Ramadhan 2024

Tarawih Tanpa Melakukan Shalat Sunah Ini, Rugi Besar! Buya Yahya : Jangan Sampai Dilewatkan

Banyak orang belum menyadari bahwa sebelum mengerjakan shalat tarawih, ada satu ibadah yang sangat sayang untuk dilewatkan.

Penulis: Firdha Ustin | Editor: Amirullah
SERAMBI/SYAMSUL AZMAN
Ustaz Yahya Zainul Ma'arif Jamzuri Lc MA PhD atau yang lebih dikenal Buya Yahya saat menyampaikan khotbah Jumat di Masjid Haji Keuchik Leumiek (HKL), Banda Aceh, Jumat (16/12/2022). 

Tarawih Tanpa Melakukan Shalat Sunah Ini, Rugi Besar! Buya Yahya : Jangan Sampai Dilewatkan

SERAMBINEWS.COM - Kehadiran bulan Ramadhan biasanya dimaknai oleh setiap muslim dengan melakukan berbagai amalan ibadah, salah satunya dengan menunaikan shalat tarawih.

Akan tetapi, banyak orang belum menyadari bahwa sebelum mengerjakan shalat tarawih, ada satu ibadah yang sangat sayang untuk dilewatkan.

Pendakwah Buya Yahya yang juga pendiri pondok Pesantren LPD Al Bahjah Cirebon mengatakan, ada satu amalan yang sayang untuk dilewatkan sebelum mengerjakan shalat tarawih.

Adapun amalan yang dimaksud adalah mengerjakan shalat sunah ba'diyah Isya.

Menurut Buya, shalat sunah Ba’diyah Isya merupakan bagian dari shalat sunah Rawatib lebih utama daripada langsung mengerjakan shalat Tarawih.

Baca juga: Jika Orang Tua Anda tak Mau Berpuasa, Buya Yahya Berbagi Tips Menasihatinya

"Ada orang shalat tarawih tapi tidak shalat ba'diyah Isya , itulah orang yang ambil yang kecil yang gede ditinggal," kata Buya Yahya dilansir Serambinews.com dari kanal YouTube Al Bahjah TV, Selasa (19/3/2024).

Sambung Buya, saat Ramadhan, jika shalat fardu adalah yang pertama paling tinggi nilainya, maka peringkat kedua jatuh kepada shalat sunah Ba’diyah Isya dan witir. 

"Kalau di bulan Ramadhan shalat tertinggi adalah shalat fardhu, rangking kedua adalah shalat sunah yang dikukuhkan seperti ba'diyah isya dan shalat witir," sambung Buya.

Maka Buya Menyimpulkan, bahwa shalat tarawih tidak bisa mengalahkan shalat ba'diyah isya.

"Tolong dipahami, jadi lebih besar adalah pahalanya ba'diyah isya dibanding shalat tarawihnya seperti itu," pungkas Buya Yahya. 

Baca juga: Cara Menasehati Orang Tua yang Tidak Mau Puasa, Buya Yahya : Lihat Dulu Kondisinya

DOSA BESAR! Bagaimana Jika PASUTRI Terlanjur Jimak Siang Hari Ramadhan? Simak Penjelasan Buya Yahya

Bagi pasangan suami istri atau pasutri yang sudah menikah, melakukan hubungan intim merupakan sebuah kebutuhan.

Namun perlu diingat, melakukan aktivitas ini pada siang hari Ramadhan adalah hal yang dilarang dalam Islam.

Perbuatan bersetubuh, berhubungan intim atau bersenggama di siang hari Ramadhan adalah dosa besar bagi pasangan suami istri yang melakukannya.

Lantas bagaimana jika pasutri sudah terlanjur berhubungan intim di siang hari Ramadhan?

Terkait hal tersebut, pendiri Pondok Pesantren LPD Al Bahjah, Buya Yahya menjelaskan bahwa melakukan hubungan intim, atau jimak, di siang hari bulan Ramadhan adalah dilarang secara tegas.

Hal ini tidak hanya mencakup aktivitas tersebut dengan istri, tetapi juga dengan orang lain.

Baca juga: Orangtua Boleh Bayar Zakat Fitrah Anaknya yang Sudah Bekerja, UAS & Buya Yahya Jelaskan Ketentuannya

Dalam Islam, melakukan jimak di siang hari bulan puasa adalah dosa besar.

Dalam konteks ini, Buya Yahya menegaskan bahwa jika seseorang sengaja melakukan hubungan intim dengan istri di siang hari bulan Ramadhan, mereka berada dalam pelanggaran serius terhadap aturan agama.

"Aturan ini berlaku bagi setiap orang yang berpuasa dan berada dalam keadaan sehat," kata Buya Yahya dilansir Serambinews.com dari laman Al Bahjah, Jumat (15/3/2024).

Kafarat dan Hukuman

Selanjutnya, Buya Yahya menyampaikan bahwa jika seseorang melakukan pelanggaran ini, mereka harus membayar kafarat (denda) yang ditentukan.

"Kafarat ini termasuk memerdekakan budak jika memungkinkan, atau berpuasa selama dua bulan berturut-turut.

Namun, jika seseorang tidak mampu melakukan kafarat tersebut, mereka harus memberi makan 60 fakir miskin sebagai gantinya," sambung Buya Yahya.

Pentingnya Taubat dan Istighfar

Namun, Buya Yahya menegaskan bahwa kafarat yang dikenakan oleh aturan agama ini tidak dapat dianggap enteng.

Bahkan jika seseorang membatalkan puasanya setelah melakukan pelanggaran tersebut, dosa besar tetap tercatat di hadapan Allah SWT.

Dalam penjelasannya, Buya Yahya menyoroti pentingnya taubat dan istighfar (memohon ampunan) bagi mereka yang melakukan pelanggaran tersebut.

Meskipun kafarat harus dilaksanakan sesuai ketentuan agama, penting untuk memperbaiki diri dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.

Menjaga Kehormatan Bulan Ramadan

Dalam konteks hukum agama Islam, Buya Yahya mengingatkan umat Islam untuk menjaga kehormatan bulan Ramadan dengan tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga dari segala bentuk perbuatan yang dapat merusak kesucian dan kekhususan bulan yang penuh berkah ini.

(Serambinews.com/Firdha Ustin)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved