Jumat, 22 Mei 2026

Info Singkil 

Sejarah Singkat Masjid Baiturrahim Singkil

Sebagai kenangan jika di lokasi itu pernah berdiri masjid bersejarah di Aceh Singkil, satu tiang dibiarkan berdiri. Walau telah berdiri masjid...

Tayang:
Penulis: Dede Rosadi | Editor: Nurul Hayati
SERAMBINEWS.COM/ DEDE ROSADI
asjid Baiturrahim lama di Desa Pasar, Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil. 

Sebagai kenangan jika di lokasi itu pernah berdiri masjid bersejarah di Aceh Singkil, satu tiang dibiarkan berdiri.  Walau telah berdiri masjid Baiturrahim yang baru.

Laporan Dede Rosadi I Aceh Singkil

SERAMBINEWS.COM, SINGKIL - Masjid Baiturrahim di Desa Pasar, Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil, mulanya berada di Singkil Lama. 

Sebuah kota pelabuhan di sebelah barat Singkil Baru atau New Singkil yaitu Singkil masa kini. 

Tepatnya di sekitar muara Singkil Lama, yang kini bisa terlihat dari jalan menuju Kayu Menang, pasaka jembatan Kilangan-Kayu Menang, fungsional awal 2023 lalu. 

Di Singkil Lama, Masjid Baiturrahim didirikan tahun 1256 Hijriah atau 1836 Masehi. 

Bangunan menggunakan kontruksi kayu kapur, meranti laut dengan atap daun rumbia dan ijuk.

Selain tempat shalat, masjid berfungsi sebagai tempat belajar agama Islam serta musyawarah masyarakat. 

Sayang, bandar Singkil Lama, luluh lantak akibat geloro_ semacam gempa tsunami akhir abad ke-18 atau sekitar 1883.

Sehingga tidak memungkinkan untuk terus menjadi tempat tinggal. 

Masjid Baiturrahim baru, di Desa Pasar, Kecamatan Singkil, Aceh Singkil. Letaknya dibelakang bekas masjid Baiturrahim lama.

Masjid Baiturrahim lama di Desa Pasar, Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil
 (SERAMBINEWS.COM/ DEDE ROSADI)

Baca juga: Pantai Cemara Indah Singkil Utara Pilihan Libur Idul Fitri Mendatang, Cek Harga Tiketnya di Sini

Datuk Abdurrauf sebagai pemimpin pada masa itu memutuskan pindah ke New Singkil, tepatnya di Desa Pasar, Kecamatan Singkil pada awal abad ke-19. 

Di Singkil Baru, atas prakarsa Datuk Abdurrauf, masjid Baiturrahim kembali didirikan di sebelah timur rumahnya pada tahun 1909.

Arsitektur masjid bergaya Timur Tengah berpadu Melayu Kuno dengan konstruksi bangunan dari kayu kapur, rasak, meranti, beratap seng dan lantai beton.

Ukurannya 17x17 meter sesuai kebutuhan berdasarkan jumlah umat Islam kala itu.

Masa kolonial Belanda masjid menjadi benteng pendangkalan aqidah oleh misionaris. 

Masjid juga menjadi pemberi spirit dalam melepaskan diri dari kebodohan, kemiskinan dan ketidak adilan. 

Bahkan secara diam-diam digunakan mengatur strategi melawan penjajah. 

Pada tahun 1953 pascakemerdekaan Republik Indonesia, ukuran masjid diperluas dari 17x17 meter, menjadi 20x30 meter. 

Baca juga: Respon Keluhan Warga, Pj Bupati Sidak PDAM Tirta Singkil

Masjid ini terus eksis sesuai perkembangan zaman.

Termasuk ketika tahun 1999 Aceh Singkil mekar dari Aceh Selatan, Baiturrahim didapuk jadi masjid kabupaten.

Gempa tsunami Aceh-Nias 28 Maret 2005 menyebabkan bangunan berarsitektur klasik tersebut, rusak berat. 

Di tengah kesulitan masa rekontruksi, warga sepakat merehab masjid yang rusak agar bisa dipergunakan. 

Masa rehab selesai, masjid dapat kembali digunakan.

Kendati bentuk masjid miring lantaran permukaan tanah amblas akibat gempa tsunami. 

Pada saat bersamaan direncanakan membangun masjid baru mengganti yang rusak berukuran 37x37 meter.

Posisinya di belakang masjid lama. 

Pelan namun pasti, setahap demi setahap masjid baru terus dibangun hingga aktivitas beribadah termasuk shalat Jumat, bisa dilakukan di masjid baru. 

Seiring berfungsinya masjid baru yang terlihat jauh lebih megah, masjid lama yang ada di depannya di runtuhkan. 

Langkah itu untuk menampung kebutuhan tempat parkir agar lebih luas. 

Sebagai kenangan jika di lokasi itu pernah berdiri masjid bersejarah di Aceh Singkil, satu tiang dibiarkan berdiri. 

Walau telah berdiri masjid Baiturrahim yang baru.

Namun sumber air masih tetap menggunakan sumur bor buatan zaman belanda.

Air sumur tersebut ditampung dalam bak sebagian lagi dialirkan dalam pipa untuk tempat wudu. 

Bangunan masjid Baiturrahim, boleh modern.

Namun, tetap merupakan bagian dari rangkain sejarah lahirnya Singkil masa kini. 

Pada masa depan yang mungkin harus menjadi pemikiran bersama adalah posisi sumur bor yang berada di luar pagar.

Bahkan sangat dekat dengan badan jalan.

Kondisi itu dikhawatir keberadaan sumur bersejarah tak terjaga.(*)

Baca juga: Berbagai Berkah Ramadhan, Kodim Aceh Singkil Bagi Ratusan Paket Takjil dan Gelar Pasar Murah

 
 

 
 
 
 
 
 
 

BalasTeruskan 
Tambahkan reaksi

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved