini Tipuan, Kami Ingin Setop Perang

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved