Sosok Mohammad Reza Zahedi, Jenderal Iran Tewas Dalam Serangan Israel di Suriah, Komandan Al-Quds

Al-Quds adalah unit elite dari Pasukan Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) yang melakukan operasi khusus di luar wilayah Iran.

Editor: Faisal Zamzami
AFP
Mohammad Reza Zahedi, komandan Pasukan Al Quds Iran yang tewas dalam serangan udara Israel di Damaskus, Suriah 

SERAMBINEWS.COM - SERANGAN udara yang dituding telah dilakukan Israel terhadap konsulat Iran di Suriah pada 1 April 2024 menyebabkan sedikitnya 11 orang tewas.

Satu di antara para korban adalah Brigadir Jenderal (Brigjen) Mohammad Reza Zahedi, pejabat militer berpangkat paling tinggi Iran yang terbunuh sejak pembunuhan terhadap Jenderal Qassem Suleimani pada Januari 2020 di Bagdad, Irak.

Zahedi merupakan komandan senior Pasukan Al-Quds.

Al-Quds adalah unit elite dari Pasukan Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) yang melakukan operasi khusus di luar wilayah Iran.

Unit itu dibentuk untuk melindungi dan mempromosikan kebijakan luar negeri Iran, menyediakan dukungan kepada sekutu-sekutu Iran di Timur Tengah, dan melakukan operasi rahasia.

Al Quds berperan penting dalam strategi Iran memperluas pengaruhnya di kawasan, terutama di negara-negara seperti Suriah, Irak, Lebanon, dan Yaman, melalui dukungan terhadap kelompok-kelompok sekutu seperti Hamas di Gaza, Hezbollah di Lebanon, dan Houthi di Yaman.

Zahedi selama ini memimpin unit-unit Al Quds di Lebanon dan Suriah dan kemungkinan besar merupakan tokoh penting dalam hubungan Teheran dengan Hizbullah dan Presiden Suriah, Bashar al-Assad.

Brigjen Mohammad Hadi Haji Rahimi, wakil Zahedi dan wakil koordinasi Al-Quds juga tewas dalam serangan udara tersebut, bersama dengan setidaknya lima anggota Pengawal Revolusi Iran lainnya.

Baca juga: Iran Ancam Balas Dendam, Israel Waspada Usai Bunuh 2 Jenderal Iran dan 5 Anggota IRGC di Suriah

Kematian Zahedi Berdampak Besar bagi Al Quds

Pasukan Al-Quds, yang mengandalkan jaringan orang-orang di seluruh Timur Tengah untuk beroperasi, kini menghadapi tantangan dalam operasinya.

Saeid Golkar, asisten profesor ilmu politik di Universitas Tennessee di Amerika Serikat (AS) mengatakan, kematian Zahedi merupakan “kehilangan paling signifikan bagi Pengawal Revolusi Iran sejak pembunuhan Qassem Suleimani”.

“Pengawal Revolusi Iran masih bergantung pada satu orang dan jaringan orang itu. Organisasi itu tidak bisa berjalan tanpa orang itu dan jaringannya,” kata Golkar.

“Ketika Anda menyingkirkan tokoh kunci dalam hierarki, ditambah dengan meninggalnya wakil Zahedi, hal itu memicu kekacauan institusional. Mencari seorang penerus Zahedi, khususnya di tengah krisis di Timur Tengah, kini menjadi upaya yang memakan waktu,” kata Golkar.

Zahedi, yang di kalangan prajurit Pengawal Revolusi Iran lebih dikenal sebagai Hasan Mahdavi, bergabung dengan pasukan elite militer Iran dua tahun setelah revolusi Islam tahun 1979.

Revolusi itu mengantar para pemuka agama ke tampuk kekuasaan politik.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved