Citizen Reporter
Berlibur ke Salah Satu Wilayah Terdingin di Tiongkok
Saya berangkat dari Kota Chengdu dengan suhu 1℃. Selama di bandar udara (bandara) dan di pesawat saya membuka jaket tebal saya, karena rasanya dingin
PUTRI KEUMALA RIZKI RANI, mahasiswi asal Aceh, kuliah di Chengdu, Cina, melaporkan dari Harbin, Tiongkok
Harbin, merupakan ibu kota Provinsi Heilongjiang yang terletak di bagian paling utara Tiongkok dan berbatasan langsung dengan negara Rusia. Karena terletak di bagian utara, provinsi ini mempunyai cuaca yang ekstrem, khususnya pada musim dingin, sehingga dijuluki dengan ‘kota es’. Inilah salah satu alasan saya memutuskan untuk berlibur ke kota ini dengan tujuan ingin merasakan pengalaman baru dan melihat indahnya Kota Harbin yang diselimuti salju.
Saya berangkat dari Kota Chengdu dengan suhu 1℃. Selama di bandar udara (bandara) dan di pesawat saya membuka jaket tebal saya, karena rasanya dinginnya masih bisa ditoleransi. Namun, ketika saya tiba di Harbin, dan tepatnya setelah keluar dari bandara, angin dingin langsung berembus dengan kuat, membuat saya segera merekatkan jaket tebal saya, dan ketika saya melihat handphone suhu sekitar menunjukkan -18 ℃. Namun, sebagai orang yang lumayan suka dingin, saya masih menikmatinya sambil sesekali mengembus-embuskan napas agar mengeluarkan asap dari mulut, biarpun sebagian wajah terus saya tutup-tutupi dengan syal karena dinginnya cuaca yang terasa menusuk ke wajah.
Ketika perjalanan dari bandara menuju hotel, saya terus melihat ke arah kaca mobil menikmati pemandangan sekitar yang diselimuti salju putih tebal. Salju tersebut menutupi atap rumah warga, taman, dan pepohonan.
Tiba-tiba salju sedikit demi sedikit turun dengan indahnya, seakan menyambut saya dan teman yang baru tiba di Kota Harbin dan membuat perjalanan dari bandara menuju hotel semakin berkesan.
Saat malam hari, saya dan teman menikmati kota dengan berjalan-jalan di salah satu tempat yang
terkenal dengan streetfood-nya di Kota Harbin. Di sepanjang jalan ini banyak ditemukan toko-toko ‘bakery’ dan oleh-oleh dari Rusia. Ini karena, letak geografisnya yang sangat dekat dengan Rusia dan mengakibatkan banyaknya pendatang serta pengaruh dari Rusia. Bisa dilihat dari banyaknya toko ‘bakery’ yang berbahasa Rusia dan produk-produk Rusia yang dijual.
Kemudian, jika dilihat dari pamflet di jalanan, khususnya di tempat turis, banyak pamflet yang berbahasa Mandarin, Inggris, dan Rusia.
Pengaruh Rusia di Kota Harbin juga dapat dilihat dari banyaknya gereja Ortodoks yang tersebar
di kota ini. Juga terlihat sedikit banyak orang asing yang berasal dari Rusia, ini dapat diketahui saat mendengar sesama mereka berbicara menggunakan bahasa Rusia.
Matahari terbenam di Kota Harbin pada musim dingin sekitar pukul 16.30, karena letaknya di bagian utara dan ketika musim dingin menyebabkan malam hari lebih panjang dibandingkan siang hari. Suhu Kota Harbin pada malam hari rata-rata -21 sampai -25 ℃ .
Saya juga mengunjungi Harbin Ice and Snow World (哈尔滨冰雪大世界), yang semua wahana dan istana-istananya terbuat dari es. Tempat ini sangat terkenal di Tiongkok karena merupakan tempat hiburan musim dingin dan hanya ada kurang lebih sekitar tiga bulan per tahunnya. Jadi, setiap tahun akan terus dibangun baru. Tempat ini merupakan wahana hiburan musim dingin yang ditunggu-tunggu oleh warga Tiongkok sendiri dan tentunya orang luar negeri yang berlibur.
Saya berada di sana dari siang hingga malam hari. Ketika siang kita bisa melihat istana-istana dan wahana yang tebuat dari balok es dengan jelas dan dibentuk sedemikian rupa, bahkan ada patung es yang dipahat dengan cantiknya.
DI tempat ini juga ada wahana permainan seperti ‘ice sliding’, ski, dan komedi putar. Tapi karena banyaknya pengunjung yang ingin mencobanya, di setiap wahana kita harus antre masuk yang sangat panjang di tengah cuaca yang sangat dingin.
Saat saya menaiki wahana komedi putar, saya menghabiskan waktu 1,5 jam untuk mengantre. Namun, karena lumayan cepat pergerakannya jadi tidak begitu terasa.
Akan tetapi, ketika saya menaiki ‘ice sliding’, saya harus mengantre selama tiga jam di Tengah subu -24 ℃. Pada jam-jam pertama saya dan teman saya terus berbicara dan menggerak-gerakkan kaki agar tidak kedinginan. Kemudian, setelah 1,5 jam mengantre tiba-tiba teman saya berkata bahwa dia akan menyerah dan menunggu saya di salah satu tempat makan yang berada di sana. Karena saya sangat ingin sekali menaiki wahana itu dan sudah telanjur antre 1,5 jam yang artinya sudah setengah jalan, saya putuskan untuk tetap melanjutkan antre walaupun kaki sudah terasa sangat dingin.
Kemudian, ada seorang bapak yang mengajak saya ngobrol dan bertanya dari mana saya berasal. Setelah itu saya dan bapak itu mengantre sambil mengobrol, dengan pembahasan Indonesia dan budaya Tiongkok-Indonesia. Bahkan bapak tersebut tahu bahwa Indonesia akan mengadakan pemilihan umum presiden pada 14 Februari 2024.
Kemudian saya juga berbicara dengan orang yang mengantre di depan saya. Ia seorang mahasiswa lokal Cina yang berasal dari Kota Shanghai, juga sedang berlibur ke Harbin. Kami membahas bagaimana sistem perkuliahan di kampus masing-masing. Dan karena itu, setidaknya saya tidak mengantre di cuaca dingin dalam keadaan membosankan, karena saya punya teman untuk mengobrol.
Setelah genap tiga jam mengantre, giliran saya menaiki wahana ‘ice sliding’, wahana yang sangat ingin saya naiki dan membuat saya antre di tengah cuaca yang sedingin ini.
Ketika saya menaiki ‘ice sliding’ ini ternyata sangat licin sehigga membuat saya meluncur begitu cepat. Saya meluncur selama satu menit dan itu membuat saya sangat puas dan sangat menikmatinya. Pada saat saya menaiki wahana ini suhu setempat menunjukkan -25 ℃ dan sudah malam hari.
Pada malam hari, lampu-lampu menyala dari istana-istana es dan menampilkan banyak warna yang mengagumkan.
Hari-hari berikutnya, kami terus menikmati dinginnya kota ini dan salju yang turun di Kota Harbin dengan berjalan-jalan dan mengunjugi berbagai tempat. Misalnya, mengunjungi salah satu sungai yang sudah membeku karena musim dingin dan dijadikan warga lokal sebagai sarana bermain dan berfoto-foto. Sungai ini sudah dipenuhi es serta salju yang membuat orang dari berbagai lapis usia menikmatinya.
Saya juga mengunjungi wahana bermain salju lainnya serta berjalan-jalan menikmati kota yang sedang diselimuti salju. Saya sangat menikmati waktu yang saya habiskan di kota dingin ini, sebagai orang yang lumayan menikmati cuaca dingin. Cuaca dingin ekstrem di sini menambah pengalaman
baru bagi saya untuk merasakan dinginnya Kota Harbin.
Selama saya di sini, suhu yang paling dingin saya rasakan adalah -26 ℃. Saya juga bertanya pada sopir taksi yang merupakan warga lokal Kota Harbin bagaimana keadaan kota ini saat musim panas. Ia berkata, pada saat musim panas cuaca di Kota Harbin sekitar 22 sampai 28 ℃, sesekali mencapai 30 ℃, tapi itu sangat jarang terjadi.
Demikianlah, petualangan saya di Kota Harbin yang superdingin. < putrikeumalarizkirani@gmail.com>
Citizen Reporter
Penulis Citizen Reporter
Penulis CR
Berlibur ke Salah Satu Wilayah Terdingin di Tiongk
luar negeri
PUTRI KEUMALA RIZKI RANI
Tiongkok
| Student Exchange Ke Brunei: Melihat Langsung Negara yang Religius, Tertib, dan Lestarikan Hutan |
|
|---|
| Rahasia di Balik Kemajuan dan Keteraturan Singapura |
|
|---|
| Indonesia Kaya SDA, Tapi Mengapa Rakyat Miskin dan Bodoh? |
|
|---|
| Student Exchange UIN Ar-Raniry Kunjungi Masjid Jame' Asr Hassanil Bolkiah, Brunei Darussalam |
|
|---|
| Jemput Ilmu dan Jaringan Internasional: 13 Mahasiswa UIN Ar-Raniry Terbang ke Brunei Darussalam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/PUTRI-KEUMALA-RIZKI-RANI-OKE-LAGI.jpg)