Jurnalisme Warga
Kesan Mengikuti Leadership Camp 2024 di Baitul Arqam
Acara Leadership Camp 2024 ini dibuka oleh Kak Maulana Hamzah dari Kwartir Cabang Aceh Besar pada 20 Februari 2024.
KINANATI PUSPANAGARI, Siswi kelas VIII Pesantren Baitul Arqam, melaporkan dari Sibreh, Aceh Besar
Pada tanggal 20–22 Februari 2024, Pramuka dari Kwartir Cabang (Kwarcab) Aceh Besar berkolaborasi dengan Hizbul Wathan (HW) mengadakan acara Leadership Camp atau Kemah Kepemimpinan 2024 di Dayah Pesantren Baitul Arqam Muhammadiyah, Aceh Besar.
Acara kolaborasi ini juga menghadirkan para peserta dari sekolah Muhammadiyah di seputaran area Banda Aceh dan Aceh Besar. Pesertanya berasal dari sekolah Muhammadiyah, yaitu SMK Muhammadiyah Banda Aceh, SMA Muhammadiyah Banda Aceh, SMP Muhammadiyah Banda Aceh, dan tentu saja tuan rumah, Pesantren Baitul Arqam, sekolah saya sendiri.
Leadership Camp ini bertujuan membentuk karakter calon pemimpin yang baik mulai dari usia belia, diharapkan karakter ini akan terus menetap untuk masa yang akan datang. Karena setiap orang kelak pasti akan menjadi pemimpin, baik bagi orang lain maupun untuk dirinya sendiri. Leadership Camp 2024 ini juga bertujuan untuk mempererat silaturahmi antarsekolah Muhammadiyah di Banda Aceh dan Aceh Besar.
Acara Leadership Camp 2024 ini dibuka oleh Kak Maulana Hamzah dari Kwartir Cabang Aceh Besar pada 20 Februari 2024. Dalam pidato pembukaannya, Kak Maulana mengajak kami semua agar meneladani kepemimpinan Rasulullah saw. Kak Maulana juga menjelaskan sistem ‘reward’ yang berlaku selama kamping berlangsung.
“Setiap berbuat kebaikan silakan melapor agar mendapat bintang dalam bentuk stiker untuk ditempelkan sebanyak mungkin. Siapa yang bintangnya paling banyak, maka akan mendapatkan ‘reward’ di akhir kamping ini,” kata Kak Maulana.
Hal ini tentu saja membuat seluruh peserta Leadership Camp menjadi sangat bersemangat dan antusias. Semua peserta mengumpulkan bintang sepanjang acara, baik saat ada pemaparan materi ataupun di sela-sela waktu persiapan untuk shalat berjemaah dan rutinitas lainnya. Setiap ada waktu kosong, para peserta berbondong-bondong mengumpulkan bintang, ada yang dengan cara mengutip sampah, menyapu musala setiap akan dimulainya waktu shalat, menjadi imam, muazin, peduli pada teman yang sakit, dan setiap ada kesempatan untuk tampil ke depan, tak ada peserta yang menolak. Terlihat para peserta selalu sibuk dan tidak ada yang hanya berdiam diri menyia-nyiakan waktu dan kesempatan.
Selain mengumpulkan bintang untuk diri sendiri, Kak Maulana juga menjelaskan bahwa regu dan sangga yang tergiat juga akan diberi ‘reward’. Jadi, setiap sebelum dan setelah kegiatan, para regu dan sangga langsung buru-buru untuk melapor dan tidak ada satu pun anggotanya yang telat. Semuanya dilatih untuk disiplin, kompak, aktif, dan sikap baik lainnya yang berkaitan dengan pembentukan karakter kepemimpinan.
Materi malam pertama diisi oleh pemateri dari Hizbul Wathan, yaitu Ramanda Hizqil Apandi. Hizbul Wathan adalah gerakan kepanduan yang ada di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Panggilan untuk kakak pembinanya adalah Ramanda. Ramanda Hizqil mengisi materi tentang Kepemimpinan dan sekelumit sejarah mengenai berdirinya Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan.
Pemaparan dimulai dengan menanyakan pendapat dari para peserta tentang bagaimana dan apa itu makna dari pemimpin. Ada beragam jawaban dari peserta: Pemimpin adalah orang yang bertanggung jawab atas anggotanya, pemimpin adalah seorang teladan, pemimpin adalah orang yang memimpin dan meluruskan suatu kaum agar tidak tersesat, dan masih banyak lagi yang pada akhirnya dapat disimpulkan bahawa pemimpin adalah orang yang melakukan hal positif.
Tentu saja setelah materi diberikan, ada tanya jawab dan diskusi, para peserta sangat antusias bertanya dan menjawab pertanyaan terkait materi kepemimpinan.
Hizbul Wathan hampir sama dengan Pramuka. Hizbul Wathan juga didirikan oleh KH Ahmad Dahlan–tokoh pendiri Muhammadiyah–pada tahun 1918, tepatnya 6 tahun setelah persyarikatan Muhammadiyah didirikan. Pada masa kemerdekaan, Hizbul Wathan ini juga pernah vakum hingga bangkit kembali pada 1999. Di Aceh sendiri Hizbul Wathan mulai aktif pada tahun 2023. Hizbul Wathan memiliki arti pembela tanah air. Jenderal Sudirman, jenderal besar pertama Indonesia, juga merupakan tokoh dari Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan. Itulah sekelumit sejarah Hizbul Wathan (HW).
Selama mengikuti Leadership Camp 2024 ini, saya belajar tentang bagaimana caranya menjadi pemimpin yang baik, bertanggung jawab atas anggotanya, bisa memberi perintah yang bijaksana dengan tidak asal-asalan, bisa mengatur anggotanya, bisa membuat anggota kompak, disiplin, dan banyak hal lainnya mengenai kepemimpinan yang saya pelajari. Apalagi selama kamping, saya pun diamanahkan menjadi pimpinan regu atau pinru dari salah satu regu Penggalang Putri.
Materi lanjutan diberikan saat pagi. Kali ini Ramanda Wildan Sani Rasyid dari Hizbul Wathan memaparkan materi kepemimpinan kedua. Jika kemarin banyak tentang teori, kali ini lebih banyak praktiknya. Peserta diajak untuk bermain gim dan simulasi dengan pelajaran yang dapat dipetik, bahwa seorang anggota harus patuh pada perintah pemimpin selama tidak mengarah pada kesesatan, apabila diberi perintah yang salah maka seorang anggota berhak untuk mengingatkan dan memberi masukan bahwa itu salah.
Ramanda Wildan juga mengajak bermain simulasi membangun sebuah negara. Dari simulasi itu kami dapat menyimpulkan bahwa sebuah negara tidak akan bisa bertahan apabila tidak ada pemimpin. Namun, negara juga tidak akan bisa dibangun jika tidak ada rakyat. Maka, keduanya harus ada untuk saling melengkapi.
Siangnya masuk materi Learning by Doing atau belajar dengan praktik yang disampaikan oleh Kak Khaidir dari Pramuka Kwarcab Aceh Besar. Kak Khaidir menjelaskan tentang sikap-sikap seorang pemimpin yang bertanggung jawab atas anggotanya. Materi dimulai dengan mengingatkan peserta dengan Dasa Darma (Kode Etik Pramuka yang harus dipatuhi oleh setiap anggota Pramuka).
Materi sore kembali dilanjutkan oleh Kak Khaidir dengan gim tebak gestur dan malamnya merupakan upacara api unggun. Saya terpilih menjadi salah satu pembaca Dasadarma. Sebenarnya, saya takut tiba-tiba salah, tetapi saya sadar bahwa dalam Pramuka,juga diajarkan untuk melatih keberanian. Alhamdulillah, upacara api unggun berjalan lancar. Para peserta kemudian dipersilakan jika ingin berfoto untuk menyimpan kenangan.
Selanjutnya yang tak kalah seru adalah pentas seni. Saya bersama dengan peserta lainnya menampilkan tarian ‘ratoh jaroe’. Peserta lain ada yang menampilkan selawat nabi, pencak silat, dan bernyanyi. Pentas seni berjalan dengan sangat meriah dengan semangat peserta di malam terakhir itu.
Pagi terakhir sebelum penutupan, para peserta terlihat masih sangat sibuk mengumpulkan bintang untuk mencapai target. Termasuk saya sendiri sebagai pinru yang sangat panik karena bintang regu saya masih jauh dari target, tetapi kami tidak putus asa dan tetap berusaha semaksimal mungkin meskipun sudah sangat sedikit waktu yang kami punya.
Acara ditutup oleh Wakil Mudir Baitul Arqam, Ustaz Naufal Hidayat Lc, ME. Sesi yang paling ditunggu pun tiba, yaitu pembagian ‘reward’. Ada lima sertifikat bagi regu dan peserta tergiat. Alhamdulillah, saya mendapat ‘reward’ sebagai tergiat pertama dari Penggalang Putri dan regu saya juga tergiat pertama. Saya sebagai pinru sungguh terharu dan lega bisa memimpin regu saya hingga meraih ‘reward’ regu tergiat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/KINANATI-PUSPANAGARI.jpg)